BAHAN UJIAN TENGAH SEMESTER TIPOGRAFI


Tipografi merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Sejarah Tipografi

Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph.  Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Jenis Huruf

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi:

  • Roman, dengan ciri memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.
  • Egyptian, dengan ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan adalah kokoh, kuat, kekar dan stabil.
  • Sans Serif, dengan ciri tanpa sirip/serif, dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.
  • Script, merupakan goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.
  • Miscellaneous, merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

Legibility dan Keterbacaan

Legibility adalah tingkat kemudahan mata mengenali suatu tulisan tanpa harus bersusah payah. Hal ini bisa ditentukan oleh:

  1. Kerumitan desain huruf, seperti penggunaan serif, kontras stroke, dan sebagainya.
  2. Penggunaan warna
  3. Frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Keterbacaan adalah tingkat kenyamanan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh:

  1. Jenis huruf
  2. Ukuran
  3. Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya
  4. Kontras warna terhadap latar belakang

http://jurusgrafis.com/artikel/tips-membuat-tipografi-lebih-menarik-mudah-terbaca/

Tipografi merupakan unsur penting di dalam desain, karena tipografi adalah inti. Tipografi adalah salah satu elemen yang menyampaikan isi dan maksud dari sebuah karya desain. Tidak jarang, desain yang efektif adalah desain yang hanya menggunakan tipografi yang baik tanpa menggunakan elemen visual sama sekali.

Sebegitu pentingnya peran tipografi pada desain yang kita hasilkan, jadi biarpun desain visual kita “wah”, tetapi kalau tipografi nya tidak mudah di baca dan susah di mengerti, maka desain tersebut termasuk gagal. Untuk menghindari itu, berikut 6 tips dasar untuk membuat tipografi lebih menarik, nyaman dan mudah terbaca.

Kerning

Kerning adalah jarak antar huruf. Dan ini merupakan favorit saya, kalau sudah bingung bagaimana membuat judul/kalimat tertentu menjadi lebih menarik, saya biasanya mendempetkan kerning pada judul/kalimat tersebut.

Namun harap di perhatikan, jangan sampai terlalu mendempetkan kerning karena hasilnya judul/tulisan akan susah terbaca dan terasa ‘penuh’. Jadi, gunakanlah teknik ini secukupnya.

Pemakaian jenis font yang tepat dapat membantu desain menjadi lebih menyatu dan lebih cepat mengkomunikasikan maksud dari desain. Misalnya, pada desain brosur kecantikan, kita tidak mungkin menggunakan font yang ‘keras’, berbentuk kaku dan tebal. Akan lebih tepat jika kita menggunakan font yang tipis dan luwes, sesuai dengan kepribadian target market yang di tuju, yaitu wanita.

Jenis font bisa di ibaratkan jenis ’suara’ yang berbicara pada desain. Font dengan gaya tebal akan terasa seperti suara laki-laki dan bersuara berat. Font berbentuk kaku dan kotak-kotak, akan terasa seperti robot atau mesin yang berbicara, dan seterusnya. Masing-masing jenis font mempunyai jenis suara tersendiri.

Kita bisa memainkan berat (tebal tipis) dan ukuran (besar kecil) font, untuk memberikan emphasis (elemen mana yang akan di baca atau di tampilkan terlebih dahulu). Sehingga secara tidak langsung pembaca akan di tuntun sesuai dengan flow yang kita mau.

Cara ini juga untuk mencegah pembaca pusing akan bagian mana yang seharusnya di lihat terlebih dahulu. Salah urutan dalam membaca akan mengakibatkan informasi yang kita sebarkan susah di mengerti.

Leading

Leading adalah jarak spasi antara kalimat atas dan bawah dalam satu paragraf. Biasanya elemen ini jarang di utak-atik oleh kebanyakan desainer. Padahal leading yang di atur dengan baik akan membuat pembaca tidak merasa lelah jika mereka membaca suatu artikel yang panjang.

Jarak yang di hasilkan jika kita memainkan leading akan memberikan kesan ruang kosong (whitespace). Yang tentu saja membuat mata tidak cepat lelah saat melihat teks yang begitu banyak.

Warna

Warna pada font biasanya di sesuaikan dengan background. Jika background berwarna (foto) maka lebih baik menggunakan 1 warna font yang netral (putih misalnya). Yang pasti harus menghasilkan kontras yang cukup, sehingga tetap nyaman di baca dan tidak ‘menusuk’ mata.

Teman-teman desainer kebanyakan pasti menyukai warna background hitam, namun masalahnya kalau di website, kombinasi background hitam dan teks putih itu akan menghasilkan ‘efek negatif film’ pada mata saat kita selesai membaca.

Akan lebih baik jika warna background di buat tetap gelap, namun tidak hitam 100%, dan berikan warna abu-abu muda pada font. Dengan begitu maka mata tidak akan terlalu lelah dan ‘efek negatif film’ tidak akan ada lagi.

Lebar Paragraf

Hal ini sangat penting, karena sangat mempengaruhi kenyamanan membaca. Coba bayangkan paragraf yang lebar di halaman website dengan artikel yang panjang. Kita sampai harus perlu memutar kepala sedikit (dari kiri ke kanan) untuk membaca artikel tersebut. Saya jamin kita hanya akan bertahan 1-2 paragraf saja!

Idealnya paragraf tidak terlalu lebar (dan tidak terlalu pendek), harus di sesuaikan dengan besar font juga. Untuk ini memang kita harus mencoba langsung membaca paragraf yang kita desain untuk menemukan lebar yang ideal. Jika kita masih menggerakan kepala lumayan sering, itu artinya kita harus mengatur kembali lebar paragraf tersebut.

Kesimpulan

Dengan ke 6 tips di atas semoga kita bisa lebih peka dalam mengatur tipografi (terlebih jika teks nya banyak!). Percayalah, dengan tipografi yang mudah terbaca maka orang juga akan lebih menyukai desain kita. Mulai sekarang anggaplah tipografi sebagai bagian penting dalam desain (atau yang lebih ekstrim, tipografi sebagai visual juga).

YANG LAIN :http://cheuw.com/apa-itu-typography/

Apa itu Tipografi (Typography) ? Menurut dari kata nya saja adalah ilmu yang mempelajari tentang huruf. Bagi aku huruf adalah menjadi pandangan pertama didalam design graphis. Kenapa? entah kenapa,kalau huruf nya itu eye catching pasti kesannya jadi ikutan bagus. Tapi tentu saja lebih bagus kalau didukung dengan efeknya. =) Huruf adalah komponen yang penting didalam design graphis. Rasanya kurang gimana tanpa dukungan font yang menarik. Tipografi itu bisa dengan font Arial , Times New Roman atau font standar lainnya. Tidak selalu dengan font yang udah dimodifikasi seperti font yang disediakan dafont.com.

Bagaimana Tipografi itu?
Banyak font komputer betebaran dimana-mana, mulai dari yang handwriting sampai dengan yang decorative. Saking banyak nya jadi pusing juga untuk mempelajari jenis-jenis huruf. Menurut buku yang saya baca tentang graphic design, untuk mempelajari lebih mudah tentang tipografi, kita harus tahu terlebih dahulu tentang anatomi nya dan jenis font nya. Maksudnya anatomi disini adalah tata letak huruf, ketinggian huruf, ,bentuk hurufnya dan jarak huruf.

Jenis Font juga banyak macamnya, ada yang sanserif seperti arial,avantgarde,dsb , ada serif seperti Times New Roman, ada huruf Dekoratif seperti English,dan banyak macamnya , ada huruf script seperti comic sans. Font standar yang menjadi favorit buat aku yaitu arial, avantgarde, century gothic. Simple tapi kesannya gimaaanaa gitu. Menurut pandangan saya, seorang designer mempunyai ciri typography sendiri. Jadi intinya siih tergantung selera aja. =) Kenapa saya bahas tentang typography? Karena UNIK.

Dimana uniknya ? semenjak saya ikutan di forum balikita dan sharing bareng disana, khususnya di sub forum design. Banyak design yang hanya mengandalkan font saja di dalam nya, dan tadi saya googling , dan saya semakin tertarik dengan tipografi. Coba lihat gambar yang hasil karya master-master,*entah punya siapa :

Unik banget kan? dari huruf aja bisa membuat obyek yang baru dan menarik. Itulah yang membuat ketertarikan saya dalam tipografi ini semakin menjadi-jadi.heuu.. adakah yang bisa menjadi tutor saya?heuu..=)

http://www.master.web.id/mwmag/issue/06/content/tutorial-tipografi-1/tutorial-tipografi-1.html

Tutorial Tipografi Bagian 1:

Mengenal Tipe

Tipografi adalah disiplin ilmu yang dipandang tidak cool tapi misterius, yang selalu di belakang layar dan cenderung low profile. Bandingkan dengan usability misalnya—yang akhir-akhir ini naik daun. Siapa sih yang tidak kenal Jakob Nielsen? Atau bandingkan dengan tokoh new media Web dan Flash macam Jeffrey Zeldman dan Hillman Curtis. Rata-rata dari kita kenal atau minimal pernah dengar namanya. Tapi kalau disuruh menyebutkan siapa tokoh tipografi favorit, atau siapa yang menciptakan tipe Futura atau Georgia, maka kebanyakan dari kita menggeleng. Tokoh suatu bidang seringkali mencerminkan seberapa popular bidang tersebut. Kalau tokoh-tokoh tipografi jarang kita ketahui, maka barangkali begitu pulalah dengan bidang ilmu tipografi. Padahal tipografi amatlah penting bagi semua desainer, termasuk desainer Web.

Dalam seri tutorial apresiasi tipografi ini, fokus kita adalah pada tipe. Kita akan mengenal apa itu tipe. Kita juga akan menyinggung teknologi font dan tipografi di komputer. Lalu melihat profil beberapa perusahaan penerbit font—yang biasa disebut digital type foundry—yang ternama seperti Adobe dan ITC. Kita pun akan mengenal beberapa tipe popular seperti Garamond dan Bodoni. Dan terakhir kita akan membahas desain logo yang mengutamakan permainan huruf dan tipe. Meski demikian, tak ketinggalan akan disinggung pula aspek-aspek dasar tipografi yang baik.

Karena sifat tutorial ini pemula, maka bisa diikuti baik oleh desainer Web—yang rata-rata, sayangnya, memang kurang mengenal tipografi dibandingkan desainer cetak—maupun oleh umum. Alangkah baiknya jika setiap orang memahami dasar-dasar tipografi. Apalagi karena sekarang setiap hari mau tidak mau kita berurusan dengan huruf dan tipe di komputer. Mulai dari memilih font saat akan membuat surat, kartu undangan, halaman web, kartu nama, dan lain-lain.

Tujuan akhir tutorial ini adalah membangkitkan kesadaran akan tipe sehingga pembaca menyadari peran tipografi dalam desain grafis, mengenal font-font, dan dapat memilih dan memadu font sesuai karakteristik masing-masing font. Tutorial ini tidak akan membahas hingga ke pemakaian software Fontographer atau teknik perancangan tipe lainnya, melainkan hanya dari sisi apresiasi.

Huruf Di Mana-Mana

Huruf dan tulisan memiliki arti amat penting bagi manusia. Bahkan, yang namanya peradaban atau masa sejarah ditandai dengan peristiwa dikenalnya tulisan oleh manusia. Zaman sebelum ada tulisan sering disebut zaman prasejarah. Kalau Anda melihat ke buku atau ke layar komputer, Anda akan melihat huruf dan tulisan. Di jalanan pun Anda akan melihat tulisan. Di pakaian, di badan mobil dan pesawat terbang, bahkan di gua-gua purbakala Anda bisa menjumpai tulisan. Selain gambar, huruf adalah cara manusia berkomunikasi secara visual.

Tipe/Typeface dan Font

Satu hal pertama yang Anda bisa perhatikan dari tulisan-tulisan yang berbeda itu adalah, bahwa bukan huruf-hurufnya saja yang berbeda, melainkan jenis hurufnya juga. Huruf “A” atau “a” di sebuah tulisan bisa berbeda dari huruf “A” dan “a” yang lain. Anda tahu bahwa keduanya abjad alfabet yang sama, tapi Anda juga mengamati bahwa jenis hurufnya berbeda. Bisa jadi yang satu lebih tebal atau gemuk dari yang lain, bisa jadi kaki-kaki hurufnya ada yang memiliki tangkai, atau lebih pendek atau lebih panjang, dan sebagainya. Sebuah jenis huruf yang sama kadang diberi nama tertentu (misalnya: Times New Roman). Jenis huruf ini disebut typeface, atau singkatnya tipe. Sekarang orang juga sering menyebut jenis huruf dengan font, karena file yang berisi informasi sebuah typeface di komputer diberi istilah font (misalnya, di Windows, informasi untuk menggambar tipe Arial disimpan dalam file ARIAL.TTF). Di dalam dunia tipografi tradisional (nondigital), yaitu saat huruf dicetak menggunakan balok-balok logam, font memiliki arti lain kumpulan balok-balok huruf logam yang memiliki satu typeface dan satu ukuran tertentu. Belakangan barulah orang-orang komputer memakai kembali istilah font untuk bidang tipografi digital. Kedua istilah typeface/tipe dan font dalam artikel ini akan dipakai bergantian.

Klasifikasi Tipe

Ada banyak sekali jenis huruf yang bisa kita amati. Mungkin di komputer Anda sendiri ada terinstal ratusan hingga ribuan file font. Sebagian font bentuknya unik dan aneh sehingga mudah kita kenali, sementara yang lain tampak sekilas mirip-mirip semua. Setiap saat pun diciptakan font-font baru. Produser film-film Hollywood misalnya, sering mengeluarkan dana untuk mendesain font baru yang unik untuk filmnya.

Berdasarkan bentuknya, para pakar tipografi umumnya membagi jenis huruf ke dalam dua kelompok besar: serif dan sans serif. Lalu ada kelompok ketiga dan keempat yang disebut script dan dekoratif. Jenis serif dan sans serif pun berbeda-beda, tapi mari sebelumnya mengetahui perbedaan serif dan sans serif.

Serif dan Sans Serif

Serif adalah kelompok jenis huruf yang memiliki “tangkai” (stem). Lihatlah font Times New Roman, Bodoni, Garamond, atau Egyptian misalnya. Persis mendekati ujung kaki-kaki hurufnya, baik di bagian atas maupun bawah, terdapat pelebaran yang menyerupai penopang atau tangkai. Menurut sejarah, asal-usul bentuk huruf ini adalah mengikuti bentuk pilar-pilar bangunan di Yunani Kuno. Seperti kita ketahui, bagian atas dan bawah tiang pilar memang lebih besar agar bisa membuat pilar lebih kokoh.

Sementara sans serif (atau “tanpa” serif) adalah jenis huruf yang sebaliknya: tidak memiliki tangkai. Ujung-ujung kakinya polos begitu saja. Contohnya Arial atau Helvetica (Catatan: meski amat mirip dan sering saling mensubstitusi satu sama lain, kedua font ini tidaklah mirip persis. Cobalah sekali-kali Anda cetak contoh huruf dalam ukuran besar dan amati perbedaan-perbedaan tipis kedua font ini.) Contoh lain jenis huruf sans adalah ITC Officina Sans, yaitu font yang digunakan di mwmag yang sedang Anda baca ini.

Kegunaan tangkai serif. Pada ukuran teks kecil, seperti seukuran tulisan teks di surat kabar atau buku, umumnya tangkai pada kaki-kaki font serif membantu agar tulisan mudah dibaca. Mengapa? Karena tangkai font serif membantu membentuk garis tak tampak yang memandu kita mengikuti sebuah baris teks. Karena itulah kita banyak menjumpai buku-buku dilayout dengan serif. Menurut penelitian, seseorang yang membaca font serif bisa lebih tahan membaca karena tidak mudah lelah—akibat adanya bantuan dari tangkai serif tadi. Tapi pada kondisi-kondisi berikut ini: a) huruf amat kecil (seperti tulisan bahan-bahan di label makanan); b) huruf amat besar (seperti di plang-plang merek) yang harus dilihat dari jauh; c) di layar monitor; huruf sans serif kadang lebih mudah dibaca. Mengapa? Karena justru kaki-kaki font serif memperumit bentuk huruf sehingga sedikit lebih lama dibaca. Jika huruf kecil sekali atau pada resolusi rendah seperti di layar monitor, kaki serif bisa tampak bertindihan dan menghalangi pandangan. Karenanya kita banyak melihat plang rambu lalu lintas menggunakan huruf yang sesederhana mungkin agar bisa cepat dibaca, dan di halaman web banyak dipakai font serif karena lebih mudah dibaca pada ukuran kecil/layar kasar.

Jenis-jenis serif. Serif tiap jenis huruf pun dapat berbeda-beda. Huruf-huruf masa lama (Old Style) seperti Garamond dan huruf-huruf masa transisi (Transitional) seperti Times New Roman misalnya, memiliki tangkai yang sudutnya lengkung. Sementara pada huruf-huruf masa modern seperti Bodoni, tangkainya bersudut siku. Ada lagi yang bersudut siku pula, tapi relatif tebal/tinggi. Contohnya Egyptian. Tipe serif seperti Egyptian kadang disebut slab serif. Beberapa huruf unik tertentu memiliki tangkai serif negatif, yaitu tangkai yang masuk ke sisi dalam kaki sehingga ujung kaki nampak lebih kecil dari batang kakinya.

Skrip dan Dekoratif

Selain serif dan sans serif, ada pula jenis huruf “sambung” dan huruf “gaya bebas.” Huruf sambung atau script bisa juga Anda sebut “huruf tulis tangan” (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Atau bisa juga disebut “huruf undangan” karena hampir selalu hadir di kartu-kartu undangan karena dipandang indah dan anggun. Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat “melingkar-lingkar”. Sementara huruf “gaya bebas” mencakup segala macam jenis huruf “aneh” lain yang sulit dikategorikan dalam ketiga kategori lainnya. Kadang huruf ini bisa diinspirasi dari bentuk geometris tertentu, memadukan gambar atau pola tertentu, dan sebagainya. Di komputer juga dikenal font-font “wingdings-like” yang sebenarnya adalah clipart. Tiap hurufnya murni berupa ikon atau gambar, bukan huruf.

Umumnya jenis-jenis huruf skrip dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Bahan Bacaan Kali Ini

Buku. Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001, cukup layak dimiliki. Buku setebal 190 halaman ini dilayout cukup apik dan membahas sejarah singkat, dasar-dasar dan klasifikasi tipe, prinsip melayout secara tipografis, dan di akhirnya menampilkan katalog sekitar 13 buah tipe terkenal. Secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang buku tipografi terbaik di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kekurangan seperti tidak adanya glosari maupun indeks. Beberapa gambar dalam artikel ini diambil dari buku tersebut.

Situs. Microsoft typography, www.microsoft.com/typography/. Microsoft, percaya atau tidak, adalah salah satu perusahaan yang berperan dalam mengembangkan teknologi tipe digital. Bersama Apple akhir tahun 1980-an, Microsoft membawa teknologi font vektor TrueType ke PC maupun Mac. Dan karena spesifikasi TrueType dipublikasikan, maka banyak font-font baru yang murah bermunculan. Microsoft pun banyak membuat font dan membagikannya gratis—sebagian dibundel langsung bersama sistem operasi dan sisanya dapat didownload dari situs tipografinya. Khusus untuk Web, Microsoft membayar beberapa desainer beken untuk merancang antara lain tipe Verdana (sans) dan Georgia (serif). Kedua tipe ini didesain khusus agar mudah terbaca di layar komputer, antara lain dengan cara membuat bagian x-height (perut) relatif besar. Bagi yang belum mempunyai kedua font tersebut, saya anjurkan mengambilnya dari situs Microsoft. (slm)

SUMBER OLAHAN/ SADURAN : http://belajardesain.wordpress.com/2009/07/28/tipografi/

http://www.microsoft.com/typography/default.mspx

TYPOGRAFI

Microsoft’s Typography group researches and develops fonts and font technologies, and supports the development of TrueType and OpenType formatted fonts by independent type vendors.

Site sections

About fonts
This section includes articles on hinting, font smoothing, font availability, an FAQ, ClearType and more.

Links, news & contacts
Featuring daily typography news headlines and a database of over 700 type and typography related sites on the Web.

Developing fonts
The developer section includes articles, specifications and tools for those making fonts and the applications that use them.

Tools and utilities
Free utilities include the Font properties extension and our Web Embedding Fonts Tool.

Site highlights

Tune your ClearType settings
Windows users can use our updated ClearType Web interface or downloadable PowerToy Tuner to activate ClearType and tune your ClearType settings.

Fonts for Windows
Learn more about Windows fonts and what’s new in Windows 7

Find Fonts
Discover what fonts are included with various Microsoft products

APA ITU KALIGRAFI

http://bloggingly.com/apa-itu-typgoraphy-tipografi/

Apa itu Typgoraphy (Tipografi)

oleh Fikri

Dalam ranah design, atau dalam hal ini kita spesifikkan ke dalam ranah blog design, ada satu hal yang harus kita pahami: Typography (Tipografi)

Apa itu Typography? (Tipografi)

Typography yang berasal dari kata Yunani Typos = bentuk dan graphein = menulis merupakan seni dan teknik mengatur huruf menggunakan gabungan bentuk huruf cetak, ukuran huruf, ketebalan garis, spasi antar huruf, garis pandu dan jarak antar baris.

referensi : Wikipedia/Typography

Mengapa kita perlu memahami typography (Tipografi)?

Karena typography, pengaturan huruf, mempengaruhi banyak hal: mulai dari estetika tampilan blog, kesan yang di tampilkan blog, hingga yang terpenting: keterbacaan blog.

Blog yang typography-nya baik, tingkat keterbacaannya tinggi. Jika tingkat keterbacaannya tinggi, pengunjung akan nyaman dalam membaca konten blog anda dan betah membacanya. Jika typography-nya kurang baik, pengunjung blog anda akan sulit membaca konten blog anda. Pernah nyangkut di sebuah blog di blogspot yang hurufnya besar-besar dan jarak antar barisnya sangat padat? Bagaimana perasaan anda ketika membaca tulisan blog tersebut? Lelah bukan?

Dimana saya dapat belajar Typography?

Ada banyak halaman web yang membahas tentang typography yang dapat anda akses secara gratis. Berikut ini sudah saya pilihkan untuk anda link mengenai hal-hal mendasar tentang Typography:

Definisi Typography oleh Wikipedia (ENglish)

Definisi Typography oleh wikipedia (Malay)

Hal – Hal mendasar tenteng Typography oleh About.com (English)

Istilah-istilah mendasar tentang Typography oleh The Theme Blog (English)

5 Aturan Mendasar Typography oleh eioba.com (English)

16 Typography Yang Menginspirasi berdasarkan Desain Blog oleh DesignReviver (English)

101 Resource mengenai Typography untuk Web Designer oleh VandelayDesign (English)

Blog mengenai Typography: ilovetypography.com!

Ada lagi yang anda butuhkan?

typography is design by bintek

Dalam ranah design, atau dalam hal ini kita spesifikkan ke dalam ranah blog design, ada satu hal yang harus kita pahami: Typography (Tipografi)

Apa itu Typography? (Tipografi)

Typography yang berasal dari kata Yunani Typos = bentuk dan graphein = menulis yang merupakan seni dan teknik mengatur huruf menggunakan gabungan bentuk huruf cetak, ukuran huruf, ketebalan garis, spasi antar huruf, garis pandu dan jarak antar baris.

Mengapa kita perlu memahami typography (Tipografi)?

Karena typography, pengaturan huruf, mempengaruhi banyak hal: mulai dari estetika tampilan blog, kesan yang di tampilkan blog, hingga yang terpenting: keterbacaan blog.

Blog yang typography-nya baik, tingkat keterbacaannya tinggi. Jika tingkat keterbacaannya tinggi, pengunjung akan nyaman dalam membaca konten blog anda dan betah membacanya. Jika typography-nya kurang baik, pengunjung blog anda akan sulit membaca konten blog anda. Pernah nyangkut di sebuah blog di blogspot yang hurufnya besar-besar dan jarak antar barisnya sangat padat? Bagaimana perasaan anda ketika membaca tulisan blog tersebut? Lelah bukan?

Dimana saya dapat belajar Typography?

Ada banyak halaman web yang membahas tentang typography yang dapat anda akses secara gratis. Berikut ini sudah saya pilihkan untuk anda link mengenai hal-hal mendasar tentang Typography:

Tipografi : Klasifikasi Tipe I

Oleh: Pupung Budi Purnama

April 15, 2004


Memilih huruf bagi sebuah desain, baik itu untuk Web maupun grafis, memang susah-susah gampang. Huruf memang misterius, bila kita memilih huruf yang cocok dengan tema desain, maka keberadaan huruf akan sangat mendukung tema atau mood dari situs kita, sebaliknya, sebuah desain dapat terlihat aneh bila huruf yang dipilih ternyata berlawanan dengan desain tersebut.

Pada edisi Design World kali ini, kita akan mulai mengenal tipografi. Artikel-artikel tentang tipografi akan saya tampilkan secara bergantian dengan artikel-artikel desain lainnya. Pada artikel-artikel tipografi selanjutnya kita akan mengenal secara praktis bagaimana memilih dan menggunakan huruf di halaman Web, selain itu kita akan mengenal istilah-istilah yang lazim dipergunakan dalam tipografi.

Huruf dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu Serif, Sans Serif, dan Dekoratif.

Serif
Huruf jenis serif dapat dikenali dengan melihat kait yang terdapat pada ujung-ujungnya. Contoh dari huruf jenis Serif adalah Times New Roman, Garamond, dan Book Antiqua.

Huruf Serif kemudian dibagi lagi menjadi 4 jenis, yaitu:

Old Style
Huruf ini memiliki kait dengan bentuk kurva yang menghubungkan dengan garis utama (stroke) huruf, hingga huruf ini lebih terlihat “kuno” dari pada huruf Serif lainnya. Contoh dari huruf ini adalah Caslon, Caxton, Garamond, Goudy, Palatino, Early Roman.

Transitional
Antara kait dengan garis utama (stroke) huruf, dihubungkan dengan kurva atau lengkungan dan memiliki sudut pada kaitnya. Contoh dari huruf ini adalah Baskerville, Century, Tiffany, Times.

Modern
Kait dan garis utama dibentuk dengan sudut-sudut. Huruf Serif jenis ini akan tampak lebih baru/modern dari pada huruf Serif lainnya. Contohnya adalah Bodoni.

Egyptian (Slab Serif)
Egyptian atau Slab Serif memiliki kait yang lebih tebal, hal ini mengingatkan kita akan bentuk tiang-tiang dengan yang kokoh pada bangunan-bangunan Mesir kuno. Egyptian juga sering dipergunakan pada tema-tema Western atau Cowboy. Contohnya adalah: Clarenden, Lubalin, Memphis.

Kesan dan Fungsi pada Serif
Serif dapat memberi kesan klasik, resmi, dan elegan pada desain Anda. Serif sering dipergunakan pada surat-surat resmi, buku-buku, surat kabar, dan lain-lain

Kait-kait pada serif berfungsi untuk memudahkan membaca pada teks-teks kecil -tapi tidak terlalu kecil-, dan teks dengan jarak baris yang sempit. Karena fungsi tersebut, kita akan merasa lebih nyaman membaca buku-buku dan surat kabar dengan huruf Serif. Kebanyakan buku dan surat kabar memang menggunakan Serif sebagai huruf utamanya.

Istilah Kali Ini:
Font: Adalah kumpulan lengkap dari karakter / huruf dalam satu bentuk desain, ukuran (size), dan gaya (style). Dalam tipografi digital, suatu font dapat memiliki ukuran dan gaya yang berbeda-beda dikarenakan pengolahan komputer. Dahulu, Istilah Font dipergunakan pada balok-balok huruf yang biasa dipergunakan untuk keperluan percetakan, namun kini istilah Font lebih sering dipergunakan di komputer.
Typeface / Type: Adalah desain dari karakter berbentuk alphabet dan nomor yang memiliki kesatuan berdasarkan properti visual yang konsisten.
Stroke: Garis-garis yang membentuk suatu huruf.

Bahan Bacaan Lain:
Webmonkey
MWmag Edisi 6-7

Pada artikel berikutnya kita akan mengenal bentuk dari jenis tipe Sans Serif. ( Pupung Budi Purnama )

Pupung Budi Purnama – Bukan pakar atau ahli, hanya seorang freelance web designer, tinggal di Bandung, Jawa Barat. Bergelut di dunia web sejak 1999, pernah bekerja di beberapa perusahaan IT sebagai desainer. Sehari-hari, ia menjalankan sebuah perusahaan web development dari kamarnya.

Tipografi: Klasifikasi Tipe II

Oleh: Pupung Budi Purnama

April 18, 2004


Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, Anda dapat membaca artikel “Tipografi: Klasifikasi Tipe I” untuk lebih memahami mengenai klasifikasi Tipe. Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai jenis huruf Sans Serif.

Klasifikasi huruf selanjutnya adalah Sans Serif, perbedaan dengan Serif terletak pada kait yang biasanya terdapat pada ujung stroke. Pada Sans Serif tidak terdapat kait pada ujung-ujungnya. Contoh dari huruf Sans Serif yang lazim dipergunakan di Web adalah Arial, Helvatica, dan Verdana.

Kesan Pada Huruf Sans Serif
Sans Serif melambangkan kesederhanaan, lugas, “masa kini” dan futuristik. Huruf jenis ini cocok bila didampingkan dengan grafis yang berkesan futuristis. Bila Anda ingin mendapatkan kesan sederhana atau simpel, huruf jenis ini juga cocok digunakan dengan paduan garis tipis dengan warna yang tidak terlalu mencolok. Untuk menegaskan kata atau judul dari sebuah title desain, huruf ini dapat diberikan ketebalan.

Penggunaan Huruf Sans Serif
Berbeda dengan tipe Serif yang sering dipergunakan pada buku-buku atau surat kabar, pada huruf Sans Serif lebih banyak dipergunakan pada layar komputer, hal ini disebabkan karena huruf sans yang sederhana (tidak mempunyai kait) dan dapat lebih mudah terbaca pada huruf-huruf yang lebih kecil. Bahkan, pada layar komputer kait pada huruf Serif justru memperumit huruf tersebut hingga lebih sulit dibaca. Coba Anda ubah huruf default pada OS Anda dengan huruf Serif, Anda akan merasakan bedanya.

Pada Artikel mendatang, kita akan membahas mengenai huruf dekoratif beserta penggunaan beberapa contoh huruf. ( Pupung Budi Purnama )

Tipografi: Garis Imajiner

Oleh: Pupung Budi Purnama

May 1, 2004


Perbedaan mendasar dari tiap tipe adalah ukuran dan bentuk anatomi atau ?bagian tubuh? yang dimiliki. Anatomi inilah yang menjadikan sebuah tipe dapat terlihat berbeda dengan tipe yang lain, walaupun dalam ukuran yang sama. Mengenal anatomi huruf dengan baik, dapat membantu Anda menentukan jenis huruf yang tepat untuk dipergunakan.

Garis-Garis Imajiner
Sebuah tipe biasanya dibangun pada sebuah garis atau bidang datar dan diikuti oleh batasan-batasan lain, perhatikan gambar dibawah:?

Capline (?Capital Line?) adalah istilah untuk garis imajiner (maya) batas teratas huruf kapital.

Baseline adalah garis imajiner yang menjadi tempat berpijaknya huruf-huruf.

Meanline adalah garis imajiner patokan tinggi untuk huruf-huruf non-kapital (huruf kecil).

X-height adalah jarak antara baseline dan meanline.

Pada gambar diatas adalah garis-garis imajiner yang dilukiskan pada tipe Helvatica. Garis ? garis tersebut tidaklah bersifat mutlak, tiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda, kadang huruf-huruf tertentu memiliki badan yang melebihi meanline atau capline. (Pupung Budi Purnama)

Pustaka:
Master Web Magazine Edisi 7
hotwired.lycos.com

http://www.designmagz.com/tipografi/tipografi-klasifikasi-tipe-i.html

Tipografi: Anatomi, Stroke

Oleh: Pupung Budi Purnama

May 2, 2004


Pada artikel lalu kita mengenal garis-garis imajiner. Pada Artikel ini, kita akan mengenal anatomi dari tipe. Para desainer biasanya membagi tipe menjadi 3 bagian dasar yaitu; Strokes, Counters, dan Serifs. Masing-masing mempunyai perbedaan tersendiri, kali ini kita akan mengenal lebih dalam dengan stroke dan bagian-bagian dari stroke.

Strokes

Stroke adalah goresan-goresan yang membentuk suatu huruf. Stroke dibagi menjadi beberapa bagian:

Stem: Adalah garis utama dari suatu huruf. Biasanya adalah garis vertikal. Contoh dari huruf yang memiliki stem adalah ?I?, ?L?, ?H?, dan ?T?. Contoh huruf yang memiliki 2 stem adalah ?M? dan ?H?. Sedangkan ?A? dan ?V? adalah huruf yang memiliki stem diagonal. Tidak semua huruf memiliki stem, seperti halnya ?C?, ?O?, dan ?S?.

Extender: adalah bagian huruf yang berada diluar x-height atau berada di atas meanline dan dibawah baseline. Ascender adalah istilah untuk bagian huruf yang berada di atas meanline, sedangkan descender adalah istilah untuk bagian huruf yang berada di bawah baseline.

Arm: adalah bagian huruf yang (umumnya) memiliki posisi horisontal yang salah satu ujungnya terhubung dengan stroke sedangkan ujung yang lain bebas. Contoh huruf yang memiliki arm ini adalah huruf ?E?, ?F?, atau ?K? yang memiliki arm diagonal.

Cross bars: adalah bagian huruf yang menghubungkan 2 stroke, contohnya adalah ?H? atau ?A?.

Cross stroke : Adalah bagian huruf (stroke) yang memalang seperti pada huruf ?t? atau ?f?.

Tail : adalah garis (stroke) yang terletak pada daerah descending yang merupakan garis dekoratif (hiasan) seperti: Q, g, dan lain-lain.

Leg: Adalah stroke yang miring ?menyangga? stroke utama atau stem, leg terdapat pada huruf ?K?, ?k?, dan ?R?.

Bowl: Bagian huruf yang membentuk lingkaran atau kurva secara tertutup atau tidak. Pada beberapa sumber huruf C, D, dan B termasuk memiliki bowl.

(Pupung Budi Purnama)

X-Height, Readaility, dan Legibility

Oleh: Pupung Budi Purnama

May 8, 2004


Kita telah membahas mengenai garis imaginer pada artikel lalu. Kita mengenal istilah X-Height yaitu jarak antara garis meanline dan baseline. Dalam ukuran yang sama, suatu huruf dapat terlihat lebih besar atau lebih kecil dari huruf yang lain dapat dipengaruhi oleh ukuran X-Height.

Kejelasan suatu huruf juga ditentukan dari besarnya X-Height ini, asal saja tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil.

Hubungan antara Legibility dan Readability
Dalam tipografi kita mengenal istilah Legibility dan Readability, dimana Legibility dapat kita terjemahkan “kejelasan” dan Readability dapat diterjemahkan “keterbacaan”.

Legibility atau kejelasan melingkupi faktor karakteristik sebuah huruf, dengan karakteristik ini, sebuah huruf dapat terlihat berbeda dengan huruf lain. Sedangkan Readability adalah dapat terbaca atau tidaknya sebuah huruf setelah ia memiliki kejelasan terlebih dahulu.

Keterbacaan sebuah huruf berbeda-beda, misalnya, huruf ITC Garamond book condensed memiliki keterbacaan baik pada 12pt dan leading 110%. (Pupung Budi Purnama)

Tipografi Web: Embedded Font I

Oleh: Pupung Budi Purnama

June 1, 2004


Sebuah halaman Web, ternyata tidak hanya bisa menampilkan teks dengan font-font standar. Ia dapat menampilkan font dengan font yang tidak biasa dipergunakan dalam halaman Web. Teknologi ini disebut dengan Web Embed Font. Pada artikel ini kita akan membahas mengenai apa dan bagaimana dari Embed Font. Untuk tutorial embed font, akan kita bahas pada artikel selanjutnya.Dengan Embed Font, kita dapat lebih bebas memilih jenis font yang kita gunakan dalam halaman Web. Teknologi Embed Font ini didukung oleh 2 browser besar seperti Microsoft Internet Explorer dan Netscape, namun sayangnya teknologi yang dipergunakan dalam meng-embed font berbeda. Hal itu berarti, huruf dapat terlihat baik di IE tidak dapat ditampilkan di Netscape.

Teknologi IE menggunakan Embedded OpenType dengan ekstensi file .eot sedangkan pada Netscape menggunakan TrueDoc dengan ekstensi file .pfr. Font-font yang dapat diubah kedalam format embed font baik .eot atau .pfr adalah font dengan jenis True Type, Open Type, dan Postscript. Dukungan browser terhadap format Embedded OpenType (.eot) ialah browser Internet Explorer versi 4 ke atas, sedangkan format TrueDoc (.pfr) didukung oleh browser mulai dari netscape navigator 4.03 dan Internet Explorer 4 pun mendukung tipe TrueDoc setelah melakukan instalasi terlebih dahulu dengan ActiveX Control.

Melihat paparan diatas, kemungkinan penggunaan tipe .pfr lebih luas karena selain didukung oleh Netscape juga dapat didukung oleh Internet Explorer dari pada penggunaan .eot.

Ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan, diantaranya adalah masih kaburnya lisensi dari font yang di embed dalam sebuah Web dan dukungan browser-browser yang ada. Namun demikian, tidak semua font dapat dikonversikan menjadi embed font. Pada artikel selanjutnya kita akan membuat sebuah halaman Web dengan Embed Font (pupung budi purnama)

Tipografi Web: Font Web Safe

Oleh: Pupung Budi Purnama

June 10, 2004


Dunia publikasi Web, berbeda dengan dunia publikasi pada media cetak. Perbedaan dasarnya dalam dunia Web segala sesuatunya lebih mengikat dan dibatasi oleh berbagai hal. Dalam dunia cetak, dengan bebas Anda dapat menentukan segala hal yang dirasakan perlu, Namun dalam dunia Web, apa yang Anda gunakan sangat tergantung pada audiens Anda. Diantara keterbatasan yang harus dipertimbangkan oleh seorang desainer, diantaranya adalah penggunaan huruf dalam halaman Web. Bila dalam media cetak Anda bebas menentukan huruf yang Anda suka, tidak demikian dengan dunia Web karena bermacam-macamnya keadaan dari audiens hingga kita harus menggunakan huruf yang terbilang aman dan dapat dibaca dengan baik oleh audiens.

Dalam artikel seri Tipografi Web ini, kita akan mengenal berbagai macam karakter huruf yang dipergunakan dalam Web dan berbagai teknologi baru yang dapat dipergunakan seperti CSS formating, Web Font Embedding, dan lain-lain. Namun kali ini kita akan mengenal huruf-huruf yang “Web safe” dan dapat dilihat dengan baik dalam berbagai sistem operasi.

Diantara banyak huruf yang ada di PC kita, hanya ada beberapa huruf yang terbilang Web Safe diantaranya adalah:

Times New Roman
Times new roman adalah jenis huruf serif yang sering Anda lihat ada surat kabar atau majalah. Font ini didesain untuk kemudahan membaca pada media cetak, demikian juga pada layar monitor. Pada pengguna Windows, font ini adalah default. Pada pengguna Mac dan Linux (Times) huruf ini dapat ditampilkan pula dengan baik. Namun, pada penggunaan ukuran yang kecil 9/10px huruf ini mulai sulit untuk dibaca.
Arial adalah huruf Sans-serif yang sering dipergunakan dalam Web. Terlihat lebih sederhana dan lebih mudah dibaca pada berbagai ukuran. Pada sistem operasi Linux, tidak terdapat huruf Arial, namun digantikan oleh Helvetica yag memiliki karakteristik yang kurang lebih sama.

Verdana
Tipe ini sangat baik dalam menampilkan huruf-huruf dengan ukuran kecil, seperti tanggal, caption, atau copyright. Font ini terkesan lebih lebar, oleh karena itu, untuk Web font ini jangan dipergunakan dengan ukuran besar.

Comic Sans
Huruf ini terkesan bersahabat dan informal, namun jarang dipergunakan di Web karena karakteristiknya tersebut. Somic sans terdapat di kebanyakan sistem operasi Windows.

Georgia
Huruf serif ini didesain khusus untuk kemudahan membaca di layar monitor. Huruf ini dapat menggantikan jenis huruf Times New Roman, huruf ini terlihat lebih rapi dan elegan di layar monitor dari pada Times New Roman.

Trebuchet
Huruf ini memang jarang dipergunakan, namun huruf ini kebanyakan sudah terinstall pada OS yang ada karena font ini dapat di download secara bebas.

Helvetica
Pada sistem operasi Linux, Helvetica adalah pengganti dari Arial, namun huruf ini terlihat lebih rapih dari arial.

Pada artikel mendatang kita akan mengetahui cara menggunakan huruf pada halaman Web, semoga bermanfaat bagi Anda.

Readability dan Usability Tipografi Web

Oleh: Pupung Budi Purnama

June 1, 2006


Readability atau keterbacaan (mudah tidaknya sebuah tipe atau font untuk dibaca) tidak hanya terkait dengan pemilihan font, dalam beberapa kasus, hal ini tidaklah menjadi faktor utama. Panjang baris,? kekontrasan, keseimbangan teks dengan whitespace, ukuran teks, dan perpaduan antara faktor-faktor tersebut ternyata lebih menentukan.?

Berikut adalah hal-hal yang berpengaruh terhadap readability dan usability tipografi:

Rataan Teks
Meratakan teks pada sebelah kiri namun tidak meratakan pada sebelah kanan (tidak justify) meningkatkan kecepatan dalam membaca karena baris lurus pada sebelah kiri dapat meningkatkan kemudahan dalam mencari baris baru.

Panjang Baris
Terdapat beberapa pendapat pada panjang baris yang dapat meningkatkan ketebacaan. Namun pada umumnya, setiap baris terdiri dari 9 sampai 10 kata pada setiap baris dapat meningkatkan kecepatan membaca dan pemahaman (Scottconnect).

Leading (Line Height)
Pergunakan leading atau jarak baris yang lebih lebar dari default. Mempergunakan leading 130% dapat memberikan perbedaan yang besar terhadap halaman Web yang Readable.

Pemilihan Huruf
Dalam memilih huruf, sesuaikan dengan tema Web. Bila Anda menggunakan lebih dari 2 font maka Web akan nampak seperti “catatan acak”, font berbeda hanya digunakan untuk memberi penekanan atau untuk membedakan antara konten pada Web.

Italic
Hindari pergunaan italic untuk teks dengan ukuran kecil, karena teks italic relatif lebih sulit untuk ditampilkan pada kotak-kotak pixel maka teks italic akan terlihat kasar. Bila Anda harus menggunakan italic, hindari penggunaan untuk teks yang cukup panjang.

Kegunaan Kapital
Menggunakan huruf kapital pada seluruh teks akan mempersulit dalam membaca, bagaimanapun huruf kapital pada awal kalimat lebih mempermudah dalam membaca.

Kekontrasan
Pergunakan teks yang kontras dengan warna latar, anda dapat membaca artikel “Mengapa Harus Kontras” pada Design World.

Garis bawah pada links
Garis bawah dipergunakan untuk membedakan apakah teks tersebut adalah link atau bukan. JAdi jangan memberikan penekanan pada kata dengan garis bawah tapi tanpa link.

(Pupung Budi Purnama)

Tipografi: Leading

Oleh: Pupung Budi Purnama

June 1, 2006


Dalam penyajian teks untuk media cetak maupun digital, kita akan berkaitan dengan apa yang dinamakan dengan Leading (baca: ledding). Apakah Leading itu? Leading adalah jarak antar baris yang memungkinkan sebuah baris dapat jelas terbaca diantara baris lainnya. Menggunakan Leading dengan baik juga akan turut dalam membangun keterbacaan dari huruf yang dipergunakan.

Pada tipografi tradisional, kita mengenal istilah Body Clearance, yaitu jarak minimum antara Ascender satu baris dengan Descender baris yang ada diatasnya. Pada jaman dahulu, orang menggunakan cetakan untuk membuat huruf pada kertas hingga bila bagian atas satu lempengan ditempelkan pada bagian bawah lempengan lain, maka ia akan memiliki jarak terkecil dari huruf pada lempengan bawah dengan yang berada diatasnya, itulah yang disebut Body Clearance.

Leading pada jaman dahulu dipergunakan lempengan yang memiliki ukuran tertentu untuk memisahkan lempengan satu dengan yang lainnya.

Pada zaman modern, istilah Leading tetap dipergunakan seperti pada editor-editor teks maupun grafis. Pada Photoshop, leading dapat Anda tampilkan melalui panel tab Charachter.

Pada Web, Leading dapat kita atur menggunakan CSS (Cascading Style Sheet), untuk mengatur leading sebuah paragraf, Anda dapat mempergunakan:

p {line-height: 20px;}

Dengan demikian, jarak antar baris akan mempergunakan ukuran 20px.

Leading akan berpengaruh banyak pada tampilan teks atau huruf, jadi mempertimbangkan Leading dengan baik adalah langkah yang tepat untuk membangun teks yang enak dibaca dan menarik. (Pupung Budi Purnama)

PENGERTIAN TYPOGRAFI

http://de-kill.blogspot.com/2009/01/makna-dari-fontjenis-huruf-tipografi.html

Pengertian tipografi menurut buku Manuale Typographicum adalah :

Typography can defined a art of selected right type printing in accordance with specific purpose ; of so arranging the letter, distributing the space and controlling the type as to aid maximum the reader’s.

Dari pengertian diatas, memberikan penjelasan bahwa tipografi merupakan seni memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, huruf tak pernah lepas dari kehidupan keseharian. Hampir setiap bangsa di dunia menggunakannya sebagai sarana komunikasi. Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglyphe pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa. Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad ke-8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Perkembangan tipgrafi saat ini mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan (hand drawn) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya. Berikut ini beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :

1. Roman
Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.

2. Egyptian
Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.

3. Sans Serif
Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.

4. Script
Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.

5. Miscellaneous
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

http://dgi-indonesia.com/

Sebuah komentar masuk ke salah satu artikel di DGI-Indonesia, komentar tersebut dikirim oleh Gigih Wahyudi, beliau mengangkat pilihan kata yang sekiranya tepat sebagai padanan dari kata graphic design. Gigih sendiri memilih untuk menggunakan kata rancang gambar. Selain itu juga ada pilihan kata seperti reka gambar, olah gambar ataupun tata gambar.

Bagaimana dengan Anda? Punya padanan kata yang Anda rasa lebih tepat? Mari kita berdiskusi di sini! Bila perlu, silakan disertai dengan argumen pendukung. Atau, pada akhirnya kita memilih untuk membiarkan saja seperti asalnya — graphic design — lalu kita cetak dengan huruf miring.

salam,
DGI Indonesia

Sejarah
Artikel utama: Sejarah tipografi Barat, Sejarah tipografi di Asia Timur, dan jenis Movable

Tipografi jejak asal-usulnya ke pukulan pertama dan mati digunakan untuk membuat stempel dan mata uang di zaman kuno. Prinsip tipografi, yaitu penciptaan teks lengkap dengan menggunakan kembali karakter yang sama, pertama kali diwujudkan dalam Disc Phaistos, item cetak misterius Minoan dari Kreta, Yunani, yang tanggal antara 1850 dan 1600 SM. [2] [3] [ 4] Telah dikemukakan bahwa prasasti Romawi pipa timah diciptakan dengan mencetak jenis bergerak, [5] tetapi pandangan ini baru-baru ini diberhentikan oleh seter Herbert Jerman Brekle. [6]

Kriteria penting dari identitas jenis disambut oleh artefak cetak abad pertengahan seperti prasasti Pruefening Latin Biara 1119 yang diciptakan oleh teknik yang sama dengan disk Phaistos [7] Di kota Italia utara Cividale,. Ada perak Venesia retable dari ca. 1200 yang telah dicetak dengan cara pukulan surat individu [8] teknik cetak yang sama. Ternyata dapat ditemukan dalam 10 untuk staurotheca abad ke-12 Bizantium dan lipsanotheca [9] ubin. Surat individu di mana kata-kata dibentuk dengan merangkai huruf ubin dalam urutan yang diinginkan yang cukup luas di abad pertengahan Eropa Utara [10].

Tipe modern bergerak, bersama dengan mesin cetak mekanik, ditemukan di Eropa pertengahan abad ke-15 oleh tukang emas Johannes Gutenberg Jerman. [11] jenis-Nya potongan-potongan dari sebuah paduan timah berdasarkan tujuan pencetakan cocok baik sehingga paduan tersebut masih digunakan sekarang . [12] Gutenberg mengembangkan teknik khusus untuk casting dan menggabungkan copy murah dari letterpunches dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk mencetak beberapa salinan dari teks; ini terobosan teknis menjadi instrumental bagi keberhasilan Revolusi Percetakan hampir seketika mulai.

Tipografi dengan tipe bergerak yang terpisah ditemukan di Cina abad ke-11. Jenis logam pertama kali ditemukan di Korea selama Dinasti Goryeo sekitar 1230. tangan sistem pencetakan Kedua, bagaimanapun, hanya sporadis digunakan dan dihentikan setelah pengenalan jenis timbal Barat dan mesin cetak. [13]
[Sunting] Ruang Lingkup

Dalam penggunaan kontemporer, praktek dan studi tipografi sangat luas, mencakup semua aspek desain huruf dan aplikasi. Ini termasuk:

* Huruf dan desain jenis
* Tulisan tangan dan kaligrafi
* Grafiti
* Inscriptional dan arsitektur huruf
* Poster desain dan skala besar lainnya huruf seperti signage dan billboard
* Bisnis komunikasi dan jaminan promosi
* Iklan
* Wordmarks dan logo tipografi (logo)
* Pakaian jadi (pakaian)
* Label pada peta
kendaraan instrumen panel *
* Kinetik tipografi dalam film film dan televisi
* Sebagai komponen industri-tipe desain pada peralatan rumah tangga, pena dan jam tangan, misalnya
* Sebagai komponen dalam puisi modern (lihat, misalnya, puisi EE Cummings)

Sejak digitalisasi, tipografi telah menyebar ke penjaga aplikasi yang lebih luas, muncul di halaman web, layar LCD ponsel, dan video game genggam. Kehadiran jenis telah menyebabkan typographers untuk koin frase “Tipe mana-mana”.

tipografi tradisional berikut empat prinsip: pengulangan, kontras, jarak, dan keselarasan.
[Sunting] tipografi Teks
Sebuah spesimen tipografi romawi oleh William Caslon

Pada tipografi tradisional, teks terdiri untuk membuat keseluruhan mudah dibaca, koheren, dan secara visual memuaskan yang bekerja tidak terlihat, tanpa kesadaran pembaca. Bahkan distribusi bahan mengeset, dengan minimal gangguan dan anomali, adalah bertujuan untuk menghasilkan kejelasan dan transparansi.
http://rendrani.blogspot.com/
Pilihan font (s) adalah aspek utama tipografi teks fiksi-prosa, non-fiksi, editorial, pendidikan, keagamaan, ilmu pengetahuan, spiritual dan komersial menulis semua memiliki karakteristik yang berbeda dan persyaratan tipografi yang tepat dan font. Untuk bahan bersejarah tipografi teks didirikan sering dipilih sesuai dengan skema genre sejarah yang diperoleh melalui proses yang panjang pertambahan, dengan tumpang tindih antara periode sejarah.

buku kontemporer lebih cenderung diatur dengan negara-of-the-art seriffed “Romawi teks” atau “Romawi buku” dengan nilai desain bergema seni desain masa kini, yang erat berdasarkan pada model tradisional seperti orang-orang dari Nicolas Jenson, Francesco Griffo (a punchcutter yang menciptakan model untuk tipografi Aldine), dan Claude Garamond. Dengan lebih khusus mereka persyaratan, surat kabar dan majalah mengandalkan kompak, font erat dilengkapi teks seriffed dirancang khusus untuk tugas tersebut, yang menawarkan fleksibilitas maksimum, mudah dibaca dan efisiensi penggunaan ruang halaman. font serif teks Sans sering digunakan untuk paragraf pengantar, teks insidentil dan artikel pendek keseluruhan. Sebuah fashion saat ini adalah pasangan jenis sans-serif untuk judul dengan kinerja tinggi font seriffed dari pencocokan gaya untuk teks artikel.

Tipografi dimodulasi oleh ortografi dan linguistik, struktur kata, frekuensi kata, morfologi, fonetik konstruksi dan sintaksis linguistik. Tipografi juga tunduk pada konvensi budaya tertentu. Sebagai contoh, dalam bahasa Perancis adalah kebiasaan untuk menyisipkan spasi non-breaking sebelum tanda titik dua (:) atau titik koma (;) dalam sebuah kalimat, sedangkan dalam bahasa Inggris tidak.
[Sunting] Warna

Dalam tipografi warna adalah densitas keseluruhan tinta pada halaman, ditentukan terutama oleh jenis dan ukuran wajah, yang terkemuka, tetapi juga oleh jarak kata dan kedalaman margin. [14] layout teks, nada atau warna materi set , dan interaksi teks dengan ruang putih halaman dan elemen grafis lainnya bergabung untuk menanamkan “merasa” atau “resonansi” dengan materi pelajaran. Dengan media cetak typographers juga prihatin dengan margin yang mengikat, pemilihan kertas dan metode pencetakan.
[Sunting] Keterbacaan dan keterbacaan
Tidak menjadi bingung dengan Keterbacaan.

Keterbacaan terutama kepedulian dari desainer jenis huruf, untuk memastikan bahwa setiap karakter individu atau mesin terbang yang jelas dan dibedakan dari semua karakter lain di font. Keterbacaan juga di bagian perhatian dari penyusun huruf untuk memilih jenis huruf dengan kejelasan sesuai desain untuk digunakan pada ukuran yang dimaksud. Contoh desain terkenal, Brush Script, berisi sejumlah surat tak terbaca karena banyak karakter yang dapat dengan mudah salah membaca terutama jika dilihat di luar konteks tekstual.

Keterbacaan terutama kepedulian dari desainer seter atau informasi. Ini adalah hasil yang diinginkan dari proses lengkap penyajian bahan tekstual untuk berkomunikasi arti sebagai jelas mungkin. Seorang pembaca harus dibantu dalam menjelajahi sekitar informasi dengan mudah, dengan surat yang optimal antar-, inter-kata dan khususnya jarak antar-line, ditambah dengan panjang baris yang sesuai dan posisi pada halaman, editorial “chunking” hati-hati dan pilihan teks arsitektur judul, folio, dan link referensi.
Teks mengeset di Iowan roman Old Style, huruf miring dan topi kecil, dioptimalkan di sekitar 10 kata per baris, jenis huruf berukuran di 14 titik pada pelacakan 1,4 x terkemuka, dengan 0,2 poin tambahan. Ekstrak esai oleh Oscar Wilde Renaisans Inggris ca Art. 1882.

Salah satu perbedaan yang paling jelas antara dua konsep disajikan oleh Walter Tracy dalam surat keputusan Kredit. Ini … ‘dua aspek dari tipe’ … adalah … ‘mendasar untuk efektivitasnya. Karena arti umum dari “dibaca” adalah “dibaca” ada orang-orang – bahkan beberapa profesional yang terlibat dalam tipografi – yang berpikir bahwa “keterbacaan” istilah adalah semua yang diperlukan dalam setiap diskusi pada efektifitas jenis. Namun keterbacaan dan keterbacaan yang terpisah, meskipun aspek dihubungkan tipe. Dipahami dengan baik … dua istilah dapat membantu untuk menjelaskan karakter dan fungsi dari jenis yang lebih tepat daripada keterbacaan saja. … Dalam tipografi kita harus mengambil definisi … … keterbacaan berarti kualitas menjadi yg dpt ditafsirkan dan dikenali – sehingga kita dapat mengatakan, misalnya, bahwa h huruf kecil dalam miring gaya tertentu lama tidak terbaca dalam ukuran kecil karena nya kaki di-berpaling membuatnya tampak seperti huruf b, atau tokoh 3 dalam iklan baris terlalu mirip dengan 8. … Dalam keterbacaan layar ukuran lagi menjadi masalah yang serius, sebuah karakter yang menyebabkan ketidakpastian pada 8 ukuran titik akan cukup jelas di 24 titik ‘[15].

Perhatikan bahwa di atas berlaku untuk orang dengan penglihatan 20/20 pada jarak baca yang tepat dan di bawah pencahayaan yang optimal. Analogi dari grafik Optik, tes ketajaman visual dan independen makna, berguna untuk menunjukkan ruang lingkup konsep keterbacaan.

‘Dalam tipografi … jika kolom surat kabar atau majalah atau halaman dari buku bisa dibaca selama beberapa menit pada suatu waktu tanpa ketegangan atau kesulitan, maka kita dapat mengatakan jenis telah mudah dibaca baik. Istilah ini menggambarkan kualitas kenyamanan visual – syarat penting dalam pemahaman membentang panjang teks tetapi, paradoks, tidak begitu penting dalam hal-hal seperti direktori telepon atau air time-line-tabel, di mana pembaca tidak membaca terus menerus, tetapi mencari untuk item tunggal informasi. Perbedaan dalam dua aspek efektivitas visual diilustrasikan oleh argumen familiar di kesesuaian jenis sans-serif untuk pengaturan teks. Karakter pada wajah sans-serif tertentu mungkin sempurna terbaca dalam diri mereka sendiri, tapi tak seorang pun akan berpikir untuk setting sebuah novel populer di karena pembacaan yang rendah. ‘[16]’

Keterbacaan ‘mengacu pada persepsi’ dan keterbacaan ‘mengacu pada pemahaman’ [16]. Typographers bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dalam keduanya.

“Para jenis huruf yang dipilih harus dapat dibaca. Artinya, harus dibaca tanpa upaya Terkadang keterbacaan. Adalah hanya masalah ukuran tipe. Lebih sering Namun, ini adalah masalah desain huruf. Pada tipografi umum yang benar dasar letterforms lebih terbaca dari tipografi yang telah kental, diperluas, menghiasi, atau abstrak.

“Namun, bahkan sebuah jenis huruf dapat terbaca menjadi tidak terbaca melalui pengaturan miskin dan penempatan, hanya sebagai jenis huruf yang kurang dapat dibaca bisa dibuat lebih mudah dibaca melalui desain yang baik.” [17]

Studi dari kedua keterbacaan dan keterbacaan telah memeriksa berbagai faktor termasuk ukuran jenis dan tipe desain. Misalnya, membandingkan serif vs sans-serif tipe, tipe miring vs tipe roman, panjang baris, spasi baris, kontras warna, desain tepi kanan-tangan (misalnya, pembenaran, tepi lurus tangan kanan) vs berkisar kiri , dan apakah teks ditulis dgn tanda penghubung.

penelitian keterbacaan telah dipublikasikan sejak akhir abad kesembilan belas. Meskipun sering ada persamaan dan kesepakatan tentang banyak topik, yang lain sering membuat daerah pedih konflik dan variasi pendapat. Sebagai contoh, tak seorang pun telah memberikan jawaban yang konklusif, sans serif font serifed atau, menyediakan keterbacaan yang paling sesuai dengan Alex Poole. [18]

topik lain seperti vs dibenarkan dibenarkan jenis, penggunaan tanda hubung, dan font yang tepat bagi orang-orang dengan kesulitan membaca seperti Dyslexia, terus menjadi subyek perdebatan. Website seperti hgredbes.com, larangan sans komik, Nasional Inggris Melek Trust, dan Mark Simsonson Studio telah mengangkat memperdebatkan pendapat pada mata pelajaran di atas dan banyak lagi setiap menyajikan posisi menyeluruh dan terorganisir dengan baik.

Keterbacaan biasanya diukur melalui kecepatan membaca, dengan skor pemahaman yang digunakan untuk memeriksa efektivitas (yaitu, bukan terburu-buru atau ceroboh membaca). Misalnya, Miles Tinker, yang menerbitkan banyak penelitian dari tahun 1930-an ke 1960-an, menggunakan kecepatan membaca peserta tes yang diperlukan untuk tempat kata-kata ganjil sebagai efektifitas filter.

The Keterbacaan Print Unit di Royal College of Art di bawah Profesor Herbert Spencer dengan Brian Coe dan Reynolds Linda [19] melakukan pekerjaan penting di daerah ini dan merupakan salah satu pusat yang mengungkapkan pentingnya saccadic irama gerakan mata untuk dibaca – khususnya kemampuan untuk menerima (mengakui makna yaitu kelompok) sekitar tiga kata sekaligus dan fisiognomi mata yang berarti bahwa mata lelah, jika baris yang diperlukan lebih dari 3 atau 4 dari melompat saccadic. Lebih dari ini ditemukan untuk memperkenalkan strain dan kesalahan dalam membaca (misalnya Menggandakan).

Hari-hari ini, penelitian keterbacaan cenderung terbatas untuk masalah kritis, atau pengujian solusi desain khusus (misalnya, bila tipografi baru dikembangkan). Contoh masalah-masalah kritis termasuk tipografi (juga disebut font) untuk orang dengan gangguan visual, dan tipografi tanda-tanda jalan raya, atau untuk kondisi lain di mana keterbacaan dapat membuat suatu perbedaan kunci.

Sebagian besar literatur penelitian keterbacaan agak atheoretical – berbagai faktor diuji secara individu atau gabungan (pasti begitu, sebagai faktor yang berbeda adalah saling tergantung), namun banyak tes dilakukan dalam ketiadaan model membaca atau persepsi visual. Beberapa typographers percaya bahwa bentuk kata secara keseluruhan (Bouma) sangat penting dalam mudah dibaca, dan bahwa teori pengakuan letterwise paralel adalah salah salah, kurang penting, atau tidak seluruh gambar.

Studi membedakan antara pengakuan Bouma dan pengakuan letterwise paralel yang berkaitan dengan bagaimana orang benar-benar mengenali kata-kata ketika mereka membaca, lebih menyukai pengakuan letterwise paralel, yang diterima secara luas oleh para psikolog kognitif. [Rujukan?]

Beberapa temuan yang disepakati bersama penelitian keterbacaan meliputi: [rujukan?]

* Teks diatur dalam huruf kecil lebih mudah dibaca daripada teks mengatur semua dalam huruf besar (kapital), mungkin karena struktur surat huruf kecil dan bentuk kata yang lebih khas.
* Extenders (ascenders, descenders dan bagian memproyeksikan lainnya) meningkatkan arti-penting (menonjol).
* Tegak tipe Regular (jenis roman) ditemukan lebih terbaca dari tipe miring.
* Kontras, tanpa kecerahan yang mempesona, juga telah ditemukan untuk menjadi penting, dengan hitam pada kuning / cream yang paling efektif.
* Gambar positif (misalnya hitam putih) lebih mudah untuk dibaca daripada negatif atau dibalik (misalnya putih hitam). Namun bahkan praktek yang diterima secara umum memiliki beberapa pengecualian, misalnya dalam beberapa kasus kecacatan. (Lihat Nasional Inggris Melek Trust untuk temuan mereka di daerah ini.)
* Bagian-bagian atas huruf berperan lebih kuat daripada bagian yang lebih rendah dalam proses pengenalan.

Mengeset teks menggunakan software LaTeX typesetting digital

Keterbacaan juga bisa dikompromikan dengan surat-spasi, spasi kata, atau memimpin yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Hal ini dapat ditingkatkan ketika ruang vertikal murah hati memisahkan baris teks, sehingga memudahkan mata untuk membedakan satu baris dari baris berikutnya, atau sebelumnya. Font dirancang dengan buruk dan mereka yang terlalu erat atau longgar dilengkapi juga dapat mengakibatkan keterbacaan miskin.

Tipografi adalah elemen dari semua bahan cetakan. publikasi berkala, khususnya surat kabar dan majalah, menggunakan elemen tipografi untuk mencapai penampilan, menarik khas, untuk membantu pembaca dalam menjelajahi publikasi, dan dalam beberapa kasus untuk efek dramatis. Dengan merumuskan panduan gaya, sebuah berkala standarisasi pada koleksi yang relatif kecil dari tipografi, masing-masing digunakan untuk unsur-unsur tertentu dalam publikasi, dan memanfaatkan konsisten ukuran tipe, miring, tebal, besar dan huruf kecil, warna, dan fitur tipografi lainnya . Beberapa publikasi, seperti The Guardian dan The Economist, pergi begitu jauh dengan komisi tipe desainer untuk menciptakan dipesan lebih dahulu (disesuaikan kustom) tipografi untuk penggunaan eksklusif mereka.

publikasi berkala yang berbeda desain publikasi mereka, termasuk tipografi mereka, untuk mencapai nada tertentu atau gaya. Misalnya, USA Today menggunakan gaya berani, penuh warna, dan relatif modern melalui penggunaan berbagai tipografi dan warna, ukuran jenis sangat bervariasi, dan nama surat kabar adalah ditempatkan pada latar belakang berwarna. Sebaliknya, The New York Times menggunakan pendekatan yang lebih tradisional, dengan warna yang lebih sedikit, kurang variasi jenis huruf, dan kolom lebih.

Terutama di halaman depan surat kabar dan pada sampul majalah, headline sering diatur dalam tipografi tampilan yang lebih besar untuk menarik perhatian, dan ditempatkan di dekat masthead tersebut.
[Sunting] tipografi Tampilan
Abad ke-19 John Wilkes Booth ingin poster dicetak dengan jenis kayu dan logam

Tampilan tipografi adalah elemen ampuh dalam desain grafis, di mana ada kekhawatiran sedikit untuk dibaca dan lebih berpotensi untuk menggunakan tipe secara artistik. Jenis dikombinasikan dengan ruang negatif, elemen grafis dan gambar, membentuk hubungan dan dialog antara kata dan gambar.

Warna dan ukuran elemen jenis jauh lebih umum daripada di tipografi teks. Kebanyakan menampilkan jenis eksploitasi tipografi pada ukuran lebih besar, dimana rincian desain huruf yang diperbesar. Warna digunakan untuk efek emosional dalam menyampaikan nada dan sifat materi pelajaran.

Tampilan tipografi meliputi:

* Poster, sampul buku;
* Tipografi logo dan wordmarks; billboard;
* Kemasan dan pelabelan; on-produk tipografi, kaligrafi;
* Grafiti; inscriptional dan arsitektur huruf;
* Poster desain dan skala besar lainnya huruf signage;
* Bisnis komunikasi dan jaminan promosi, iklan;
* Wordmarks dan logo tipografi (logo),
* Dan tipografi kinetik dalam film dan televisi; vending menampilkan mesin; online dan komputer menampilkan layar.

Poster menginginkan untuk pembunuh Abraham Lincoln dicetak dengan timbal dan jenis ukiran kayu, dan menggabungkan fotografi.
[Sunting] Periklanan

Tipografi telah lama menjadi bagian penting dari materi promosi dan iklan. Desainer sering menggunakan tipografi untuk menetapkan tema dan suasana hati dalam sebuah iklan, misalnya dengan menggunakan huruf tebal, teks besar untuk menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca. Jenis ini sering digunakan untuk menarik perhatian pada iklan tertentu, dikombinasikan dengan penggunaan efisien warna, bentuk dan gambar. Hari ini, tipografi dalam iklan sering mencerminkan merek perusahaan. Font yang digunakan dalam iklan menyampaikan pesan yang berbeda untuk pembaca, font klasik adalah untuk kepribadian yang kuat, sedangkan font yang lebih modern adalah untuk melihat, bersih netral. font tebal adalah digunakan untuk membuat laporan dan menarik perhatian.
[Sunting] huruf Inscriptional dan arsitektur
Lihat juga: prasasti
Sebuah iklan cetak untuk Encyclopædia Britannica dari masalah 1913 National Geographic

Sejarah huruf inscriptional erat terkait dengan sejarah menulis, evolusi letterforms dan kerajinan tangan. Meluasnya penggunaan komputer dan berbagai teknik etsa dan sandblasting hari ini telah membuat tangan diukir monumen langka, dan jumlah surat-pemahat kiri di AS terus berkurang.

Untuk huruf monumental menjadi efektif, harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam konteksnya. Proporsi surat perlu diubah karena ukuran dan jarak dari penampil meningkat. Seorang pakar letterer pemahaman keuntungan dari nuansa melalui banyak latihan dan pengamatan kerajinan mereka. Surat ditarik dengan tangan dan untuk proyek tertentu memiliki kemungkinan yang kaya spesifik dan sangat indah di tangan master. Setiap juga dapat memakan waktu hingga satu jam untuk mengukir, [rujukan?] Sehingga tidak mengherankan bahwa proses sandblasting otomatis telah menjadi standar industri.

Untuk membuat surat sandblasted, tikar karet adalah laser dipotong dari file komputer dan menempel pada batu. Pasir kemudian gigitan alur kasar atau saluran terbuka ke permukaan. Sayangnya, banyak dari aplikasi komputer yang menciptakan file ini dan antarmuka dengan laser cutter tidak memiliki tipografi yang tersedia, dan sering memiliki versi inferior dari tipografi yang tersedia. Apa yang kini dapat dilakukan dalam hitungan menit, bagaimanapun, tidak memiliki arsitektur yang mencolok dan geometri surat pahat-potong yang memungkinkan cahaya untuk bermain di pesawat berbeda yang interior.
[Sunting] Lihat pula

Simak

Baca secara fonetik

Kamus – Lihat kamus yang lebih detail

Google Terjemahan untuk:PenelusuranVideoEmailTeleponObrolanBisnis

http://www.howtogeek.com/howto/30065/how-to-understand-typography-like-a-professional-designer/

ttypographyTypography sangat sangat selalu hadir kita tidak melihat di sana lagi. Sebagai unsur seperti itu adalah untuk budaya kita, itu benar-benar aneh untuk berpikir itu memiliki sejarah sama sekali. Artikel ini akan berfungsi sebagai pendidikan kental pada kebijakan tipografi, termasuk istilah tipografi, petunjuk font yang tepat, karakter yang tidak biasa, dan sejarah.

Kami telah menjadi begitu terbiasa untuk berkomunikasi dengan jenis yang sebagian besar dari kita tidak memperhatikan apa yang dilakukannya, apalagi salah satu hasil desain menyakitkan yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Hampir semua jenis huruf besar memiliki sejarah panjang dan kekayaan penting untuk bagaimana font menyampaikan pada konten yang beruang. Setidaknya, setiap font yang tidak diciptakan oleh seseorang bernama “Pizzadude.”
Sejarah Singkat Jenis

sshot-228

Tradisi jenis gaya Barat mulai dengan anggota-anggota Taurat dan salinan tulisan tangan buku. Semua bahan tertulis dilakukan dengan tangan, perlahan dan perlahan, sering mengambil tahun untuk menghasilkan salinan buku. Gagasan tentang sebuah “huruf” atau “font” ini belum diketahui, walaupun kebanyakan ahli-ahli Taurat di seluruh dunia Barat memiliki keunggulan gaya mereka sendiri.

Ketika Jerman printer Johannes Gutenberg menemukan jenis cetak tekan barat satu bergerak, ia dan muridnya tangan-ukiran kayu tipe dalam gaya font Blackletter tulisan tangan. Dengan melakukan ini, Gutenberg tidak hanya menciptakan mesin di belakang ledakan besar melek huruf, tetapi juga jujur-untuk-kebaikan pertama “font” dalam bentuk yang dapat digunakan kembali kita memahami mereka pada hari ini.

Bahkan lebih dari sejarah sastra, sejarah tipografi ini identik dengan sejarah keaksaraan. desainer Jenis periode Renaissance dan Baroque mengambil inspirasi dari Gutenberg dan satu tipe printer lain bergerak, tetapi juga tampak Klasik (Roma) tipografi. Menggabungkan Majuscules Roma dengan Minuscules naturalistik ditemukan dalam teks-teks kuno yang mengilhami font Blackletter, typographers ini akhirnya membuat font dan huruf seperti yang kita gunakan saat ini. Handcarving individu dan dirancang penuh kasih potongan mengetik, typographers awal secara efektif menciptakan bagian yang penting dari bahasa yang kita berkomunikasi semua.

Sebuah screenshot font Garamond Jannon dari StormType Fontclub.

Selama bertahun-tahun, “font” yang ini, sederhana bergerak potongan kayu (atau logam, di kemudian, tahun lagi industri), ditempatkan ke belakang, tinta dan menjalankan atas substrat, misalnya, kertas. Karena tipe pencetakan bantuan gaya daun foto cermin, typesetters harus belajar untuk membaca karakter mundur dan menempatkan mereka mundur pada penekanan mereka. Belajar untuk menempatkan mesin terbang dengan membaca mereka mundur, typesetters sering diperingatkan untuk “Mind p mereka dan q’s” sebagai p huruf kecil dan huruf kecil q terlihat hampir identik.

Font ini adalah agonizingly dirancang di sekitar prinsip inti dari keterbacaan. Desainer memiliki tantangan untuk menciptakan setiap huruf cukup unik harus dibedakan dari sisa abjad, sementara menjaga gaya ditandai pengambilan feature. Keterbacaan adalah sebuah konsep terpisah sepenuhnya dari konsep pembacaan, yang adalah kemampuan untuk dibaca ketika salinan diatur dalam blok besar. hasil desain ini dalam font sebagai hari biasa seperti Helvetica atau Garamond mencerminkan tradisi lama sekali tidak diketahui oleh pengguna komputer paling modern, dan desainer banyak kemungkinan.

Dalam salah satu buku modern yang paling penting pada jenis, Elemen-elemen tipografi Gaya, Robert Bringhurst secara singkat membahas tentang kehidupan Jean Jannon, yang disebut “desainer tipe terbesar dari Baroque Prancis.” Menggambarkan Dia Jannon sebagai seorang Protestan yang agama dianiaya karena sebagian besar hidupnya, dan bahwa pengalamannya menyebabkan dia membuat tipografi yang “elegan tapi nonkonformis.” font Jannon adalah sering disamakan dengan Garamond, bahkan sampai hari ini. Ini adalah semacam sejarah diperbolehkan di balik setiap jenis huruf besar dan Bringhurst memungkinkan kita tahu itu. Hal ini dengan pemahaman seperti ini seorang desainer yang hebat dapat menikah halus, gaya tak terlihat untuk menyalin tubuh yang sederhana.

Dari Unsur Gaya tipografi oleh Robert Bringhurst

“Tipografi ada untuk menghormati konten.” Kata Bringhurst. Dan semua seni adalah, di bagian, pada artis. Seni tipografi mengatakan sesuatu pada gaya pribadi seter itu. Jannon adalah seorang Prancis nonkonformis tipografi yang dirancang rapi. Bila Anda mengatur tubuh salinan Anda di Jannon wajah, apa yang Anda katakan tentang isi dari kata-kata? Apakah Anda berbicara tentang bakat Prancis penulis? Dari ikonoklasme nya? Dari penderitaan dan penganiayaan? Ini adalah tingkat kekayaan, sejarah dan keahlian desainer berpengetahuan seperti petunjuk Bringhurst ketika mendekati masalah desain. Setiap wajah mengatakan sesuatu, bahkan jika tidak jelas.

sshot-236

font Digital itu, lebih atau kurang, efek yang tak terelakkan dari sejarah sebagai langkah desain menuju era komputer. Dalam rangka untuk menarik bagi desainer dan typographers, perusahaan seperti Apple dan Adobe diteliti font dicetak tahun lalu oleh pengrajin tipe master, membawa pekerjaan seumur hidup telaten dari desain ke ukuran file dari beberapa miniscule KB. Sementara font digital memiliki efek besar pada pembuatan desain lebih mudah diakses ke seluruh dunia, telah ada reaksi terhadap perlakuan font handcrafted tercinta. Banyak desainer telah memutuskan untuk memasukkan ini “usang” metode ke dalam desain mereka, dengan sengaja mengabaikan sleekness desain untuk alat dan mesin bahkan Gutenberg mungkin mengenali.

Bukan untuk mengatakan bahwa ini adalah kutipan-tanda kutip “benar” cara untuk merencanakan. Banyak bidang desain, termasuk desain situs, sakit sesuai untuk mencetak dengan angka kayu. Tetapi dengan pemahaman sejarah tipografi yang desainer yang baik harus dimulai dengan sebelum ia memutuskan untuk mengambil yang dibuat dengan hati-hati FUTURA, Gill Sans, atau Jean Jannon-dirancang font dan melakukan tak terkatakan, hal-hal yang benar-benar kasar itu bahwa desain mungkin panggilan untuk.
Tipografi Ketentuan Harus Anda Ketahui

* Body Copy: blok besar tipe diatur untuk dibaca dengan mudah kemungkinan terbesar. Tubuh menyalin semua harus diatur dalam font yang sama, dengan ukuran titik bersama untuk wajah dan memimpin.
* Huruf kecil: Atau dikenal sebagai huruf kapital. Sebagian besar abjad kita meminjam Majuscules dari bahasa Latin, atau Klasik letterforms.
* Sangat kecil: counterpart ke huruf kecil, Minuscules yang kami huruf kecil, disalin dan dimodifikasi sepanjang tahun untuk lebih sesuai dengan teman-teman mereka letterform Klasik.
* X-Tinggi: Dalam satu feature kecil dari font, yang “tinggi” yang disebut adalah ruang antara baseline dan titik tengah, yang sering puncak huruf kecil x.
* Baseline: Baris yang tak terlihat di mana font “. Istirahat” Descenders dapat dip di bawah baris ini, tetapi memiliki titik istirahat yang duduk di atasnya.
* Ascender: Pada feature Minuscules, yang Ascender adalah bagian dari font yang melebihi ketinggian-X, mendekati ketinggian surat Modal. Surat dengan ascenders adalah mereka l seperti, b, f, atau k.
* Descender: Juga di Minscules, yang descender adalah bagian yang dips bawah baseline. Surat yang berisi descenders adalah p, q, y, dan, dalam beberapa wajah, f.
* Ligatures: Kadang huruf kecil bertemu dalam kata-kata dan membuat titik singgung dan bentuk aneh yang dapat menyebabkan pembaca untuk tersandung tanpa menyadari mengapa. Typographers berseni menggabungkan huruf seperti “fi”, “ti”, “FFI” dengan cara yang mudah pada mata dan sering tidak terdeteksi sebagai karakter terpisah. font kualitas Banyak berisi ligatures antara mesin terbang mereka.
* Bowl: Terlampir putaran ruang dalam huruf seperti “o” dan “p” atau “B”.
* Counter atau Counterform: Buka bulat ruang dalam huruf seperti “c”, “G” atau “U.” The huruf kecil “e” memiliki mangkuk dan counterform.
* Letterspace: Istilah tipografi yang paling literal, LETTERSPACING adalah menambahkan spasi kosong di antara huruf individu. Hanya menambahkan spasi dan tidak dapat disamakan dengan kerning. Beberapa font easer untuk membaca Letterspaced, sementara beberapa lebih sulit.
* Kerning: Surat yang Kerned ketika ruang di antara huruf yang ditutup naik, membawa mereka lebih dekat bersama. Beberapa kombinasi huruf seperti “AV” sering harus kerning untuk tidak terlihat canggung dan diisi dengan ruang kelebihan. kerning Sebagian besar tipe komputer modern dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak, tetapi mungkin memerlukan pengamatan tergantung pada font atau situasi.
* Lead atau Memimpin: Timbal adalah ruang antara garis pangkal teks di copy tubuh. Misalnya, “double-spacing” penelitian makalah Anda pada Word adalah meningkatkan tingkat tinggi. Memimpin ditetapkan dalam mata dan biasanya diatur pada titik yang sama dengan font atau sedikit lebih tinggi. Hal ini diucapkan “Lead” seperti dalam zat logam berat dalam kasus “Lead” dan “Memimpin.”
* Serif: serifs berkembang tradisional, mata, dan bentuk di ujung stroke surat. Ini adalah keunggulan dari gaya font yang lebih tua dengan akar di Roma, Italia, dan skrip Jerman. Ini awalnya merupakan bagian dari stroke samaran naturalistik dan menjadi bagian dari feature satu font. Ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang mungkin Anda berpikir untuk font pertama tanpa serif yang akan dibuat dan dan banyak digunakan.
* Jenis nerd: Tepat seperti apa suara, Nerds Jenis menikmati menunjukkan ketika seseorang menggunakan Faux Bold atau Perdana Double bukan kutipan benar. Tipografi adalah sebuah bentuk seni yang dibuat oleh sticklers, dan menciptakan banyak Nerds Jenis.

Kebijakan Jenis Font

sshot-243

Serif: Apa yang telah menjadi standar standar, serif font mereka telah berkembang, mata, dan bentuk pada ujung stroke mereka. Serif font sering dianggap “tradisional,” dan sering digunakan lebih banyak untuk mengatakan sesuatu pada tradisi ini di lebih konservatif, desain kuno. copy Tubuh diatur dalam font serif sering sangat mudah dibaca. Serif umum adalah Times, Georgia, Garamond, Minion, dan Baskerville.

sshot-242

Sans serif: Ketika Sans serif font pertama diciptakan, orang-orang menyebut mereka “Grotesque.” Nama ini masih ada sampai sekarang sebagai salah satu generasi pertama dari font Sans serif. Sans adalah sepupu hipster lebih modern untuk font serif. Banyak desain tipografi saat ini menggunakan font Sans. Sans umum adalah Helvetica, Efek, FUTURA, Frutiger, Myriad, atau Tahoma.

sshot-240

Slab serif: Font serif dipopulerkan pada abad ke-19 ketika dunia Barat mengembangkan minat dalam sejarah Mesir. Slab serif memiliki lembaran gumpal dari serif sebagai lawan yang menunjuk atau membangun yang fitur font serif berdasarkan humanistik, letterforms tulisan tangan. Slab Common serifs Rockwell dan Kurir, font mesin ketik.

sshot-248

Blackletter: Sayangnya, ini sering disebut “Inggris Kuno” font. Blackletters adalah font pertama yang akan dicetak oleh tipe ponsel, dan karena itu huruf pertama dalam pengertian, berkali-modern. Mereka adalah berdasarkan tradisi caligraphic dan satu kali digunakan oleh Gutenberg untuk mencetak Alkitab Gutenberg terkenal. Sebuah Blackletter umum adalah Fraktur.

sshot-241

Dingbat: Dekorasi, non letterform mesin terbang yang digunakan untuk kebutuhan berbagai dekoratif. Common Dingbat font Zapf Dingbats dan Wingdings.

sshot-244

Tampilan font: Font yang dirancang khusus untuk jangka pendek, teks eye-catching. Poster, iklan, dan header web desain paling baik dilakukan dalam font Tampilan.

sshot-245

Tubuh Font: Font dimaksudkan untuk membentuk bagian-bagian besar tubuh salinan. Instruksi, koran, dan isi dari posting blog semua harus diatur dalam font tubuh yang sesuai.

sshot-246

Kaligrafi atau Script Font: Font dirancang berdasarkan tulisan tangan seseorang atau dirancang untuk terlihat seperti tulisan tangan. Ini dapat sebagai rumit sebagai Edwardian Script atau yang sederhana seperti belum membenci Sans MS sederhana Komik.

sshot-247

Novelty Font: Digital tipografi telah memungkinkan desainer untuk membuat segala macam aneh, tapi anehnya tampan font. Ini bisa berkisar dari berguna untuk ke, dari menyalin font judul film, untuk meminjam gaya seniman Graffiti. Kebaruan adalah semacam istilah payung saya sendiri. Saya menggunakannya untuk menggambarkan perbedaan antara trend mode desain font versus sejarah, lama didirikan dan jenis font yang tak terbantahkan.
Tips untuk Tipografi Lebih Baik

* Setiap kali terjadi, menghormati sejarah tipografi Anda.
* Sembunyikan saja mungkin belum dirancang untuk peregangan, menekuk, atau terdistorsi.
* Design untuk dibaca dan keterbacaan. Jenis seharusnya dibaca.
* Pertimbangkan apa font Anda dirancang untuk saat memilih itu. Jangan menulis memo Anda di Impact. Mengirim email yang dikirim di Funstuff membuat Anda terlihat konyol.
Banyak font * dirancang untuk ditetapkan dalam kasus Atas dan Bawah. font Script adalah contoh dari ini dan letaknya-sah dalam semua topi.
* Blackletter font contoh lain. Ada estetika yang berhubungan dengan semua-topi Blackletter font, tetapi mereka tidak selalu menawarkan untuk membaca seperti itu.
* Jika tujuan utama Anda adalah berkomunikasi konten, sederhana sering lebih baik.
* Gunakan beberapa font dan ukuran titik dalam font tersebut mungkin pada desain tunggal.
* Jika Anda menggunakan font yang berbeda atau ukuran titik di font dalam desain, pastikan Anda memiliki alasan.
* Pastikan mereka cukup berbeda bahwa perbedaan itu adalah melihat.
* Jika Anda mengabaikan salah satu dari yang disebut “aturan desain,” memiliki alasan yang baik, dan melakukannya dengan sangat baik.

Khusus terima kasih dan kredit ke Tipografi WikiProject. Artikel Anda telah membantu saya sikat di jenis pengetahuan berhenti berkembang saya. Gambar diambil dari Unsur tipografi Style oleh Robert Bringhurst diasumsikan petunjuk yang adil. Semua tipografi yang lain dianggap milik umum di bawah Threshold dari Orisinalitas. Dan untuk catatan, saya punya banyak cinta untuk Pizzadude.
Simak
Baca secara fonetik

Simak

Baca secara fonetik

WIKI MEDIA

http://en.wikipedia.org/wiki/Typography

tipografi tradisional typographyIn, teks terdiri untuk membuat, mudah dibaca koheren, dan secara visual seluruh memuaskan yang bekerja tidak terlihat, tanpa kesadaran pembaca. Bahkan distribusi bahan mengeset, dengan minimal gangguan dan anomali, adalah bertujuan untuk menghasilkan kejelasan dan transparansi.

Pilihan font (s) adalah aspek utama tipografi teks fiksi-prosa, non-fiksi, editorial, pendidikan, keagamaan, ilmu pengetahuan, spiritual dan komersial menulis semua memiliki karakteristik yang berbeda dan persyaratan tipografi yang tepat dan font. Untuk bahan bersejarah tipografi teks didirikan sering dipilih sesuai dengan skema genre sejarah yang diperoleh melalui proses yang panjang pertambahan, dengan tumpang tindih antara periode sejarah.

buku kontemporer lebih cenderung diatur dengan negara-of-the-art seriffed “Romawi teks” atau “Romawi buku” dengan nilai desain bergema seni desain masa kini, yang erat berdasarkan pada model tradisional seperti orang-orang dari Nicolas Jenson, Francesco Griffo (a punchcutter yang menciptakan model untuk tipografi Aldine), dan Claude Garamond. Dengan lebih khusus mereka persyaratan, surat kabar dan majalah mengandalkan kompak, font erat dilengkapi teks seriffed dirancang khusus untuk tugas tersebut, yang menawarkan fleksibilitas maksimum, mudah dibaca dan efisiensi penggunaan ruang halaman. font serif teks Sans sering digunakan untuk paragraf pengantar, teks insidentil dan artikel pendek keseluruhan. Sebuah fashion saat ini adalah pasangan jenis sans-serif untuk judul dengan kinerja tinggi font seriffed dari pencocokan gaya untuk teks artikel.

Tipografi dimodulasi oleh ortografi dan linguistik, struktur kata, frekuensi kata, morfologi, fonetik konstruksi dan sintaksis linguistik. Tipografi juga tunduk pada konvensi budaya tertentu. Sebagai contoh, dalam bahasa Perancis adalah kebiasaan untuk menyisipkan spasi non-breaking sebelum tanda titik dua (:) atau titik koma (;) dalam sebuah kalimat, sedangkan dalam bahasa Inggris tidak.
[Sunting] Warna

Dalam tipografi warna adalah densitas keseluruhan tinta pada halaman, ditentukan terutama oleh jenis dan ukuran wajah, yang terkemuka, tetapi juga oleh jarak kata dan kedalaman margin. [14] layout teks, nada atau warna materi set , dan interaksi teks dengan ruang putih halaman dan elemen grafis lainnya bergabung untuk menanamkan “merasa” atau “resonansi” dengan materi pelajaran. Dengan media cetak typographers juga prihatin dengan margin yang mengikat, pemilihan kertas dan metode pencetakan.
[Sunting] Keterbacaan dan keterbacaan
Tidak menjadi bingung dengan Keterbacaan.

Keterbacaan terutama kepedulian dari desainer jenis huruf, untuk memastikan bahwa setiap karakter individu atau mesin terbang yang jelas dan dibedakan dari semua karakter lain di font. Keterbacaan juga di bagian perhatian dari penyusun huruf untuk memilih jenis huruf dengan kejelasan sesuai desain untuk digunakan pada ukuran yang dimaksud. Contoh desain terkenal, Brush Script, berisi sejumlah surat tak terbaca karena banyak karakter yang dapat dengan mudah salah membaca terutama jika dilihat di luar konteks tekstual.

Keterbacaan terutama kepedulian dari desainer seter atau informasi. Ini adalah hasil yang diinginkan dari proses lengkap penyajian bahan tekstual untuk berkomunikasi arti sebagai jelas mungkin. Seorang pembaca harus dibantu dalam menjelajahi sekitar informasi dengan mudah, dengan surat yang optimal antar-, inter-kata dan khususnya jarak antar-line, ditambah dengan panjang baris yang sesuai dan posisi pada halaman, editorial “chunking” hati-hati dan pilihan teks arsitektur judul, folio, dan link referensi.
Teks mengeset di Iowan roman Old Style, huruf miring dan topi kecil, dioptimalkan di sekitar 10 kata per baris, jenis huruf berukuran di 14 titik pada pelacakan 1,4 x terkemuka, dengan 0,2 poin tambahan. Ekstrak esai oleh Oscar Wilde Renaisans Inggris ca Art. 1882.

Salah satu perbedaan yang paling jelas antara dua konsep disajikan oleh Walter Tracy dalam surat keputusan Kredit. Ini … ‘dua aspek dari tipe’ … adalah … ‘mendasar untuk efektivitasnya. Karena arti umum dari “dibaca” adalah “dibaca” ada orang-orang – bahkan beberapa profesional yang terlibat dalam tipografi – yang berpikir bahwa “keterbacaan” istilah adalah semua yang diperlukan dalam setiap diskusi pada efektifitas jenis. Namun keterbacaan dan keterbacaan yang terpisah, meskipun aspek dihubungkan tipe. Dipahami dengan baik … dua istilah dapat membantu untuk menjelaskan karakter dan fungsi dari jenis yang lebih tepat daripada keterbacaan saja. … Dalam tipografi kita harus mengambil definisi … … keterbacaan berarti kualitas menjadi yg dpt ditafsirkan dan dikenali – sehingga kita dapat mengatakan, misalnya, bahwa h huruf kecil dalam miring gaya tertentu lama tidak terbaca dalam ukuran kecil karena nya kaki di-berpaling membuatnya tampak seperti huruf b, atau tokoh 3 dalam iklan baris terlalu mirip dengan 8. … Dalam keterbacaan layar ukuran lagi menjadi masalah yang serius, sebuah karakter yang menyebabkan ketidakpastian pada 8 ukuran titik akan cukup jelas di 24 titik ‘[15].

Perhatikan bahwa di atas berlaku untuk orang dengan penglihatan 20/20 pada jarak baca yang tepat dan di bawah pencahayaan yang optimal. Analogi dari grafik Optik, tes ketajaman visual dan independen makna, berguna untuk menunjukkan ruang lingkup konsep keterbacaan.

‘Dalam tipografi … jika kolom surat kabar atau majalah atau halaman dari buku bisa dibaca selama beberapa menit pada suatu waktu tanpa ketegangan atau kesulitan, maka kita dapat mengatakan jenis telah mudah dibaca baik. Istilah ini menggambarkan kualitas kenyamanan visual – syarat penting dalam pemahaman membentang panjang teks tetapi, paradoks, tidak begitu penting dalam hal-hal seperti direktori telepon atau air time-line-tabel, di mana pembaca tidak membaca terus menerus, tetapi mencari untuk item tunggal informasi. Perbedaan dalam dua aspek efektivitas visual diilustrasikan oleh argumen familiar di kesesuaian jenis sans-serif untuk pengaturan teks. Karakter pada wajah sans-serif tertentu mungkin sempurna terbaca dalam diri mereka sendiri, tapi tak seorang pun akan berpikir untuk setting sebuah novel populer di karena pembacaan yang rendah. ‘[16]’

Keterbacaan ‘mengacu pada persepsi’ dan keterbacaan ‘mengacu pada pemahaman’ [16]. Typographers bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dalam keduanya.

“Para jenis huruf yang dipilih harus dapat dibaca. Artinya, harus dibaca tanpa upaya Terkadang keterbacaan. Adalah hanya masalah ukuran tipe. Lebih sering Namun, ini adalah masalah desain huruf. Pada tipografi umum yang benar dasar letterforms lebih terbaca dari tipografi yang telah kental, diperluas, menghiasi, atau abstrak.

“Namun, bahkan sebuah jenis huruf dapat terbaca menjadi tidak terbaca melalui pengaturan miskin dan penempatan, hanya sebagai jenis huruf yang kurang dapat dibaca bisa dibuat lebih mudah dibaca melalui desain yang baik.” [17]

Studi dari kedua keterbacaan dan keterbacaan telah memeriksa berbagai faktor termasuk ukuran jenis dan tipe desain. Misalnya, membandingkan serif vs sans-serif tipe, tipe miring vs tipe roman, panjang baris, spasi baris, kontras warna, desain tepi kanan-tangan (misalnya, pembenaran, tepi lurus tangan kanan) vs berkisar kiri , dan apakah teks ditulis dgn tanda penghubung.

penelitian keterbacaan telah dipublikasikan sejak akhir abad kesembilan belas. Meskipun sering ada persamaan dan kesepakatan tentang banyak topik, yang lain sering membuat daerah pedih konflik dan variasi pendapat. Sebagai contoh, tak seorang pun telah memberikan jawaban yang konklusif, sans serif font serifed atau, menyediakan keterbacaan yang paling sesuai dengan Alex Poole. [18]

topik lain seperti vs dibenarkan dibenarkan jenis, penggunaan tanda hubung, dan font yang tepat bagi orang-orang dengan kesulitan membaca seperti Dyslexia, terus menjadi subyek perdebatan. Website seperti hgredbes.com, larangan sans komik, Nasional Inggris Melek Trust, dan Mark Simsonson Studio telah mengangkat memperdebatkan pendapat pada mata pelajaran di atas dan banyak lagi setiap menyajikan posisi menyeluruh dan terorganisir dengan baik.

Keterbacaan biasanya diukur melalui kecepatan membaca, dengan skor pemahaman yang digunakan untuk memeriksa efektivitas (yaitu, bukan terburu-buru atau ceroboh membaca). Misalnya, Miles Tinker, yang menerbitkan banyak penelitian dari tahun 1930-an ke 1960-an, menggunakan kecepatan membaca peserta tes yang diperlukan untuk tempat kata-kata ganjil sebagai efektifitas filter.

The Keterbacaan Print Unit di Royal College of Art di bawah Profesor Herbert Spencer dengan Brian Coe dan Reynolds Linda [19] melakukan pekerjaan penting di daerah ini dan merupakan salah satu pusat yang mengungkapkan pentingnya saccadic irama gerakan mata untuk dibaca – khususnya kemampuan untuk menerima (mengakui makna yaitu kelompok) sekitar tiga kata sekaligus dan fisiognomi mata yang berarti bahwa mata lelah, jika baris yang diperlukan lebih dari 3 atau 4 dari melompat saccadic. Lebih dari ini ditemukan untuk memperkenalkan strain dan kesalahan dalam membaca (misalnya Menggandakan).

Hari-hari ini, penelitian keterbacaan cenderung terbatas untuk masalah kritis, atau pengujian solusi desain khusus (misalnya, bila tipografi baru dikembangkan). Contoh masalah-masalah kritis termasuk tipografi (juga disebut font) untuk orang dengan gangguan visual, dan tipografi tanda-tanda jalan raya, atau untuk kondisi lain di mana keterbacaan dapat membuat suatu perbedaan kunci.

Sebagian besar literatur penelitian keterbacaan agak atheoretical – berbagai faktor diuji secara individu atau gabungan (pasti begitu, sebagai faktor yang berbeda adalah saling tergantung), namun banyak tes dilakukan dalam ketiadaan model membaca atau persepsi visual. Beberapa typographers percaya bahwa bentuk kata secara keseluruhan (Bouma) sangat penting dalam mudah dibaca, dan bahwa teori pengakuan letterwise paralel adalah salah salah, kurang penting, atau tidak seluruh gambar.

Studi membedakan antara pengakuan Bouma dan pengakuan letterwise paralel yang berkaitan dengan bagaimana orang benar-benar mengenali kata-kata ketika mereka membaca, lebih menyukai pengakuan letterwise paralel, yang diterima secara luas oleh para psikolog kognitif. [Rujukan?]

Beberapa temuan yang disepakati bersama penelitian keterbacaan meliputi: [rujukan?]

* Teks diatur dalam huruf kecil lebih mudah dibaca daripada teks mengatur semua dalam huruf besar (kapital), mungkin karena struktur surat huruf kecil dan bentuk kata yang lebih khas.
* Extenders (ascenders, descenders dan bagian memproyeksikan lainnya) meningkatkan arti-penting (menonjol).
* Tegak tipe Regular (jenis roman) ditemukan lebih terbaca dari tipe miring.
* Kontras, tanpa kecerahan yang mempesona, juga telah ditemukan untuk menjadi penting, dengan hitam pada kuning / cream yang paling efektif.
* Gambar positif (misalnya hitam putih) lebih mudah untuk dibaca daripada negatif atau dibalik (misalnya putih hitam). Namun bahkan praktek yang diterima secara umum memiliki beberapa pengecualian, misalnya dalam beberapa kasus kecacatan. (Lihat Nasional Inggris Melek Trust untuk temuan mereka di daerah ini.)
* Bagian-bagian atas huruf berperan lebih kuat daripada bagian yang lebih rendah dalam proses pengenalan.

Mengeset teks menggunakan software LaTeX typesetting digital

Keterbacaan juga bisa dikompromikan dengan surat-spasi, spasi kata, atau memimpin yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Hal ini dapat ditingkatkan ketika ruang vertikal murah hati memisahkan baris teks, sehingga memudahkan mata untuk membedakan satu baris dari baris berikutnya, atau sebelumnya. Font dirancang dengan buruk dan mereka yang terlalu erat atau longgar dilengkapi juga dapat mengakibatkan keterbacaan miskin.

Tipografi adalah elemen dari semua bahan cetakan. publikasi berkala, khususnya surat kabar dan majalah, menggunakan elemen tipografi untuk mencapai penampilan, menarik khas, untuk membantu pembaca dalam menjelajahi publikasi, dan dalam beberapa kasus untuk efek dramatis. Dengan merumuskan panduan gaya, sebuah berkala standarisasi pada koleksi yang relatif kecil dari tipografi, masing-masing digunakan untuk unsur-unsur tertentu dalam publikasi, dan memanfaatkan konsisten ukuran tipe, miring, tebal, besar dan huruf kecil, warna, dan fitur tipografi lainnya . Beberapa publikasi, seperti The Guardian dan The Economist, pergi begitu jauh dengan komisi tipe desainer untuk menciptakan dipesan lebih dahulu (disesuaikan kustom) tipografi untuk penggunaan eksklusif mereka.

publikasi berkala yang berbeda desain publikasi mereka, termasuk tipografi mereka, untuk mencapai nada tertentu atau gaya. Misalnya, USA Today menggunakan gaya berani, penuh warna, dan relatif modern melalui penggunaan berbagai tipografi dan warna, ukuran jenis sangat bervariasi, dan nama surat kabar adalah ditempatkan pada latar belakang berwarna. Sebaliknya, The New York Times menggunakan pendekatan yang lebih tradisional, dengan warna yang lebih sedikit, kurang variasi jenis huruf, dan kolom lebih.

Terutama di halaman depan surat kabar dan pada sampul majalah, headline sering diatur dalam tipografi tampilan yang lebih besar untuk menarik perhatian, dan ditempatkan di dekat masthead tersebut.
[Sunting] tipografi Tampilan
Abad ke-19 John Wilkes Booth ingin poster dicetak dengan jenis kayu dan logam

Tampilan tipografi adalah elemen ampuh dalam desain grafis, di mana ada kekhawatiran sedikit untuk dibaca dan lebih berpotensi untuk menggunakan tipe secara artistik. Jenis dikombinasikan dengan ruang negatif, elemen grafis dan gambar, membentuk hubungan dan dialog antara kata dan gambar.

Warna dan ukuran elemen jenis jauh lebih umum daripada di tipografi teks. Kebanyakan menampilkan jenis eksploitasi tipografi pada ukuran lebih besar, dimana rincian desain huruf yang diperbesar. Warna digunakan untuk efek emosional dalam menyampaikan nada dan sifat materi pelajaran.

Tampilan tipografi meliputi:

* Poster, sampul buku;
* Tipografi logo dan wordmarks; billboard;
* Kemasan dan pelabelan; on-produk tipografi, kaligrafi;
* Grafiti; inscriptional dan arsitektur huruf;
* Poster desain dan skala besar lainnya huruf signage;
* Bisnis komunikasi dan jaminan promosi, iklan;
* Wordmarks dan logo tipografi (logo),
* Dan tipografi kinetik dalam film dan televisi; vending menampilkan mesin; online dan komputer menampilkan layar.

Poster menginginkan untuk pembunuh Abraham Lincoln dicetak dengan timbal dan jenis ukiran kayu, dan menggabungkan fotografi.
[Sunting] Periklanan

Tipografi telah lama menjadi bagian penting dari materi promosi dan iklan. Desainer sering menggunakan tipografi untuk menetapkan tema dan suasana hati dalam sebuah iklan, misalnya dengan menggunakan huruf tebal, teks besar untuk menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca. Jenis ini sering digunakan untuk menarik perhatian pada iklan tertentu, dikombinasikan dengan penggunaan efisien warna, bentuk dan gambar. Hari ini, tipografi dalam iklan sering mencerminkan merek perusahaan. Font yang digunakan dalam iklan menyampaikan pesan yang berbeda untuk pembaca, font klasik adalah untuk kepribadian yang kuat, sedangkan font yang lebih modern adalah untuk melihat, bersih netral. font tebal adalah digunakan untuk membuat laporan dan menarik perhatian.
[Sunting] huruf Inscriptional dan arsitektur
Lihat juga: prasasti
Sebuah iklan cetak untuk Encyclopædia Britannica dari masalah 1913 National Geographic

Sejarah huruf inscriptional erat terkait dengan sejarah menulis, evolusi letterforms dan kerajinan tangan. Meluasnya penggunaan komputer dan berbagai teknik etsa dan sandblasting hari ini telah membuat tangan diukir monumen langka, dan jumlah surat-pemahat kiri di AS terus berkurang.

Untuk huruf monumental menjadi efektif, harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam konteksnya. Proporsi surat perlu diubah karena ukuran dan jarak dari penampil meningkat. Seorang pakar letterer pemahaman keuntungan dari nuansa melalui banyak latihan dan pengamatan kerajinan mereka. Surat ditarik dengan tangan dan untuk proyek tertentu memiliki kemungkinan yang kaya spesifik dan sangat indah di tangan master. Setiap juga dapat memakan waktu hingga satu jam untuk mengukir, [rujukan?] Sehingga tidak mengherankan bahwa proses sandblasting otomatis telah menjadi standar industri.

Untuk membuat surat sandblasted, tikar karet adalah laser dipotong dari file komputer dan menempel pada batu. Pasir kemudian gigitan alur kasar atau saluran terbuka ke permukaan. Sayangnya, banyak dari aplikasi komputer yang menciptakan file ini dan antarmuka dengan laser cutter tidak memiliki tipografi yang tersedia, dan sering memiliki versi inferior dari tipografi yang tersedia. Apa yang kini dapat dilakukan dalam hitungan menit, bagaimanapun, tidak memiliki arsitektur yang mencolok dan geometri surat pahat-potong yang memungkinkan cahaya untuk bermain di pesawat berbeda yang interior.
[Sunting] Lihat pula
[Sunting] organisasi Pendukung

* ATypI (Perancis: Association Internationale Typographique; Asosiasi tipografi Internasional)
* Emil Ruder
* Masyarakat pecinta tipografi
* The Typophiles
* Jenis Direksi Club
* Typophile (internet forum)

Tipografi

http://sigita.web.id/2010/05/seputar-tipografi/

Menurut Adi Kusrianto, latar belakang munculnya tipografi atau ilmu tentang huruf dimulai sejak usaha manusia berusaha menuangkan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada orang melalui tulisan.[1] Selanjutnya, Dia mendefinisikan tipografi sebagai suatu proses seni untuk menyusun bahan publikasi menggunakan huruf cetak.[2] Dalam konteks pendidikan, bahan publikasi mencakup semua produk-produk pembelajaran baik cetak maupun non-cetak. Menyusun dalam pengertian ini adalah merancang bentuk huruf cetak hingga merangkainya dalam sebuah komposisi yang tepat untuk memperoleh suatu efek tampilan yang dikehendaki.

Teks adalah bagian penting dalam desain grafis. Sedangkan desain grafis merupakan unsur penting dalam desain media pembelajaran. Pada posisi inilah pengenalan terhadap tipografi menjadi penting.

Para ahli mengelompokkan huruf dalam berbagai berbagai sudut pandang. Berdasarkan latar belakang sejarah tipografi, Sihombing mengklasifikasikan huruf menjadi 5 (lima), Old Style (Garamond, 1716), Transitional (Baskerville, 1757), Modern (Bodoni, 1788), Egyptian/Slab Serif (Century Expended, 1895), dan Contemporary/Sans Serif (Helvetica, 1957).[3] Untuk melihat lebih detail perkembangan bentuk huruf dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Perkembangan Huruf (Adaptasi dari Danton Sihombing, 2007)

Berbeda dengan Sihombing, Adi Kusrianto mengklasifikan huruf berdasarkan 3 (tiga) sudut pandang, yaitu menurut kaitnya, sesuai kemiripan anatominya, dan menurut “The Type Book”. Pengelompokkan huruf menurut kaitnya yaitu melihat huruf sesuai dengan ada tidaknya counterstroke atau garis kait pada setiap ujungnya. Pengelompokkan huruf sesuai kemiripan anatominya adalah mengelompokkan huruf jika ditinjau dari kemiripan bentuk anatominya. Sedangkan pengelompokan huruf menurut “The Type Book” adalah pengelompokkan huruf berdasarkan sejarah diciptakan dan dikembangkannya dan menurut bentuk-bentuk huruf yang dapat dikelompokkan secara spesifik.[4]

Berdasarkan kaitnya, huruf dapat diklasifikasikan menjadi huruf “serif” (berkait) dan “sans serif” (tidak berkait).[5] Huruf serif memiliki garis-garis kecil (counterstroke) pada hampir semua letter yang posisinya berdiri horizontal terhadap badan huruf. Huruf-huruf serif antara lain Time New Roman, Bodoni BT, Americana, Arrus dan sebagainya.

Adapun huruf san serif adalah huruf-huruf tanpa serif (garis kait). Huruf-huruf ini memiliki sifat streamline, fungsional, dan kontemporer. Untuk pemakaian pada baris-baris teks yang panjang, huruf-huruf ini rendah dari sisi keterbacaan dan kejelasannya. Untuk lebih jelas, bandingkan kedua jenis huruf ini dengan melihat gambar berikut:

Gambar 2. Perbandingan Huruf-Huruf Serif dan San Serif

Pengelompokkan huruf sesuai dengan kemiripan anatominya, terbagi menjadi 6 (enam), yaitu:

  1. Huruf Roman, yaitu huruf-huruf yang memiliki ciri ketebalan huruf yang tidak sama. Ada bagian yang dibuat lebih tebal, sedangkan bagian lainnya lebih tipis, seperti: Time New Roman, Charlesworth, Bremen, Optima, dan sebagainya.
  2. Huruf Gothic, yaitu jenis huruf yang memiliki ciri ketebalan huruf yang sama, baik pada bagian yang lurus, lengkung, stroke (ekor) maupun barnya, seperti: AvantGarde Gothic, Century Gothic, Arial, Courier, dan sebagainya.
  3. Huruf Text, yaitu jenis huruf yang memiliki ketebalan garis-garis yang ringan serta tidak memiliki wajah yang terlalu besar, seperti: Century Schoolbook, Gill Sans, Humanist 521 Lt BT, dan sebagainya. Huruf ini lebih khusus digunakan untuk badan teks.
  4. Huruf Block, yaitu jenis-jenis huruf yang memiliki ketebalan sangat mencolok, seperti: Arial Black, Boton, Bremen, Eras Ultra, dan sebagainya. Umumnya jenis huruf ini digunakan untuk penulisan judul, huruf display dan kurang cocok untuk badan teks.
  5. Huruf Script, yaitu jenis huruf yang diambil dari tulisan tangan, meskipun tidak selama demikian, karena berkembang menjadi Freehand dengan berbagai macam coraknya. Contoh-contoh hurufnya seperti: Brush Script, Staccato, Amazone BT, dan sebagainya.
  6. Huruf Italic, yaitu jenis huruf yang strokes-nya tidak berdiri tegak, melainkan memiliki derajat kemiringan ke kanan, seperti: Eras Demi, Bazooka, Tubular, dan sebagainya. [6]

Untuk lebih jelas membandingkan dari keenam jenis huruf tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Pengelompokkan huruf berdasar kemiripan anatominya

Referensi

[1] Adi Kusrianto, Tipografi Komputer…, hal. 2-3

[2] Adi Kusrianto, Pengantar Desain Komunikasi Visual, (Yogyakarta: Andi, 2007) hal. 190

[3] Danton Sihombing, Tipografi…, hal. 37.

[4] Adi Kusrianto, Tipografi Komputer…, hal. 24-43

[5] Adi Kusrianto, Tipografi Komputer…, hal. 23

[6] lih. Adi Kusrianto, Tipografi Komputer…, hal. 26-27

KESUNGGUHAN BELAJAR TIPOGRAFI BANYAK MANFAATNYA

SEBAGAI LADANG BELAJAR MULTIMEDIA

BAHAN DASAR BELAJAR TIPOGRAFI

Renungan kata bijak , Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.Vision without execution is a daydream. Execution without vision is a nightmare.Japanese Proverb. Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.In this life we cannot always do great things. But we can do small things with great love. Mother Teresa. Hidup ini singkat. Tidak ada waktu untuk meninggalkan kata-kata penting tak terkatakan. Life is short. There is no time to leave important words unsaid. Paulo Coelho. Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan.The way to get started is to quit talking and begin doing. Walt Disney Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka. Minds are like parachutes – they only function when open.Thomas Dewar Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhirSuccess is a journey, not a destination. Ben Sweetland Mereka yang dapat memberi tanpa mengingat, dan menerima tanpa melupakan akan diberkati. Blessed are those that can give without remembering and receive without forgetting. Author Unknown

Sumber : http://www.katakatabijakmotivasi.com/index2.html

FILOSOFI LOGO

http://www.ptphapros.co.id/article.php?aid=8&lg=&m=Logo

Pada tahun 2004, Phapros menguak cakrawala baru. Bertepatan dengan Ulang Tahun Emas, Phapros meluncurkan identitas baru, yang akan mengantarkan Phapros menuju masa depan cerah di paruh kedua satu abad usianya.

Logo Phapros yang lebih dinamis ini, menegaskan falsafah bisnis yang telah menjadikan Phapros berkembang dari sebuah pabrik farmasi kecil di daerah menjadi salah satu perusahaan nasional terkemuka, dengan:

  • Tiga lingkaran mewakili stakeholder utama perusahaan; pelanggan, pemegang saham dan karyawan. Tiga lingkaran ini melambangkan pula betapa Phapros didukung tiga stakeholder tersebut dan keberadaan Phapros adalah untuk meningkatkan nilai ketiganya, guna melaju bersama menyongsong masa depan. Selain itu, ketiga lingkaran yang melayang juga melambangkan benih ide baru, dan bayangan yang ada melambangkan landasan yang kokoh. Kedekatan jarak antar lingkaran melambangkan nilai-nilai kekeluargaan yang menunjukkan karakter kuat yang dimiliki insan Phapros, sejak awal berdirinya sampai jauh ke depan.
  • Warna biru melambangkan inovasi, pertumbuhan, kesungguhan dan kearifan. Gradasi warna merah-kuning melambangkan keberanian dan kedinamisan organisasi Phapros.
  • Penggunaan tipografi yang sederhana melambangkan kejujuran tanpa meninggalkan citra Phapros yang kokoh. Bentuk tulisan miring dan huruf kecil melambangkan organisasi yang modern dan dinamis, yang terus bergerak maju dengan pikiran terbuka, tanpa melupakan harmoni dan keseimbangan. Gabungan antara tipografi dan lingkaran pada huruf “o” melambangkan kesatuan yang erat dalam organisasi.

1980-1989: Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit

Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit: Mau Merubah Dunia

Agus Dermawan T.

Sama sekali jauh dari keliru jika beberapa waktu yang lalu menteri P dan K Daoed Joesoef berkata bahwa, segi perwajahan dunia buku kita masih lemah. Jika boleh diteruskan, sebenarnya kelemahan semacam bukan hanya ada dalam dunia buku, tapi pada setiap produk yang menuntut suatu seni display-grafis. Produksi kaset, iklan, pembuatan folder umpamanya.

Bila pada dunia buku banyak dimaklumkan mengingat di sana yang musti digarap sangat kompleks, – untuk mengejar ‘wajah bagus’ seseorang harus menekuni banyak segi: pembuatan cover, layout, ilustrasi, perhitungan tipografi, halaman dan sebagainya, – maka pada produk lain sebenarnya lebih sederhana dari itu. Tapi tokh masih terasa lemah juga.

Contoh yang paling mudah disimak adalah sampul-sampul kaset, yang umumnya cenderung norak, gampangan dan jauh dari “sophisticated”. Pengandalan bintang penyanyi dengan segala gayanya lewat penyajian yang tanpa eksploitasi tipografi dan fotografi, tak jarang menyeret kesan mentah di hadapan orang banyak. Kelemahan produk satu ini nampaknya bukan dibawa oleh ketidak mampuan perancang-perancang grafis kita, tetapi oleh sistem kerja produksi itu sendiri. Umumnya perusahaan kaset kita tak menggunakan tangan seniman perancang grafis untuk mengolah segi itu.

Banyak iklan dan ratusan folder yang justru memberikan kesempatan pada orang untuk segera melengos dan tak memberikan perhatian khusus, karena ‘wajah’ grafis itu tak punya kekuatan apa-apa. Alhasil, calon konsumen hanya melintas saja. Tidak mampir.

Hal di atas sudah lama menempel dalam dunia bisnis kita. Satu hal yang kayaknya setengah disadari atau bahkan samasekali tak disadari. Karena itulah di Jakarta lantas muncul ide yang bagus, membentuk sebuah wadah untuk para perancang grafis. IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) yang dibentuk beberapa waktu yang lalu di Jakarta, selain bermaksud membenahi segala aspek yang mengganjal dunia perwajahan produk kita, dan menggali potensi perancang grafis yang ada, juga untuk menaikkan harkat dari perancang grafis itu sendiri. Sebab biar bagaimanapun, perancang grafis samasekali bukan figur yang tidak penting dalam ‘kancah dagang’ kita sekarang ini. Memasukkan seni dalam dunia bisnis, sungguhlah sesuatu yang elok.

Jadi mentah
Berkaitan dengan kesadaran itulah lantas Didit Chris Purnomo (30 tahun), Gauri Nasution (30) dan Hanny Kardinata (27), tiga perancang grafis, muncul dalam sebuah pameran. Berlangsung di Erasmus Huis, tanggal 16-24 Juni, pameran tersebut memang merupakan pameran rancangan grafis yang pertama di Indonesia. Tahun lalu, bulan November di Bandung pernah ada pameran design grafis non komersial. Tapi bukan oleh designer-designer kita, sebab mereka datang dari Belanda.

Ketiga pemamer di atas menyadari bahwa, banyak produk-produk yang sebetulnya cukup potensial dilempar ke pasaran, akhirnya jadi mentah atau ‘setengah matang’ lantaran kesalahan dan kegagalan yang tak disadari pembuat atau produsennya. Selanjutnya mereka menunjuk bahwa, “Kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan pada pembungkusan (packaging) dan rancangan produk (product design), pemilihan lambang dan logotype yang tak sesuai dengan karakteristik dan target market produk yang bersangkutan. Juga pemilihan warna yang tak tepat, periklanan dan promosi penjualan yang semrawut, dan sebagainya.” Tidaklah meleset. Dan “contoh perbaikan dari kesalahan” itulah yang mereka pamerkan kali ini. Dan lumayan, jika tak boleh dikatakan cukup bagus.

Ki-ka: Didit Chris Purnomo, Hanny Kardinata dan Gauri Nasution

Bau tembakau

Hanny Kardinata nampak kuat dengan ilustrasi yang menggunakan tehnik dry brush. Sebuah tehnik yang nampaknya jarang dilakukan orang. Pengerjaannya halus dan design bentuknya perfek. Hanny, lelaki tulen dari Surabaya, banyak menyandarkan rancangan grafisnya pada kekuatan itu.

Beberapa karyanya yang dipamerkan, diantaranya design orisinal poster pagelaran “Guruh Sukarnoputra” dan sampul buku “Guidebook to Restaurants in Jakarta”, menampilkan kesadaran bagaimana ia menyandingkan design gambarnya dengan bentuk-bentuk huruf, untuk mencapai totalitas karya secara baik. Meski tokh harus disadari bahwa pusat dari kekuatan rancang grafis Hanny tetap pada form atau gaya ilustrasi yang dibentuk.

Hampir semua ilustrasi Hanny disikat dengan teknik begitu. Misalnya ilustrasi yang diperuntukkan buat kepala rubrik “Fokus”, “Start”, “Komunikasi” dan “Finish” yang selama ini dipakai untuk majalah VISI. Barangkali memang tidak terlampau orisinal karena type semacam juga dikerjakan oleh designer-designer majalah hiburan lelaki semacam Playboy atau Penthouse atau OUI. Tapi itu tak menjadi soal. Sebab pada design produk yang penting adalah sasarannya, dayatariknya terhadap orang banyak dan sugesti pada penikmatnya. Dan yang tak boleh dilupakan dalam jejeran karya Hanny adalah sebuah design iklan “Djarum Kudus”. Warna relief candi (dan di sisi lain terpahat gambar cap rokok Djarum) benar-benar merupakan bau tembakau. Sebuah iklan yang sukses d/itinjau dari aspek perwajahan.

Hanny Kardinata, Corporate Ad “Djarum”, 1978

Seperti juga Hanny, Didit Chris Purnomo adalah bekas mahasiswa STSRI “Asri”. Beberapa logotype dan rancangan sampul majalah serta buku dipajang. Bahkan tergelar juga perjalanan proses penautan separasi warna sebuah sampul majalah. Kesungguhannya memang nampak, meski yang dihasilkan tidaklah istimewa benar. Designer ini lahir di Solo.

Gauri Nasution (kakak Keenan Nasution) juga banyak memamerkan rancangan sampul majalah. Majalah SO (Sport Otak), Maskulin dan VISI. Menarik, tentu saja. Tetapi penggelaran proses pembuatan tipografi kaset Chrisye, sampai pada bentuk akhir sampul kaset itu, “Percik Pesona”, lebih merangsang. Terasa sangat teliti, perfek dan penyajiannya pun informatif. Gauri adalah pencipta logotype majalah VISI dan Maskulin (almarhum) serta pembuat beberapa sampul kaset pop. Khusus untuk yang terakhir ini, perlu dicatat: Gauri termasuk satu di antara sangat sedikit pencipta sampul kaset yang baik sementara ini.

Ia lahir di Jakarta dan pernah belajar di Art Instruction School, Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat pada bagian commercial art.

Nietzche
Beri aku sehelai kertas, pena dan tinta, dan aku akan merubah dunia, kata Nietzche. Kalimat itu memang dicanangkan untuk menggaet kepercayaan orang akan kepujanggaan Nietzche waktu itu. Tapi kali ini kalimat bertuah tersebut dipakai oleh 3 perancang grafis di atas. Tidak melenceng, sebab grafis juga hanya membutuhkan sehelai kertas, pena dan tinta pada awalnya. Meski pada tahap berikutnya ia tokh tergantung pada mekanisme kerja mesin yang kadang di luar jangkauan perkiraan designer. Merubah dunia? Ya. Dunia perwajahan, yang sampai ujung waktu ini kurang terperhatikan.

Sumber: Harian “Kompas”, Rabu, 25 Juni 1980, halaman VI.

http://hgdi.wordpress.com/2009/05/06/1980-1989-pameran-rancangan-grafis-hanny-gauri-didit/

Sebuah website tutorial desain grafis belum lengkap kiranya jika belum membahas tipografi atau typography. Pada tutorial desain ini akan saya bahas tentang sejarah tipografi, tipe anatomi tipografi, klasifikasi tipe, tipe famili, tipe measurements atau pengukuran dan penerapannya dalam pengerjaan karya desain grafis. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

DEFINISI
Tipografi adalah suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan. Seni merupakan induk dari desain grafis.

SEJARAH TIPOGRAFI
Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi Roman, Egyptian, Serif, Sans Serif, Script, Miscellaneous. Untuk artikel lengkap masalah golongan huruf silakan baca disini.

ANATOMI TIPOGRAFI
Jarang sekali saya menemui tutorial desain grafis membahas tentang anatomi tipografi atau anatomi font. Ada beberapa hal yang wajib diketahui dalam dunia typografi. Salah satunya adalah anatomy tipografi atau anatomi huruf.

– arm
– stem
– counter
– stroke
– shoulder
– apex
– galliard
– serif
– bracket
– crossbar
– tail
– spine
– bowl
– ear
– loop
– link
– eye
– leg
– ascender
– cap height
– capline
– meanline
– x height
– baseline
– descender

Istilah dari typeface dan model huruf sering synonmously, bagaimanapun, suatu typeface adalah perancangan karakter-karakter yang bersatu, dipersatukan oleh properti konsistanvisual, selagi suatu model huruf adalah suatu himpunan lengkap dari karakter di dalam setiap desain, ukuran, bentuk, atau gaya, dari tipe. ( akan dijelaskan pada artikel lain ).

KLASIFIKASI TIPE

– Old Syle atau egyptian
– Transisional atau roman
– Modern
– Slab serif
– Sans serif
– Display atau misc atau dingbat atau semacamnya
– Script
– Monospace
– Black Letter

Pada klassifikasi banyak pendapat yang berbeda untuk menentukan golongan ini. Karena punya pendapat dan tori tersendiri sehingga saya harus memberikan tulisan atau sebagai pembandingnya.

TIPE FAMILI

– Light Condensed
– Light
– Light Extended
– Regular Condensed
– Regular
– Regular Extended
– Semibold Condensed
– Semibold
– Semibold Extended
– Bold condensed
– Bold
– Bold Extended
– Black Condensed
– Black
– Black Extended

Tipe famili adalah group tipeface yang terikat menjadi satu oleh persamaan karakter visual. Pada tipe famili ini saya menulisnya dari paling kecil ukurannnya hingga paling besar. Tipe famili terdiri dari perbedaan berat dan lebar. Contoh seperti nama ITC Lubalin akan mempunyai 15 tipe famili dengan menambahkan tulisan ITC Lubalin sebelum nama tipe famili..

TIPE PENGUKURAN

– Leading
– Kerning
– Tracking
– Baseline Shift
– Left aligned
– Center aligned
– Right aligned
– Justified aligned

Ada dua tipe pengukuran, relatif dan spacing measurements. Yang saya tampilkan pada tutorial desain grafis untuk tipografi ini adalah tipe spacing measurements.

PENERAPAN TYPOGRAFI
Tipografi dapat diterapkan pada berbagai macam karya desain. Hasil karya desain menjadi menarik, komunikatif, harmonis, dan attraktif ketika menggunakan tipografi yang tepat. Contoh pada koran dan majalah seringkali menggunakan font yang ramping dan jelas seperti Times New Roman, Helvetica dan sejenisnya. Untuk huruf header dan judul artikel biasanya menggunakan Impact, Arial Black, dan Bold Times New Roman yang tegas. Itu semua berkaitan dengan legibility atau kejelasan keterbacaan.

Huruf untuk karya desain grafis pada undangan pernikahan kita seringkali menggunakan font dengan karakter tegak bersambung yang mempunyai garis-garis melintang yang mengesankan royal atau agung. Ini tidak lepas dari peran tipografi. Huruf ada yang mengesankan kekanak-kanakan seperti comic sans dapat dibentuk sedemikian rupa karena adanya penekanan-penekanan yang biasa dilakukan pada tulisan anak-anak.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/tipografi.html

WARNA

http://id.wikipedia.org/wiki/Warna

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer.

Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer.

Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta.

Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.

Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain kafan (meskipun secara teoritis sebenarnya putih bukanlah warna).

Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.

PENGELOMPOKAN

  1. Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.
  2. Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning dengan ungu dan biru dengan jingga.
  3. Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol, riang, semangat, marah dsb. Warna panas mengesankan jarak yang dekat.
  4. Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman dsb. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh.

Istilah lain

  • Nilai warna, ditentukan oleh tingkat kecerahan maupun kesuraman warna. Nilai ini dipengaruhi oleh penambahan putih ataupun hitam. Di dalam sistem RGB, nilai ini ditentukan oleh penambahan komponen merah, biru, dan hijau dalam komposisi yang tepat sama walaupun tidak harus penuh seratus persen.

Nilai warna, ditentukan oleh tingkat kecerahan maupun kesuraman warna. Nilai ini dipengaruhi oleh penambahan putih ataupun hitam. Di dalam sistem RGB, nilai ini ditentukan oleh penambahan komponen merah, biru, dan hijau dalam komposisi yang tepat sama walaupun tidak harus penuh seratus persen.

WARNA DASAR

 

Fractal Broccoli

 

Amarillo

 

Aureolin

 

Cadmium yellow

 

Cadmium yellow light

 

Hanza yello

 

Hanza yellow light

 

Naples yellow

 

Nickeltintate

 

Yellow ironoxide

 

Yellow ochre

 

Sulphur crystal

 

Sulpherous Fumeroles

[sunting] Warna kombinasi

 

Solid gray

 

Sunset at French Riviera

 

Aster

 

Violettöne eines Fußbettes.

 

1940 Ford automobile.

 

  • Crimson
 

Crimson sunset

  • Maroon
  • Magenta

(de)

Warna harmonis

▓▓▓▓▓ ▓ ▓ ▓ ▓ █ ▓ ▒ ░

Galeri

 

Brown, orange, yellow and red

 

Blue, brown, red, green, blue and shades

 

Red, white, black, green and shades

 

Black and red

 

 

 

Green and red

 

Silver, yellow, brown, silver, black, ochre, orange, dark red, crimson, grey and blue

 

orange, white, green, blue, red

 

Orange, brown, red, green, yellow and shades

 

Buntstifte.|…

 

Farbige streifen.

Pigmen adalah zat yang terdapat di permukaan suatu benda sehingga bila disinari dengan cahaya putih sempurna akan memberikan sensasi warna tertentu yang mampu ditangkap mata. Proses secara fisik sangatlah berbeda dengan fluorescent, phosphorescence dan bentuk lain dari luminescence, yang mana materi tersebut dapat mengeluarkan cahaya dengan sendirinya.

Di dalam dunia percetakan, pigmen dibagi dalam tiga pigmen dasar yang mampu meniru pigmen-pigmen lain jika dicampurkan dengan proporsi tepat, yaitu pigmen cyan, magenta, dan kuning. Sebagai tambahan, untuk mendapatkan kedalaman warna ditambahkan pigmen hitam. Misalnya untuk mendapatkan sensasi warna merah, dicampurkan pigmen magenta dan kuning dengan proporsi 1:1.

Berkebalikan dengan teori warna cahaya, di dalam teori pigmen sensasi putih dianggap sebagai absennya seluruh pigmen.

Pigmen dipakai sebagai bahan pewarna cat, tinta, plastik, tekstil, kosmetik, makanan dan lain-lain. Kebanyakan pigmen yang digunakan dalam industri dan dalam seni rupa adalah zat warna kering, yang biasanya berupa serbuk halus. Serbuk ini ditambahkan pada bahan netral atau tak berwarna yang berfungsi sebagai pengikat (binder).

Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.

Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Hubungan antar warna

Kontras komplementer

Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

Kontras split komplemen

Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan.

Kontras triad komplementer

Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

Kontras tetrad komplementer

Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

Pembagian warna

Warna primer

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

Warna sekunder

Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning , hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

Warna tersier

Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

Warna netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Warna panas dan dingin

Lingkaran warna primer hingga tersier bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah. Sementara warna dingin dimulai dari ungu kemerahan hingga hijau.

Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya. Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warna-warna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang.

Ilmu Grafis Tutorial Desain Color Theori Atau Teori Warna ini membahas Teori Brewster yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori Warna – Teori Waarna ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Pembagian Warna

Warna primer
Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning. Warna primer menurut teori warna pigmen dari Brewster adalah warna-warna dasar. Warna-warna lain dibentuk dari kombinasi warna-warna primer. Pada awalnya, manusia mengira bahwa warna primer tersusun atas warna Merah, Kuning, dan Hijau. Namun dalam penelitian lebih lanjut, dikatakan tiga warna primer adalah:

1. Merah (seperti darah)
2. Biru (seperti langit atau laut)
3. Kuning (seperti kuning telur)

Ini kemudian dikenal sebagai warna pigmen primer yang dipakai dalam dunia seni rupa. Campuran dua warna primer menghasilkan warna sekunder. Campuran warna sekunder dengan warna primer menghasilkan warna tertier. Akan tetapi secara teknis, merah – kuning – biru, sebenarnya bukan warna pigmen primer. Tiga warna pigmen primer adalah magenta, kuning dan cyan. (Oleh karena itu apabila menyebut \”merah, kuning, biru\” sebagai warna pigmen primer, maka \”merah\” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan \”magenta\” sedangkan \”biru\” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan \”cyan\”). Biru dan hijau adalah warna sekunder dalam pigmen, tetapi merupakan warna primer dalam cahaya, bersama dengan merah.

Landasan biologis
Pada dasarnya warna primer adalah bukan milik cahaya, tapi lebih merupakan konsep biologis, yang didasarkan pada respon fisiologis mata manusia terhadap cahaya. Secara fundamental, cahaya adalah spektrum berkesinambungan dari panjang gelombang, yang berarti bahwa terdapat jumlah warna yang tak terhingga. Akan tetapi, mata manusia normalnya hanya memiliki tiga jenis alat penerima/reseptor yang disebut dengan sel kerucut (yang berada di retina). Ini yang merespon panjang gelombang cahaya tertentu. Manusia serta spesies lain yang memiliki tiga macam reseptor warna disebut makhluk trichromat.

Spesies yang dikenal sebagai tetrachromat, dengan empat reseptor warna menggunakan empat warna primer. Manusia hanya dapat melihat sampai dengan 400 nanometer, warna violet, sedangkan makhluk tetrachromat dapat melihat warna ultraviolet sampai dengan 300 nanometer, warna primer keempat ini kemungkinan bertempat di panjang gelombang yang lebih rendah dan kemungkinan adalah warna magenta spektral murni lebih dari sekedar magenta yang kita lihat sebagai campuran dari merah dan biru.

Banyak dari jenis burung dan binatang marsupial merupakan makhluk tetrachromat.

Warna primer additif
Alat/media yang menggabungkan pancaran cahaya untuk menciptakan sensasi warna menggunakan sistem warna additif. Televisi adalah yang paling umum. Warna primer additif adalah merah, hijau dan biru. Campuran warna cahaya merah dan hijau, menghasilkan nuansa warna kuning atau orange. Campuran hijau dan biru menghasilkan nuansa cyan, sedangkan campuran merah dan biru menhasilkan nuansa ungu dan magenta. Campuran dengan proporsi seimbang dari warna additif primer menghasilkan nuansa warna kelabu; jika ketiga warna ini disaturasikan penuh, maka hasilnya adalah warna putih. Ruang warna/model warna yang dihasilkan disebut dengan RGB (red, green, blue). RGB didapatkan dari mengurai cahaya.

Warna primer subtraktif
Media yang menggunakan pantulan cahaya untuk untuk menghasilkan warna memakai metode campuran warna subtraktif.

Tradisional
Merah, Kuning, Biru / RYB (red, yellow, blue) merupakan rangkaian sejarah dari warna primer subtraktif. Khususnya digunakan dalam seni rupa (seni lukis). Ruang warna RYB membentuk triad warna primer dalam sebuah lingkaran warna standar; juga warna sekunder: violet, orange/jingga dan hijau. Triad warna tersusun dari 3 warna yang ekuidistan (berjarak sama) dalam sebuah lingkaran warna.

Pemakaian warna merah, biru, kuning sebagai warna primer menghasilkan gamut (rentang warna) yang relatif sempit/kecil, di mana, beberapa warna tidak bisa dicapai dengan campuran tersebut. Karena alasan itu, percetakan warna modern menggunakan campuran warna magenta, kuning, cyan.

CMYK
Dalam industri percetakan, untuk menghasilkan warna bervariasi, diterapkan pemakaian warna primer subtraktif: magenta, kuning dan cyan dalam ukuran yang bermacam-macam. CMYK didapatkan dari mengurai tinta.

Campuran warna subtraktif
Campuran kuning dan cyan menghasilkan nuansa warna hijau; campuran kuning dengan magenta menghasilkan nuansa warna merah, sedangkan campuran magenta dengan cyan menghasilkan nuansa biru. Dalam teori, campuran tiga pigmen ini dalam ukuran yang seimbang akan menghasilkan nuansa warna kelabu, dan akan menjadi hitam jika ketiganya disaturasikan secara penuh, tetapi dalam praktek hasilnya cenderung menjadi warna kotor kecoklatan.

Oleh karena itu, seringkali dipakai warna keempat, yaitu hitam, sebagai tambahan dari cyan, magenta dan kuning. Ruang warna yang dihasilkan lantas disebut dengan CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black). Hitam disebut dengan \”K\” (key) dari istilah \”key plate\” dalam percetakan (plat cetak yang menciptakan detail artistik pada gambar, biasanya menggunakan warna tinta hitam).

Warna sekunder
Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

Warna tersier
Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

Warna netral
Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Warna panas dan dingin
Lingkaran warna primer hingga tersier bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah. Sementara warna dingin dimulai dari ungu
kemerahan hingga hijau.

Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya. Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warnawarna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang.

Hubungan antar warna

Kontras komplementer
Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

Kontras split komplemen
Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan. Kontras triad komplementer Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

Kontras tetrad komplementer
Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

Sumber : http://www.ahlidesain.com/teori-warna.html

Ilmu Grafis Desain Komvis Kontribusi Warna Bagi Kehidupan dan Karya Desain Komunikasi Visual mengupas penggunaan Warna sebagai intisari objek dalam berinteraksidengan dunia. Warna juga digunakan sebagi simbolisme karena mempunyai kiasan dan nilai filosofis. Memahami warna akan menguatkan makna dalam penggunaan karya desain.

Warna merupakan salah satu unsur yang tidak bisa berdiri sendiri. Penampilan suatu warna selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh warna lain yang ada di sekitarnya. Warna juga merupakan tampilan fisik pertama yang sampai ke mata kita yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik itu benda mati atau benda hidup. Warna bisa kita lihat karena ada interaksi atau karena ada saling mempengaruhi antar warna itu sendiri. Warna biru dengan kadar pencahayaan yang sama akan terlihat berbeda penampilannya bila diletakkan di atas latar yang berbeda atau didekatkan dengan warna yang berbeda pula.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Akibat dari pencampuran warna-warna tersebut akan menimbulkan reaksi ke arah gelap dan ke arah terang di mata kita. Warna-warna yang dicampurkan dengan warna biru akan menghasilkan warna yang gelap. Sedangkan warna-warna yang dicampurkan dengan warna kuning dan merah akan menghasilkan warna yang lebih terang. Seperti warna kuning yang mempunyai warna dasar kuning lemon dan kuning kadmium. Keduanya mengesankan kesan yang berbeda. Kuning lemon terkesan lembut. Sedangkan kuning kadmium terkesan keras. Begitu juga dengan warna biru. Terdapat beberapa jenis warna biru seperti biru cobalt, biru ultra, biru marine, biru prusia, biru cyan, dan lain-lain.

Bila biru dicampurkan dengan warna hijau dengan perbandingan tertentu akan memberi kesan sejuk. Kesan lebih dingin lagi didapat bila biru dicampurkan dengan sedikit warna ungu seperti pada biru prusia. Warna hijau yang terdapat campuran warna kuning akan mengesankan lebih hangat daripada biru. Ungu bila dicampurkan dengan warna merah akan terkesan hangat. Kesan panas dan menyala didapat dari pencampuran warna merah dan kuning. Bila merah dicampur dengan biru atau ungu akan menjadi dingin. Bila kuning dicampur dengan hijau atau biru akan terkesan dingin. Bila warna-warna dicampurkan dengan putih akan memperoleh warna pastel yang memberi kesan nyaman, ringan, lembut dan sejuk. Bila dicampur dengan abu-abu maka timbul kesan tertekan dan terselubung.

Warna gelap dan warna terang akan menimbulkan kesan yang berbeda. Warna gelap yang sampai ke mata kita akan dianalisa oleh otak kita dan menghasilkan kesan dingin yang kita rasakan. Begitu sebaliknya dengan warna terang akan terasa hangat dan panas. Seperti yang kita pelajari dalam pelajaran Fisika dimana panjang gelombang warna merah lebih panjang dari pada gelombang warna ungu. Itu berarti warna merah yang terang dan terasa panas akan lebih cepat ditangkap mata kita dibandingkan dengan warna ungu yang terkesan gelap dan terasa dingin. Yang dikategorikan sebagai warna-warna panas yaitu kuning kehijauan, kuning, kuning kejinggaan, jingga, jingga kemerahan dan merah. Yang dikategorikan sebagai warna-warna dingin yaitu hijau, hijau kebiruan, biru, biru keunguan dan ungu.

WARNA DAN BAHAN

Dalam menata ruang, warna dan bahan saling mempengaruhi. Walau masing-masing jenis bahan sudah mempunyai karakter sendiri namun masih juga memerlukan sentuhan akhir. Sentuhan akhir itu adalah pewarnaan. Ibaratnya warna memberi pakaian pada bahan agar terlihat mencolok dan bentuknya terlihat lebih jelas. Kadang warna juga mengaburkan karakter bahan tersebut.

Pemakaian bahan kayu bila diberi warna akan menyamarkan serat-serat kayu yang sudah arstistik. Pemakaian warna juga bisa mengawetkan bahan. Seperti pemakaian warna pada bahan besi yang bisa menghindarkan besi dari karat. Efek warna sangat menentukan penampilan suatu ruang dan perabot yang menghiasinya. Penggunaan warna yang tepat akan menonjolkan bentuknya dan menutupi kekurangan-kekurangannya.

WARNA SEBAGAI SIMBOLIK

Ada warna-warna tertentu yang bisa mewakili perasaan kita. Seperti bila kita sedang berduka atau menengok orang berduka, tidak etis rasanya bila kita memakai pakaian yang bercorak atau berwarna cerah. Karena warna cerah adalah wakil dari perasaan yang cerah atau gembira. Untuk mewakilinya kita menggunakan pakaian warna hitam, karena hitam dikiaskan sebagai kematian atau keburukan. Kematian juga tidak selalu dilambangkan dengan warna hitam. Kematian adalah jalan roh menuju ke tempat yang lebih tinggi derajatnya yaitu keabadian.

Maka kematian juga dilambangkan dengan warna putih. Karena putih adalah lambang keabadian, kedamaian, kebahagiaan dan kesucian. Menurut kepercayaan orang-orang Batak, warna hitam dan putih adalah warna yang derajatnya paling tinggi. Dari kedua warna itulah kehidupan dimulai. Kemudian berproses. Ulos ragidup memiliki tingkatan tertinggi dalam kedudukan adat. Warna putih di bagian tengah dan di kiri kanannya terdapat warna hitam. Putih berarti suci, damai, bersih dan hitam berarti kekuatan dan keteguhan.

Kebalikan dari kedukaan adalah kebahagiaan. Orang selalu diselimuti rasa bahagia adalah bila hari-harinya dipenuhi dengan perasaan cinta. Cinta kepada sesama dan yang ada di lingkungan sekitarnya. Rasa cinta dilambangkan dengan warna merah muda. Yang sering kita lihat pada waktu perayaan hari Valentine semua serba merah muda. Mulai dari etalase toko-toko, penjual kembang, dan penjual pernak-pernik Valentine terutama yang diperlukan anak-anak muda untuk menyatakan rasa cintanya pada seseorang.

Warna merah dan putih sudah ada dan dipakai sebagai simbol sejak zaman Majapahit. Kala itu dipakai sebagai warna umbul-umbul. Dan sekarang dipakai sebagai warna bendera bangsa Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Merah juga sering dijadikan simbol dari warna darah. Dan putih simbol dari warna tulang. Tulang merupakan penyangga tubuh dan darah adalah suatu yang membuat kita hidup. Karena dalam darah mengandung zat-zat makanan bagi tubuh. Maka merah dan putih diartikan sebagai lambang perjuangan yang kuat dan kokoh hingga titik darah penghabisan.

Merah juga dijadikan simbol kekesatriaan. Maka hunian kaum kesatria di Bali yang disebut puri terdapat entrance yang berupa kori yang terbuat dari tumpukan bata-bata yang berwarna merah kejinggaan. Biasanya disebut Kori Barak. Pada balai-balai adat di Bali terdapat warna kuning keemasan (prada) yang melambangkan keagungan. Pada hari raya – hari raya Hindu di Bali pelinggih-pelinggih banyak yang dikenakan wastra warna putih kuning. Ini melambangkan kesucian dan keluhuran pelinggih tersebut. Pada tugu-tugu seperti penunggu karang dikenakan wastra putih hitam (poleng). Ini berarti yang melinggih di tugu tersebut adalah suci dan kuat. Bukankah bertugas menjaga karang beserta isinya tentu harus kuat.

WARNA SEBAGAI PETUNJUK PRAKTIS

Warna juga erat kaitannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Seperti memberi petunjuk ke suatu jurusan, memberi instruksi dan memberi peringatan. Lampu lalu lintas yang memberi isyarat berhenti diinstruksikan dengan warna merah. Hati-hati dengan warna kuning dan jalan dengan warna hijau. Tanda silang merah berarti palang merah. Kendaraan truk pengangkut bahan bakar minyak selalu berwarna merah menyala. Ambulans kendaraan pengangkut orang sakit selalu berwarna putih. Warna kotak surat yang dulu sering kita temui di jalan selalu berwarna jingga. Telepon umum selalu berwarna biru.

Dari beberapa warna yang telah diterapkan tersebut dapatlah ditinjau aspek-aspek warna dengan sifat penampakannya. Warna merah, jingga dan kuning bersifat panas berpenampilan lebih menonjol dan merangsang. Makna dari peringatan warna tersebut adalah bahaya dan hati-hati. Sedangkan warna hijau, biru dan ungu bersifat dingin berpenampilan pasif yaitu teduh dan diam. Makna dari peringatan yang dimaksud adalah keadaan yang aman.

WARNA, BENTUK DAN KECEPATAN

Warna juga erat kaitannya dengan bentuk dan kecepatan. Hubungan ini telah diteliti oleh The International Safety Colour Codes yaitu suatu lembaga untuk keselamatan kerja dan lalu lintas di New York, A.S. Dalam kecepatan tinggi warna merah dan kuning akan terlihat samar.

Warna hijau dan biru terlihat jelas. Makanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya yang biasa kendaraan memacu kecepatan tinggi dibuat segi empat ditulis dengan huruf putih di atas dasar hijau atau biru. Bentuk segi empat adalah bentuk yang tampil dengan wujud yang utuh, diam dan stabil. Sedangkan segi tiga berwujud tajam-tajam, tampil dengan sifat yang terarah. Bentuk lingkaran memberi kesan berputar dan bergerak.

WARNA DAN ALAM

Warna juga dapat dipelajari dari alam yang kita temui setiap hari. Seperti halnya pada pergantian musim di Indonesia. Pada musim kemarau, alam dikuasai oleh warna-warna kecoklatan dan keabu-abuan. Tanah yang tandus, pepohonan yang yang hanya tinggal batangnya saja dan rerumputan yang kering. Walau begitu Tuhan masih memberi warna cerah pada alam. Karena justru di musim panaslah ada beberapa tanaman yang sedang berbunga. Seperti bougenville dan kamboja. Pada musim hujan seolah-olah kehidupan baru dimulai. Tanah selalu basah, pepohonan mulai mengernyitkan kuncup daunnya dan rerumputan mulai hijau.

Lain lagi dengan negara yang mempunyai empat musim. Di musim dingin alam lebih didominasi oleh warna biru, hijau-biru, warna salju yang putih bersih, abu-abu dan hitam kegelapan. Musim semi alam diwarnai oleh daun-daun muda yang hijau kekuning-kuningan dan warna tunas-tunas dan kuncup yang kuning lembut. Alam di sebelah atas didominasi oleh warna biru muda.

Pada musim panas matahari bersinar penuh, ladang-ladang berwarna kuning tua dan tanah berwarna coklat. Di akhir musim panas, buah-buahan mulai masak sehingga pepohonan dihiasi butiran-butiran berwarna merah. Warna alam mulai redup saat musim gugur. Seisi alam diselimuti kabut berwarna abu-abu. Warna kuning berubah menjadi coklat, merah menjadi merah bata kemudian menjadi lembayung.

WARNA DAN KEJIWAAN

Dari sudut pandang ilmu kejiwaan, warna dikaitkan dengan karakter-karakter manusia. Orang yang berkarakter extrovert lebih senang dengan warna-warna panas dan cerah. Karena tipe orang seperti ini biasanya terbuka, lebih memandang ke luar daripada ke dalam dirinya sendiri, tidak sulit menerima masalah-masalah baru karena cara berpikirnya lebih mengarah pada segi-segi yang umum daripada yang khusus. Sedangkan orang yang berkarakter introvert lebih senang pada warna-warna dingin dan gelap. Orang bertipe ini biasanya tertutup, lebih memandang ke dalam dirinya sendiri, sulit menerima masalah-masalah baru, lebih suka menyelesaikan pada hal-hal yang khusus daripada yang umum.

Warna juga bisa menimbulkan efek rasa bagi yang melihatnya. Warna-warna matahari seperti kuning, merah, jingga dan yang satu nada dengannya bisa menimbulkan rasa hangat. Sebaliknya rasa dingin bisa ditimbulkan oleh warna-warna dingin seperti biru, biru kehijau-hijauan, putih dan hitam.

Warna-warna muda seperti kuning muda, hijau muda, merah jambu, biru cerah dan coklat cerah memberi kesan ceria yang berjiwa muda. Warna-warna gelap seperti coklat, lembayung, abu-abu dan hijau memberi rasa tenang sehingga menimbulkan keinginan untuk menyepi.

Seperti yang telah kita amati dari alam bahwa warna bisa membuat kesan mendekat dan menjauh. Kesan ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kesan pada ruang agar lebih luas atau lebih sempit, menonjolkan atau mendesakkan dinding, langit-langit atau perabot. Dinding kamar yang berwarna biru muda yang mengarah ke abu-abu memberi kesan menjauh sehingga kamar menjadi lebih terlihat luas. Sebaliknya warna gelap seperti jingga juga bisa memberi kesan menyempitkan.

WARNA UNTUK TEMPAT TINGGAL

Untuk memperoleh warna yang harmonis harus diperhatikan perbandingan warna yang akan dipakai, yaitu dengan memasangkan warna yang hangat dengan warna dingin, warna ringan dengan warna berat sehingga terjadi warna kontras. Antara cerah dan gelap, bersih dan buram, diimbangi dengan sebuah unsur pengikat.

Sebagai contoh dalam suatu ruang terdapat sofa yang berwarna kuning-jingga dan kap lampu berwarna biru-ungu, warna dinding dan lantai berwarna putih sebagai warna penerang. Maka kesemua warna tersebut akan memperoleh tingkat terangnya msing-masing oleh warna putih.

Dalam memberikan warna pada ruang semuanya harus mendapat warna yang sesuai dengan fungsinya. Dimana dinding dan perabot sebagai pendukung warna. Dinding yang merupakan latar belakang dan juga sebagai pembatas ruang hendaknya berwarna lembut agar terkesan menjauh dan tidak mendesakkan. Warna lantai juga harus dapat mendukung perabot yang nantinya akan ditata dalam suatu ruang. Perabot yang berukuran kecil bisa dijadikan tempat titik warna yang kuat. Warna perabot dari kayu lebih mudah disesuaikan karena hampir semua jenis kayu mengandung warna abu-abu netral.

Untuk ruang tidur diperlukan warna tenang dan lembut karena sesuai dengan fungsinya sebagai ruang beristirahat dengan tingkat privacy yang tinggi. Dalam ruang tidur anak lebih diutamakan warna-warna utama yang cerah karena sesuai dengan kondisi perkembangan anak yang sedang bertumbuh dan energik.

Sedangkan dapur yang berfungsi sebagai ruang kerja yang praktis dan bersih. Kebersihan suatu rumah tangga bisa dilihat dari kerapian dan kebersihan dapurnya. Ini bisa diterapkan dengan menempatkan almari dan meja berwarna putih dengan dinding berwarna kuning hangat. Warna lantai yang coklat muda bisa menimbulkan kesan sejuk. Sedangkan kesan menggairahkan bisa didapat dari alat-alat dapur yang berwarna merah dan jingga.

Untuk ruang keluarga hendaknya memancarkan kehangatan yang nyaman. Sofa berwarna coklat tua dipadu dengan warna merah bata pada tirai, serta warna coklat lembut pada lantai. Sebagai warna kontrasnya bisa ditempatkan tanaman dalam ruang yang berwarna hijau.

WARNA PADA BANGUNAN

Warna pada bangunan sangat membantu penampilan suatu bangunan. Warna adalah alat bantu untuk menciptakan keindahan dan kenyamanan dan juga bisa sebagai alat pacu penampilan suatu bangunan. Dari warnalah akan berbicara fungsi dari bangunan tersebut dan kesan yang ingin ditampilkan. Bangunan rumah sakit identik berwarna putih bersih. Putih adalah lambang kebersihan dan kehigienisan.

Pada perkembangannya sekarang bangunan rumah sakit tidak selalu berwarna putih. Terutama rumah sakit milik swasta banyak yang memakai warna-warna pastel yang lembut. Warna ini dipakai untuk menampilkan kesan lembut dan nyaman bagi pasien yang dirawat disana. Pelayanan perawat yang ramah, fasilitas yang memadai dan tentu kebersihan yang higienis.

Pada kantor pos selalu terdapat warna jingga. Ini menyatakan kehangatan para pegawai pos melayani masyarakat dalam hal surat-menyurat. Sekolah taman kanak-kanak lebih didominasi dengan warna-warna cerah. Ini untuk menimbulkan keceriaan dan menarik minat anak-anak dalam belajar. Ada juga beberapa bangunan rumah tinggal yang berwarna mencolok dari lingkungannya. Ini untuk memberi identitas tertentu dan memudahkan orang yang mencarinya.

Masalah warna adalah masalah selera dan bersifat relatif. Begitulah warna yang selalu memberi warna bagi kehidupan manusia. Ada warna gelap, terang, cerah, buram, panas dan dingin. Semua bisa memberi rona bila dipadukan secara harmonis. Andaikan di dunia ini hanya ada satu warna, betapa membosankan hidup ini.

Kesimpulan

Warna tidak bisa dipisahkan dengan dunia desain bahkan dari kehidupan kita sehri-hari. Warna dapat membentuk ekspresi jiwa dan keragaman bahasa komunikasi. Dengan adanya prinsip dan filosofi warna, kita bisa mengimplementasikan karya desain dalam berkomunikasi secara visual.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Daftar Pustaka

  1. Hadi, Umar. 1998. ‘’Memahami Desain Grafis’’. Katalog Pameran Desain Grafis, LPK Visi Yogyakarta.
  2. Jewler, A. Jerome., dan Drewniany Bonnie, L. 2001. Creative Strategy in Advertising. USA: Wadsworth Thomson Learning, 10 Davis Drive Belmont.
  3. Pirous, AD. 1989. ‘’Desain Grafis pada Kemasan’’. Makalah Simposium Desain Grafis, FSRD ISI Yogyakarta.
  4. Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2006. Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan. Yogyakarta: Dimensi Press.
  5. Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  6. Sutanto, T. 2005. ‘’Sekitar Dunia Desain Grafis/Komunikasi Visual’’. Pura-pura Jurnal DKV ITB Bandung. 2/Juli. 15-16.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/kontribusi-warna-bagi-kehidupan-dan-karya-desain-komunikasi-visual.html

Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan suasana pembelian, pemerkuat image produk, serta peningkatan citra bisnis anda. Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna yang kita kenakan sehari-hari memengaruhi pandangan orang lain terhadap kita.

Coba perhatikan misal hampir semua bisnis makanan seperti KFC, MC Donald, Pizza hut, boleh dikata semuanya menggunakan warna merah. Mengapa demikian? Konon, warna merah itu menambah nafsu makan. Sehingga para pebisnis banyak menggunakan warna merah dalam bisnis makanan. Saya pun yakin, setiap orang punya warna kesukaan masing-masing. Itu menunjukkan bahwa ada hubungan antara warna dengan manusia. Seperti halnya mungkin ketika kita memilih warna busana seperti disampaikan Mbak Sari. Kekuatan warna bisa mempengaruhi sisi emosional kita.

Kuning
Respon Psikologi: Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran, Pengecut (untuk budaya Barat), pengkhianatan, pencerahan dan intelektualitas. Kuning adalah warna keramat dalam agama Hindu. Kuning adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.

Oranye
Respon Psikologi: Energy, Keseimbangan, Kehangantan. Menekankan sebuah produk yang tidak mahal.

Merah
Respon Psikologi: Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresi, bahaya, berpendirian, dinamis, dan percaya diri
Warna Merah kadang berubah arti jika dikombinasikan dengan warna lain. Merah dikombinakan dengan Hijau, maka akan menjadi simbol Natal. Merah jika dikombinasikan denga Putih, akan mempunyai arti ‘bahagia’ di budaya Oriental. Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu seperti saya katakan tadi, bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan pembeli, lihat saja warna pizza hut, McD, KFC yang juga ada merahnya.
Atau kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah.

Biru
Respon Psikologi: Kepercayaan, Konservatif, Keamanan, Tehnologi, Kebersihan, Keteraturan, Damai, menyejukkan, spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran.
Banyak digunakan sebagai warna pada logo Bank di Amerika Serikat untuk memberikan kesan tenang, terpercaya, ilmu dan wawasan. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya, demikian juga pendidikan.

Hijau
Respon Psikologi: Alami, Sehat, Keberuntungan, Pembaharuan, pertumbuhan, kesuburan, harmoni, optimisme, kebebasan, dan keseimbangan
Warna Hijau tidak terlalu ’sukses’ untuk ukuran Global. Di Cina dan Perancis, kemasan dengan warna Hijau tidak begitu mendapat sambutan. Tetapi di Timur Tengah, warna Hijau sangat disukai. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau.

Ungu atau Jingga
Respon Psikologi: Spiritual, Misteri, Kebangsawanan, Transformasi, Kekasaran, Keangkuhan, Ramah, Romantis, dan Mandiri.
Warna Ungu sangat jarang ditemui di alam. Ungu adalah capuran warna merah dan biru. Menggambarkan sikap ‘gempuran’ keras yang dilambangkan dengan warna biru. Perpaduan antara keintiman dan erotis atau menjurus ke pengertian yang dalam dan peka. Bersifat kurang teliti namun penuh harapan.

Coklat
Respon Psikologi: Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan, Stabilitas, Bobot, Kestabilan dan Keanggunan.
Kemasan makanan di Amerika sering memakai warna Coklat dan sangat sukses, tetapi di Kolumbia, warna Coklat untuk kemasan kurang begitu membawa hasil.

Hitam
Respon Psikologi: Ketakutan, Power, Kecanggihan, Kematian, Misteri, Seksualitas, Kesedihan, Keanggunan, dan Independen, Berwibawa, Penyendiri, Disiplin, dan Berkemauan keras.
Melambangkan kematian dan kesedihan di budaya Barat. Sebagai warna Kemasan, Hitam melambangakan Keanggunan (Elegance), Kemakmuran (Wealth) dan Kecanggihan (Sopiscated). Menunjukkan hal yang tegas, elegan, dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Seperti ketika saya memilih warna dominan hitam pada Rahasia Blogging.warnatersebut sangat mendukung kata “rahasia” yang ingin saya tekankan.
Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain.

Putih
Warna suci dan bersih, natural, kosong, tak berwarna, netral, awal baru, kemurnian dan kesucian
Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya.

Abu Abu
Respon Psikologi: Intelek, Masa Depan (kayak warna Milenium), Kesederhanaan, Kesedihan.
Warna Abu abu adalah warna yang paling gampang/mudah dilihat oleh mata.

Kesimpulan
Warna sebagai termasuk dalam ranah nirmana. Terkadang pemakaian warna sangat membantu dalam pemilihan font dalam typografi. Kemampuan penguasaan budaya dan warna sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah warna dalam pemakaian ke dalam produk desain, oleh karenanya penguasan warna merupakan syarat penting untuk desainer pemula. Meski demikian, arti warna bisa bergantung juga dengan bidang tertentu, budaya, agama, dan adat setempat. Warna kuning bisa berasosiasi dengan partai politik tertentu kalau dalam politik; sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari, bendera kuning yang dipasang di rumah seseorang, itu pertanda tengah terjadi peristiwa berkabung. Sementara bank syariah hampir pasti selalu dihiasi dengan warna hijau yang berasosiasi dengan agama tertentu.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/dasar-pemakaian-warna-dalam-desain-grafis.html

Ilmu Grafis Desain Komvis Kontribusi Warna Bagi Kehidupan dan Karya Desain Komunikasi Visual mengupas penggunaan Warna sebagai intisari objek dalam berinteraksidengan dunia. Warna juga digunakan sebagi simbolisme karena mempunyai kiasan dan nilai filosofis. Memahami warna akan menguatkan makna dalam penggunaan karya desain.

Warna merupakan salah satu unsur yang tidak bisa berdiri sendiri. Penampilan suatu warna selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh warna lain yang ada di sekitarnya. Warna juga merupakan tampilan fisik pertama yang sampai ke mata kita yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik itu benda mati atau benda hidup. Warna bisa kita lihat karena ada interaksi atau karena ada saling mempengaruhi antar warna itu sendiri. Warna biru dengan kadar pencahayaan yang sama akan terlihat berbeda penampilannya bila diletakkan di atas latar yang berbeda atau didekatkan dengan warna yang berbeda pula.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Akibat dari pencampuran warna-warna tersebut akan menimbulkan reaksi ke arah gelap dan ke arah terang di mata kita. Warna-warna yang dicampurkan dengan warna biru akan menghasilkan warna yang gelap. Sedangkan warna-warna yang dicampurkan dengan warna kuning dan merah akan menghasilkan warna yang lebih terang. Seperti warna kuning yang mempunyai warna dasar kuning lemon dan kuning kadmium. Keduanya mengesankan kesan yang berbeda. Kuning lemon terkesan lembut. Sedangkan kuning kadmium terkesan keras. Begitu juga dengan warna biru. Terdapat beberapa jenis warna biru seperti biru cobalt, biru ultra, biru marine, biru prusia, biru cyan, dan lain-lain.

Bila biru dicampurkan dengan warna hijau dengan perbandingan tertentu akan memberi kesan sejuk. Kesan lebih dingin lagi didapat bila biru dicampurkan dengan sedikit warna ungu seperti pada biru prusia. Warna hijau yang terdapat campuran warna kuning akan mengesankan lebih hangat daripada biru. Ungu bila dicampurkan dengan warna merah akan terkesan hangat. Kesan panas dan menyala didapat dari pencampuran warna merah dan kuning. Bila merah dicampur dengan biru atau ungu akan menjadi dingin. Bila kuning dicampur dengan hijau atau biru akan terkesan dingin. Bila warna-warna dicampurkan dengan putih akan memperoleh warna pastel yang memberi kesan nyaman, ringan, lembut dan sejuk. Bila dicampur dengan abu-abu maka timbul kesan tertekan dan terselubung.

Warna gelap dan warna terang akan menimbulkan kesan yang berbeda. Warna gelap yang sampai ke mata kita akan dianalisa oleh otak kita dan menghasilkan kesan dingin yang kita rasakan. Begitu sebaliknya dengan warna terang akan terasa hangat dan panas. Seperti yang kita pelajari dalam pelajaran Fisika dimana panjang gelombang warna merah lebih panjang dari pada gelombang warna ungu. Itu berarti warna merah yang terang dan terasa panas akan lebih cepat ditangkap mata kita dibandingkan dengan warna ungu yang terkesan gelap dan terasa dingin. Yang dikategorikan sebagai warna-warna panas yaitu kuning kehijauan, kuning, kuning kejinggaan, jingga, jingga kemerahan dan merah. Yang dikategorikan sebagai warna-warna dingin yaitu hijau, hijau kebiruan, biru, biru keunguan dan ungu.

WARNA DAN BAHAN

Dalam menata ruang, warna dan bahan saling mempengaruhi. Walau masing-masing jenis bahan sudah mempunyai karakter sendiri namun masih juga memerlukan sentuhan akhir. Sentuhan akhir itu adalah pewarnaan. Ibaratnya warna memberi pakaian pada bahan agar terlihat mencolok dan bentuknya terlihat lebih jelas. Kadang warna juga mengaburkan karakter bahan tersebut.

Pemakaian bahan kayu bila diberi warna akan menyamarkan serat-serat kayu yang sudah arstistik. Pemakaian warna juga bisa mengawetkan bahan. Seperti pemakaian warna pada bahan besi yang bisa menghindarkan besi dari karat. Efek warna sangat menentukan penampilan suatu ruang dan perabot yang menghiasinya. Penggunaan warna yang tepat akan menonjolkan bentuknya dan menutupi kekurangan-kekurangannya.

WARNA SEBAGAI SIMBOLIK

Ada warna-warna tertentu yang bisa mewakili perasaan kita. Seperti bila kita sedang berduka atau menengok orang berduka, tidak etis rasanya bila kita memakai pakaian yang bercorak atau berwarna cerah. Karena warna cerah adalah wakil dari perasaan yang cerah atau gembira. Untuk mewakilinya kita menggunakan pakaian warna hitam, karena hitam dikiaskan sebagai kematian atau keburukan. Kematian juga tidak selalu dilambangkan dengan warna hitam. Kematian adalah jalan roh menuju ke tempat yang lebih tinggi derajatnya yaitu keabadian.

Maka kematian juga dilambangkan dengan warna putih. Karena putih adalah lambang keabadian, kedamaian, kebahagiaan dan kesucian. Menurut kepercayaan orang-orang Batak, warna hitam dan putih adalah warna yang derajatnya paling tinggi. Dari kedua warna itulah kehidupan dimulai. Kemudian berproses. Ulos ragidup memiliki tingkatan tertinggi dalam kedudukan adat. Warna putih di bagian tengah dan di kiri kanannya terdapat warna hitam. Putih berarti suci, damai, bersih dan hitam berarti kekuatan dan keteguhan.

Kebalikan dari kedukaan adalah kebahagiaan. Orang selalu diselimuti rasa bahagia adalah bila hari-harinya dipenuhi dengan perasaan cinta. Cinta kepada sesama dan yang ada di lingkungan sekitarnya. Rasa cinta dilambangkan dengan warna merah muda. Yang sering kita lihat pada waktu perayaan hari Valentine semua serba merah muda. Mulai dari etalase toko-toko, penjual kembang, dan penjual pernak-pernik Valentine terutama yang diperlukan anak-anak muda untuk menyatakan rasa cintanya pada seseorang.

Warna merah dan putih sudah ada dan dipakai sebagai simbol sejak zaman Majapahit. Kala itu dipakai sebagai warna umbul-umbul. Dan sekarang dipakai sebagai warna bendera bangsa Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Merah juga sering dijadikan simbol dari warna darah. Dan putih simbol dari warna tulang. Tulang merupakan penyangga tubuh dan darah adalah suatu yang membuat kita hidup. Karena dalam darah mengandung zat-zat makanan bagi tubuh. Maka merah dan putih diartikan sebagai lambang perjuangan yang kuat dan kokoh hingga titik darah penghabisan.

Merah juga dijadikan simbol kekesatriaan. Maka hunian kaum kesatria di Bali yang disebut puri terdapat entrance yang berupa kori yang terbuat dari tumpukan bata-bata yang berwarna merah kejinggaan. Biasanya disebut Kori Barak. Pada balai-balai adat di Bali terdapat warna kuning keemasan (prada) yang melambangkan keagungan. Pada hari raya – hari raya Hindu di Bali pelinggih-pelinggih banyak yang dikenakan wastra warna putih kuning. Ini melambangkan kesucian dan keluhuran pelinggih tersebut. Pada tugu-tugu seperti penunggu karang dikenakan wastra putih hitam (poleng). Ini berarti yang melinggih di tugu tersebut adalah suci dan kuat. Bukankah bertugas menjaga karang beserta isinya tentu harus kuat.

WARNA SEBAGAI PETUNJUK PRAKTIS

Warna juga erat kaitannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Seperti memberi petunjuk ke suatu jurusan, memberi instruksi dan memberi peringatan. Lampu lalu lintas yang memberi isyarat berhenti diinstruksikan dengan warna merah. Hati-hati dengan warna kuning dan jalan dengan warna hijau. Tanda silang merah berarti palang merah. Kendaraan truk pengangkut bahan bakar minyak selalu berwarna merah menyala. Ambulans kendaraan pengangkut orang sakit selalu berwarna putih. Warna kotak surat yang dulu sering kita temui di jalan selalu berwarna jingga. Telepon umum selalu berwarna biru.

Dari beberapa warna yang telah diterapkan tersebut dapatlah ditinjau aspek-aspek warna dengan sifat penampakannya. Warna merah, jingga dan kuning bersifat panas berpenampilan lebih menonjol dan merangsang. Makna dari peringatan warna tersebut adalah bahaya dan hati-hati. Sedangkan warna hijau, biru dan ungu bersifat dingin berpenampilan pasif yaitu teduh dan diam. Makna dari peringatan yang dimaksud adalah keadaan yang aman.

WARNA, BENTUK DAN KECEPATAN

Warna juga erat kaitannya dengan bentuk dan kecepatan. Hubungan ini telah diteliti oleh The International Safety Colour Codes yaitu suatu lembaga untuk keselamatan kerja dan lalu lintas di New York, A.S. Dalam kecepatan tinggi warna merah dan kuning akan terlihat samar.

Warna hijau dan biru terlihat jelas. Makanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya yang biasa kendaraan memacu kecepatan tinggi dibuat segi empat ditulis dengan huruf putih di atas dasar hijau atau biru. Bentuk segi empat adalah bentuk yang tampil dengan wujud yang utuh, diam dan stabil. Sedangkan segi tiga berwujud tajam-tajam, tampil dengan sifat yang terarah. Bentuk lingkaran memberi kesan berputar dan bergerak.

WARNA DAN ALAM

Warna juga dapat dipelajari dari alam yang kita temui setiap hari. Seperti halnya pada pergantian musim di Indonesia. Pada musim kemarau, alam dikuasai oleh warna-warna kecoklatan dan keabu-abuan. Tanah yang tandus, pepohonan yang yang hanya tinggal batangnya saja dan rerumputan yang kering. Walau begitu Tuhan masih memberi warna cerah pada alam. Karena justru di musim panaslah ada beberapa tanaman yang sedang berbunga. Seperti bougenville dan kamboja. Pada musim hujan seolah-olah kehidupan baru dimulai. Tanah selalu basah, pepohonan mulai mengernyitkan kuncup daunnya dan rerumputan mulai hijau.

Lain lagi dengan negara yang mempunyai empat musim. Di musim dingin alam lebih didominasi oleh warna biru, hijau-biru, warna salju yang putih bersih, abu-abu dan hitam kegelapan. Musim semi alam diwarnai oleh daun-daun muda yang hijau kekuning-kuningan dan warna tunas-tunas dan kuncup yang kuning lembut. Alam di sebelah atas didominasi oleh warna biru muda.

Pada musim panas matahari bersinar penuh, ladang-ladang berwarna kuning tua dan tanah berwarna coklat. Di akhir musim panas, buah-buahan mulai masak sehingga pepohonan dihiasi butiran-butiran berwarna merah. Warna alam mulai redup saat musim gugur. Seisi alam diselimuti kabut berwarna abu-abu. Warna kuning berubah menjadi coklat, merah menjadi merah bata kemudian menjadi lembayung.

WARNA DAN KEJIWAAN

Dari sudut pandang ilmu kejiwaan, warna dikaitkan dengan karakter-karakter manusia. Orang yang berkarakter extrovert lebih senang dengan warna-warna panas dan cerah. Karena tipe orang seperti ini biasanya terbuka, lebih memandang ke luar daripada ke dalam dirinya sendiri, tidak sulit menerima masalah-masalah baru karena cara berpikirnya lebih mengarah pada segi-segi yang umum daripada yang khusus. Sedangkan orang yang berkarakter introvert lebih senang pada warna-warna dingin dan gelap. Orang bertipe ini biasanya tertutup, lebih memandang ke dalam dirinya sendiri, sulit menerima masalah-masalah baru, lebih suka menyelesaikan pada hal-hal yang khusus daripada yang umum.

Warna juga bisa menimbulkan efek rasa bagi yang melihatnya. Warna-warna matahari seperti kuning, merah, jingga dan yang satu nada dengannya bisa menimbulkan rasa hangat. Sebaliknya rasa dingin bisa ditimbulkan oleh warna-warna dingin seperti biru, biru kehijau-hijauan, putih dan hitam.

Warna-warna muda seperti kuning muda, hijau muda, merah jambu, biru cerah dan coklat cerah memberi kesan ceria yang berjiwa muda. Warna-warna gelap seperti coklat, lembayung, abu-abu dan hijau memberi rasa tenang sehingga menimbulkan keinginan untuk menyepi.

Seperti yang telah kita amati dari alam bahwa warna bisa membuat kesan mendekat dan menjauh. Kesan ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kesan pada ruang agar lebih luas atau lebih sempit, menonjolkan atau mendesakkan dinding, langit-langit atau perabot. Dinding kamar yang berwarna biru muda yang mengarah ke abu-abu memberi kesan menjauh sehingga kamar menjadi lebih terlihat luas. Sebaliknya warna gelap seperti jingga juga bisa memberi kesan menyempitkan.

WARNA UNTUK TEMPAT TINGGAL

Untuk memperoleh warna yang harmonis harus diperhatikan perbandingan warna yang akan dipakai, yaitu dengan memasangkan warna yang hangat dengan warna dingin, warna ringan dengan warna berat sehingga terjadi warna kontras. Antara cerah dan gelap, bersih dan buram, diimbangi dengan sebuah unsur pengikat.

Sebagai contoh dalam suatu ruang terdapat sofa yang berwarna kuning-jingga dan kap lampu berwarna biru-ungu, warna dinding dan lantai berwarna putih sebagai warna penerang. Maka kesemua warna tersebut akan memperoleh tingkat terangnya msing-masing oleh warna putih.

Dalam memberikan warna pada ruang semuanya harus mendapat warna yang sesuai dengan fungsinya. Dimana dinding dan perabot sebagai pendukung warna. Dinding yang merupakan latar belakang dan juga sebagai pembatas ruang hendaknya berwarna lembut agar terkesan menjauh dan tidak mendesakkan. Warna lantai juga harus dapat mendukung perabot yang nantinya akan ditata dalam suatu ruang. Perabot yang berukuran kecil bisa dijadikan tempat titik warna yang kuat. Warna perabot dari kayu lebih mudah disesuaikan karena hampir semua jenis kayu mengandung warna abu-abu netral.

Untuk ruang tidur diperlukan warna tenang dan lembut karena sesuai dengan fungsinya sebagai ruang beristirahat dengan tingkat privacy yang tinggi. Dalam ruang tidur anak lebih diutamakan warna-warna utama yang cerah karena sesuai dengan kondisi perkembangan anak yang sedang bertumbuh dan energik.

Sedangkan dapur yang berfungsi sebagai ruang kerja yang praktis dan bersih. Kebersihan suatu rumah tangga bisa dilihat dari kerapian dan kebersihan dapurnya. Ini bisa diterapkan dengan menempatkan almari dan meja berwarna putih dengan dinding berwarna kuning hangat. Warna lantai yang coklat muda bisa menimbulkan kesan sejuk. Sedangkan kesan menggairahkan bisa didapat dari alat-alat dapur yang berwarna merah dan jingga.

Untuk ruang keluarga hendaknya memancarkan kehangatan yang nyaman. Sofa berwarna coklat tua dipadu dengan warna merah bata pada tirai, serta warna coklat lembut pada lantai. Sebagai warna kontrasnya bisa ditempatkan tanaman dalam ruang yang berwarna hijau.

WARNA PADA BANGUNAN

Warna pada bangunan sangat membantu penampilan suatu bangunan. Warna adalah alat bantu untuk menciptakan keindahan dan kenyamanan dan juga bisa sebagai alat pacu penampilan suatu bangunan. Dari warnalah akan berbicara fungsi dari bangunan tersebut dan kesan yang ingin ditampilkan. Bangunan rumah sakit identik berwarna putih bersih. Putih adalah lambang kebersihan dan kehigienisan.

Pada perkembangannya sekarang bangunan rumah sakit tidak selalu berwarna putih. Terutama rumah sakit milik swasta banyak yang memakai warna-warna pastel yang lembut. Warna ini dipakai untuk menampilkan kesan lembut dan nyaman bagi pasien yang dirawat disana. Pelayanan perawat yang ramah, fasilitas yang memadai dan tentu kebersihan yang higienis.

Pada kantor pos selalu terdapat warna jingga. Ini menyatakan kehangatan para pegawai pos melayani masyarakat dalam hal surat-menyurat. Sekolah taman kanak-kanak lebih didominasi dengan warna-warna cerah. Ini untuk menimbulkan keceriaan dan menarik minat anak-anak dalam belajar. Ada juga beberapa bangunan rumah tinggal yang berwarna mencolok dari lingkungannya. Ini untuk memberi identitas tertentu dan memudahkan orang yang mencarinya.

Masalah warna adalah masalah selera dan bersifat relatif. Begitulah warna yang selalu memberi warna bagi kehidupan manusia. Ada warna gelap, terang, cerah, buram, panas dan dingin. Semua bisa memberi rona bila dipadukan secara harmonis. Andaikan di dunia ini hanya ada satu warna, betapa membosankan hidup ini.

Kesimpulan

Warna tidak bisa dipisahkan dengan dunia desain bahkan dari kehidupan kita sehri-hari. Warna dapat membentuk ekspresi jiwa dan keragaman bahasa komunikasi. Dengan adanya prinsip dan filosofi warna, kita bisa mengimplementasikan karya desain dalam berkomunikasi secara visual.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Daftar Pustaka

  1. Hadi, Umar. 1998. ‘’Memahami Desain Grafis’’. Katalog Pameran Desain Grafis, LPK Visi Yogyakarta.
  2. Jewler, A. Jerome., dan Drewniany Bonnie, L. 2001. Creative Strategy in Advertising. USA: Wadsworth Thomson Learning, 10 Davis Drive Belmont.
  3. Pirous, AD. 1989. ‘’Desain Grafis pada Kemasan’’. Makalah Simposium Desain Grafis, FSRD ISI Yogyakarta.
  4. Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2006. Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan. Yogyakarta: Dimensi Press.
  5. Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  6. Sutanto, T. 2005. ‘’Sekitar Dunia Desain Grafis/Komunikasi Visual’’. Pura-pura Jurnal DKV ITB Bandung. 2/Juli. 15-16.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/kontribusi-warna-bagi-kehidupan-dan-karya-desain-komunikasi-visual.html

Ilmu Grafis Desain Tutorial Tipografi kali ini membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi visual dengan tipografi yg dipermudah oleh readibilty & legibility. Typography adalah andalan utama pekerja grafis dalam berkomunikasi visual. Segala hal di dunia ini akan berjalan baik jika komunikasi antara semua elemennya berjalan dengan baik. Bagaimana penggunaan tipografi sebagai perangkat komunikasi visual ?

Komunikasi terbangun oleh bahasa, dan bahasa didirikan oleh struktur-struktur yang merupakan susunan dari kata-kata dan elemen terkecil dari semua itu adalah tulisan yang mudah dibaca atau dimengerti dan merupakan rangkaian-rangkaian kode atau simbol yang ditampilkan dalam bentuk huruf-huruf.

Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau ‘C’ dengan ‘Q’. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun 1900 memformulasikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada ‘pattern seeking’ dalam perilaku manusia. Salah satu hukum persepsi dari teori ini membuktikan bahwa untuk mengenal atau ‘membaca’ sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif yang disebut dengan figure dan ruang negative yang disebut dengan ground.

Seperti diatas, bahwa huruf merupakan bagian terkecil dari struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun sebuah kata atau kalimat. Rangkaian huruf dalam sebuah kata atau kalimat bukan saja dapat memberikan suatu makna yang mengacu kepada sebuah objek ataupun gagasan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyuarakan suatu citra ataupun kesan secara visual. Huruf memiliki perpaduan nilai fungsional dan nilai estetika. Pengetahuan mengenai huruf dapat dipelajari dalam sebuah disiplin seni yang di sebut tipografi ( typography ).

Berkomunikasi secara visual dengan tipografi biasanya menggunakan :

  1. Tipeface
  2. Hierarki Visual
  3. Penggabungan Legibility dan Readibility
  4. Font Family
  5. Tipografi Mikro
  6. Tipografi Makro
  7. dlsb.

Tipeface

Typeface atau sering disingkat type yang berarti jenis huruf dalam komunikasi visual digunakan untuk membuat hierarki atau prioritas pembacaan. Sebagai contoh jika kita bandingkan Arial Black dan Times New Roman dalam ukuran yang sama, maka Arial Black akan cepat dibaca / diprioritaskan karena memiliki berat yang lebih serta tegas. Penggunaan jenis huruf dalam sebuah karya desain biasanya dibatasi sekitar tiga buah. Hal ini dilakukan agar visualisasi karya tidak rumit penanda visualnya.

Hierarky Visual

Dalam suatu publikasi sering kali diperlukan hierarki dalam penyusunan type. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan tersebut karena dalam grafis modern senantiasa digali kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menantang serta dapat menarik perhatian responden atau target. Namun demikian, susunan hierarki tetap masih harus ada. Hanya saja hierarki itu perlu disusun berdasarkan alasan yang berbeda-beda hingga membentuk prioritas pembacaan. Hierarki visual disusun oleh tiga hal, yaitu : ukuran font, huruf kapital, dan jenis huruf.

Penggabungan Legibility dan Readibility

Legibility adalah tingkat kemudahan mata mengenali suatu tulisan tanpa harus bersusah payah. Hal ini bisa ditentukan oleh:

  1. Kerumitan desain huruf, seperti penggunaan serif, kontras stroke, dan sebagainya.
  2. Penggunaan warna
  3. Frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Keterbacaan / readability adalah tingkat kenyamanan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh:

  1. Jenis huruf
  2. Ukuran
  3. Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya
  4. Kontras warna terhadap latar belakang

Jika digabungkan kedua hal tersebut maka akan ada kontribusi solusi penggunaan ilmu tipografi dalam membentuk komunikasi visual secara lebih baik.

Font Family

Font Family erat kaitannya dalam membuat hierarki visual dengan penggunaan tipeface berlebih. Hal ini bisa dilakukan karena jenis font adalah mirip atau mempunyai kesamaan tertentu. Perubahan berat dari struktur bentuk dasar huruf terletak pada perbandingan antara tinggi dari huruf yang tercetak dengan lebar stroke. Bila ditinjau dari berat huruf, maka anggota dari keluarga huruf ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok pokok, yaitu: light, regular dan bold. Secara lengkap dibagi menjadi lima kelompok, yaitu: light, regular, semibold, bold dan Black. Setiap anggota keluarga huruf baik light, regular, dan bold memiliki kesamaan ciri fisik, namun dengan tampilnya perbedaan berat dapat memberikan dampak visual yang berbeda.

Seperti contoh, huruf bold karena ketebalannya memiliki potensi yang kuat dalam menarik perhatian mata. Biasanya kelompok huruf bold ini banyak sekali digunakan untuk judul (headline) sebuah naskah, baik untuk iklan, poster, maupun media terapan lainnya.

Tipografi Mikro

Adalah ilmu tipografi yang menyangkut tampilan visual rancangan huruf secara mendasar, seperti desain tata letak serta eksekusi-eksekusi visual yang terdiri dari perhitungan besar huruf, leading, dan kerning.

Tipografi Makro

Adalah ilmu tipografi yang menyangkut kepada pengintegrasian permasalahan strategi kreatif dari konsep desain, filosofi, kaitan huruf dengan sejarah, sasaran khalayak, serta penggunaan huruf sebagai sebuah solusi komunikasi.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/ber-komunikasi-visual-dengan-tipografi.html

Ilmu Grafis Desain Tutorial Hierarki Tipografi merupakan suatu cara dalam memilih typeface, menata huruf & menyusun font untuk menciptakan kesan visual tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Apa saja ruang lingkup dan kegunaannya? Silakan baca lengkap tutorial tipografi berikut.

Dalam suatu publikasi sering kali diperlukan hierarki dalam penyusunan type. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan tersebut karena dalam grafis modern senantiasa digali kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menantang serta dapat menarik perhatian responden atau target. Namun demikian, susunan hierarki tetap masih harus ada. Hanya saja hierarki itu perlu disusun berdasarkan alasan yang berbeda-beda.

Berikut contoh sebuah desain kemasan yang menonjolkan penggunaan tipografi sebagai penyampai informasi. Agar sasaran informasi tercapai, harus diperhatikan prioritas-prioritas penyampaian dalam penyusunan pesan. Oleh karena itu, dibuatlah hierarki sesuai urutan prioritas penyampaian informasi, terlepas dari legibility dan readibility.

1. Nama barang yang terbungkus dalam kemasan ini adalah MEXAKIDS
2. Apakah Mexakids? SIRUP.
3. Sirup apa? OBAT BATUK.
4. Obat batuk yang bagaimana? Memiliki RASA APEL. Isinya NETTO 100 ml… dst.

Nah pada gambar tersebut terlihat jelas bahwa penggunaan besar ukuran font, huruf kapital, dan jenis huruf akan memberikan ruang-ruang tanda baca. Ruang ini akan memudahkan alur pembacaan, biasanya dimulai dari kiri atas ke bawah atau kiri atas ke kanan sesuai dengan bentuk dan alur yang diinginkan. Perlu diingat bahwa hierarki tipografi bisa dibentuk berdasarkan 3 hal yang saya sebut di atas. Diluar tipografi, untuk membentuk hierarki bisa menggunakan garis-garis alur / panah dan juga warna.

Tidak hanya tipografi yang menggunakan hierarki ini. Dalam dunia desain dipelajari Nirmana untuk menggali lebih dalam tentang komunikasi secara visual. Meskipun tanpa ada tulisan, tetap saja sebuah gambar bisa diartikan dan dipahami sesuai dengan hierarki yang kita bahas ini.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/hierarki-tipografi.html

Tutorial Ilmu Grafis Tipografi atau Tipography Pemanfaatan Tipografi untuk Membuat Layout Majalah, Koran dan Buku. Dalam sebuah buku (juga Koran maupun majalah) terdapat pengorganisasian halaman serta susunan organisasi dalam naskah. Dengan adanya pengorganisasian ini pembaca semakin mudah melihat alur pembacaan dan memudahkan dalam membaca.

Sekilas mengenai Tipografi : Tipografi merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan.

Pada umumnya, pengorganisasiannya terdiri dari :

1. Judul Buku/Nama Majalah/Nama Koran.
2. Headline atau Judul Artikel bisa juga Judul Bab.
3. Subhead atau judul-judul bahasan dan subbahasan.

1. Main Title Judul Utama

Judul utama menjadi penentu bagi pembaca untuk mengenali jenis buku. Oleh karena itu, judul utama pada cover (buku atau majalah) harus eye catchy. Judul harus ditulis dengan kontras yang cukup kuat, bahkan bila perlu menggunakan ukuran yang besar, bentuk font yang sesuai, serta susunan tatanan huruf yang meanarik.

2. Menyusun Headlines dan Subhead

Headlines atau judul artikel berfungsi mengantarkan pandangan mata pembaca menuju teks pada artikel yang disajikan. Jika Headline tidak menarik, mungkin teks naskah tersebut tidak akan pernah dibaca orang. Itulah sebenarnya tugas dari seorang desainer, yakni mencuri perhatian pembaca agar bersedia membaca teks dalam artikel tersebut. Selain menarik perhatian, teknik lain di luar desain adalah dalam hal copy writing. Bunyi judul harus menggelitik. Ada teknik pemilihan kata yang bisa menggelitik perhatian orang untuk menyampaikan maksud Anda. Hal itu bisa Anda pelajari dalam buku-buku bertema “copy writing”.

3. Tip-Tip Memformat Headlines

a. Cara termudah untuk memformat Headline adalahd dengan memformat huruf pertama pada setiap kata menjadi huruf capital, sedangkan huruf berikutnya adalah huruf bisaa. Susunan seperti itu memudahkan orang untuk membacanya.

b. Sementara itu, penggunaan huruf capital pada seluruh headlines akan kelihatan tradisional, selain juga lebih sulit dibaca. Oleh karena itu hindarilah tersebut.

c. Apabila headline membentang di atas beberapa kolom, usahakan agar bisa penuh hingga akhir lebar kolom tersebut. Hal itu akan membantu pembaca untuk memahami dengan mudah bahwa kolom-kolom tersebut berisi satu artikel yang sama.

d. Jika Headline terdiri lebih dari satu baris, jangan memotong suatu kosakata atau ungkapan yang mungkin akan menyebabkan kesalahan persepsi yang fatal bagi pembaca yang hanya membaca sekilas.

e. Jika beberapa Headlines terletak dalam satu baris pada sebuah halaman, Anda harus melakukan pengaturan agar pembaca tidak keliru membaca suatu baris Headline dengan menyeberang ke Headline di sebelahnya. Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan agar terhindar dari hal tersebut :

  1. Membuat garis terpidah pada gutter untuk membatasi suatu artikel lain di sebelah kanannya.
  2. Membuat Header dengan ketebalan teks yang berbeda.
  3. Memasang gambar sebagai pemisah antara judul artikel pertama dan kedua.
  4. Jangan menggunakan titik di belakang Headline jika Anda menghendaki pemabaca membaca teks selanjutnya pada body teks karena titik menandakan stop.
  5. Headline bisa dibuat dengan tiga hingga empat point lebih besar dibandingkan body teks. Selain itu, gunakan style bold.

4. Tip-Tip Memformat Subhead

a. Subhead dibuat untuk menandai bagian level bahasan (yang berarti bagian yang lebih detail) dari suatu topik yang lebih rendah. Aturan yang berlaku pada Headline juga berlaku pada Subhead.

b. Ingatlah bahwa Subhead dan teks di bawahnya merupakan satu kesatuan unit. Oleh karena itu, berikan jarak cukup jauh (setidaknya dua kali lipat jarak dari paragraf di bawahnya) antara Subhead dengan teks sebelumnya yang berfungsi memisahkan unit sebelumnya.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/pemanfaatan-tipografi-untuk-membuat-layout-majalah-koran-dan-buku.html

Ilmu Desain Tutorial Tipografi Tipography merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf font dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yg tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Apa saja ruang lingkup dan kegunaannya? Silakan baca lengkap tutorial tipografi berikut.

Mengenal Tipe

Tipografi adalah disiplin ilmu yang dipandang tidak cool tapi misterius, yang selalu di belakang layar dan cenderung low profile. Bandingkan dengan usability misalnya-yang akhir-akhir ini naik daun. Siapa sih yang tidak kenal Jakob Nielsen? Atau bandingkan dengan tokoh new media Web dan Flash macam Jeffrey Zeldman dan Hillman Curtis. Rata-rata dari kita kenal atau minimal pernah dengar namanya. Tapi kalau disuruh menyebutkan siapa tokoh tipografi favorit, atau siapa yang menciptakan tipe Futura atau Georgia, maka kebanyakan dari kita menggeleng. Tokoh suatu bidang seringkali mencerminkan seberapa popular bidang tersebut. Kalau tokoh-tokoh tipografi jarang kita ketahui, maka barangkali begitu pulalah dengan bidang ilmu tipografi. Padahal tipografi amatlah penting bagi semua desainer, termasuk desainer Web.

Dalam seri tutorial apresiasi tipografi ini, fokus kita adalah pada tipe. Kita akan mengenal apa itu tipe. Kita juga akan menyinggung teknologi font dan tipografi di komputer. Lalu melihat profil beberapa perusahaan penerbit font—yang biasa disebut digital type foundry—yang ternama seperti Adobe dan ITC. Kita pun akan mengenal beberapa tipe popular seperti Garamond dan Bodoni. Dan terakhir kita akan membahas desain logo yang mengutamakan permainan huruf dan tipe. Meski demikian, tak ketinggalan akan disinggung pula aspek-aspek dasar tipografi yang baik.

Karena sifat tutorial ini pemula, maka bisa diikuti baik oleh desainer Web—yang rata-rata, sayangnya, memang kurang mengenal tipografi dibandingkan desainer cetak—maupun oleh umum. Alangkah baiknya jika setiap orang memahami dasar-dasar tipografi. Apalagi karena sekarang setiap hari mau tidak mau kita berurusan dengan huruf dan tipe di komputer. Mulai dari memilih font saat akan membuat surat, kartu undangan, halaman web, kartu nama, dan lain-lain.

Tujuan akhir tutorial ini adalah membangkitkan kesadaran akan tipe sehingga pembaca menyadari peran tipografi dalam desain grafis, mengenal font-font, dan dapat memilih dan memadu font sesuai karakteristik masing-masing font. Tutorial ini tidak akan membahas hingga ke pemakaian software Fontographer atau teknik perancangan tipe lainnya, melainkan hanya dari sisi apresiasi.

Pentingnya Sebuah Huruf

Huruf dan tulisan memiliki arti amat penting bagi manusia. Bahkan, yang namanya peradaban atau masa sejarah ditandai dengan peristiwa dikenalnya tulisan oleh manusia. Zaman sebelum ada tulisan sering disebut zaman prasejarah. Kalau Anda melihat ke buku atau ke layar komputer, Anda akan melihat huruf dan tulisan. Di jalanan pun Anda akan melihat tulisan. Di pakaian, di badan mobil dan pesawat terbang, bahkan di gua-gua purbakala Anda bisa menjumpai tulisan. Selain gambar, huruf adalah cara manusia berkomunikasi secara visual.

Tipe/Typeface dan Font

Satu hal pertama yang Anda bisa perhatikan dari tulisan-tulisan yang berbeda itu adalah, bahwa bukan huruf-hurufnya saja yang berbeda, melainkan jenis hurufnya juga. Huruf “A” atau “a” di sebuah tulisan bisa berbeda dari huruf “A” dan “a” yang lain. Anda tahu bahwa keduanya abjad alfabet yang sama, tapi Anda juga mengamati bahwa jenis hurufnya berbeda. Bisa jadi yang satu lebih tebal atau gemuk dari yang lain, bisa jadi kaki-kaki hurufnya ada yang memiliki tangkai, atau lebih pendek atau lebih panjang, dan sebagainya. Sebuah jenis huruf yang sama kadang diberi nama tertentu (misalnya: Times New Roman).

Jenis huruf ini disebut typeface, atau singkatnya tipe. Sekarang orang juga sering menyebut jenis huruf dengan font, karena file yang berisi informasi sebuah typeface di komputer diberi istilah font (misalnya, di Windows, informasi untuk menggambar tipe Arial disimpan dalam file ARIAL.TTF). Di dalam dunia tipografi tradisional (nondigital), yaitu saat huruf dicetak menggunakan balok-balok logam, font memiliki arti lain kumpulan balok-balok huruf logam yang memiliki satu typeface dan satu ukuran tertentu. Belakangan barulah orang-orang komputer memakai kembali istilah font untuk bidang tipografi digital. Kedua istilah typeface/tipe dan font dalam artikel ini akan dipakai bergantian.

Klasifikasi Tipe

Ada banyak sekali jenis huruf yang bisa kita amati. Mungkin di komputer Anda sendiri ada terinstal ratusan hingga ribuan file font. Sebagian font bentuknya unik dan aneh sehingga mudah kita kenali, sementara yang lain tampak sekilas mirip-mirip semua. Setiap saat pun diciptakan font-font baru. Produser film-film Hollywood misalnya, sering mengeluarkan dana untuk mendesain font baru yang unik untuk filmnya.

Berdasarkan bentuknya, para pakar tipografi umumnya membagi jenis huruf ke dalam dua kelompok besar: serif dan sans serif. Lalu ada kelompok ketiga dan keempat yang disebut script dan dekoratif. Jenis serif dan sans serif pun berbeda-beda, tapi mari sebelumnya mengetahui perbedaan serif dan sans serif.

Serif dan Sans Serif

Serif adalah kelompok jenis huruf yang memiliki “tangkai” (stem). Lihatlah font Times New Roman, Bodoni, Garamond, atau Egyptian misalnya. Persis mendekati ujung kaki-kaki hurufnya, baik di bagian atas maupun bawah, terdapat pelebaran yang menyerupai penopang atau tangkai. Menurut sejarah, asal-usul bentuk huruf ini adalah mengikuti bentuk pilar-pilar bangunan di Yunani Kuno. Seperti kita ketahui, bagian atas dan bawah tiang pilar memang lebih besar agar bisa membuat pilar lebih kokoh.

Sementara sans serif (atau “tanpa” serif) adalah jenis huruf yang sebaliknya: tidak memiliki tangkai. Ujung-ujung kakinya polos begitu saja. Contohnya Arial atau Helvetica (Catatan: meski amat mirip dan sering saling mensubstitusi satu sama lain, kedua font ini tidaklah mirip persis. Cobalah sekali-kali Anda cetak contoh huruf dalam ukuran besar dan amati perbedaan-perbedaan tipis kedua font ini.) Contoh lain jenis huruf sans adalah ITC Officina Sans, yaitu font yang digunakan di mwmag yang sedang Anda baca ini.

Kegunaan tangkai serif
Pada ukuran teks kecil, seperti seukuran tulisan teks di surat kabar atau buku, umumnya tangkai pada kaki-kaki font serif membantu agar tulisan mudah dibaca. Mengapa? Karena tangkai font serif membantu membentuk garis tak tampak yang memandu kita mengikuti sebuah baris teks. Karena itulah kita banyak menjumpai buku-buku dilayout dengan serif. Menurut penelitian, seseorang yang membaca font serif bisa lebih tahan membaca karena tidak mudah lelah—akibat adanya bantuan dari tangkai serif tadi.

Tapi pada kondisi-kondisi berikut ini:
a) huruf amat kecil (seperti tulisan bahan-bahan di label makanan); b) huruf amat besar (seperti di plang-plang merek) yang harus dilihat dari jauh; c) di layar monitor; huruf sans serif kadang lebih mudah dibaca. Mengapa? Karena justru kaki-kaki font serif memperumit bentuk huruf sehingga sedikit lebih lama dibaca. Jika huruf kecil sekali atau pada resolusi rendah seperti di layar monitor, kaki serif bisa tampak bertindihan dan menghalangi pandangan. Karenanya kita banyak melihat plang rambu lalu lintas menggunakan huruf yang sesederhana mungkin agar bisa cepat dibaca, dan di halaman web banyak dipakai font serif karena lebih mudah dibaca pada ukuran kecil/layar kasar.

Jenis-jenis serif
Serif tiap jenis huruf pun dapat berbeda-beda. Huruf-huruf masa lama (Old Style) seperti Garamond dan huruf-huruf masa transisi (Transitional) seperti Times New Roman misalnya, memiliki tangkai yang sudutnya lengkung. Sementara pada huruf-huruf masa modern seperti Bodoni, tangkainya bersudut siku. Ada lagi yang bersudut siku pula, tapi relatif tebal/tinggi. Contohnya Egyptian. Tipe serif seperti Egyptian kadang disebut slab serif. Beberapa huruf unik tertentu memiliki tangkai serif negatif, yaitu tangkai yang masuk ke sisi dalam kaki sehingga ujung kaki nampak lebih kecil dari batang kakinya.

Skrip dan Dekoratif

Selain serif dan sans serif, ada pula jenis huruf “sambung” dan huruf “gaya bebas.” Huruf sambung atau script bisa juga Anda sebut “huruf tulis tangan” (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Atau bisa juga disebut “huruf undangan” karena hampir selalu hadir di kartu-kartu undangan karena dipandang indah dan anggun. Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat “melingkar-lingkar”. Sementara huruf “gaya bebas” mencakup segala macam jenis huruf “aneh” lain yang sulit dikategorikan dalam ketiga kategori lainnya. Kadang huruf ini bisa diinspirasi dari bentuk geometris tertentu, memadukan gambar atau pola tertentu, dan sebagainya. Di komputer juga dikenal font-font “wingdings-like” yang sebenarnya adalah clipart. Tiap hurufnya murni berupa ikon atau gambar, bukan huruf.

Umumnya jenis-jenis huruf skrip dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Untuk tulisan lebih lengkap tentang klasfikasi tipe silakan baca pada tutorial klasifikasi font dalam tipografi.

Font Family

Font Family pada Tipografi digunakan untuk menyamakan karakteristik font sehingga menjadi satu kesatuan rumpun keluarga. Mungkin Anda perna melihat atau mengetahui ada font yang namanya hampir sama (hanya berbeda nama akhir saja, misalnya), nah itulah yang dinamakan font family. Kegunaan font family ini akan terasa ketika kita menggunakannya dalam sebuah layout majalah, koran atau buku. Menyinggung readability dan legibility dalam sinkronisasi kesamaan visual. Ikuti artikel ini lebih lengkap pada pembahasan Font family.

Anatomi

Huruf pada Tipografi dipakai sebagai pengidentifikasi klasifikasi font juga untuk membuat font baru. Langkah awal untuk mempelajari tipografi adalah mengenali atau memahami anatomi huruf. Gabungan seluruh komponen dari suatu huruf merupakan identifikasi visual yang dapat membedakan antar huruf yang satu dengan yang lain. Bisa Anda baca pada artikel Anatomi font/huruf dalam tipografi.

Type Measurement

Setelah Anda mengetahui bagian-bagian dari font atau sering disebut dengan anatomi font, maka Anda akan juga dikenalkan dengan type measurement. Pengukuran Huruf pada Tipografi membahas penggunaan point, pica, leading, kerning, tracking, baseline dan lain sebagainya. Type Measurement selain dipakai sebagai alat untuk mengatasi readability juga menangani legibility sebuah tulisan atau huruf sehingga nyaman dan mudah dibaca dengan susunan yang dapat diubah-ubah. Silakan baca artikel tersebut pada Type Measurement Pada Typografi.

Pemanfaatan Tipografi

Dalam sebuah buku (juga Koran maupun majalah) terdapat pengorganisasian halaman serta susunan organisasi dalam naskah. Dengan adanya pengorganisasian ini pembaca semakin mudah melihat alur pembacaan dan memudahkan dalam membaca. Bisa Anda baca lebih lengkap pada Pemanfaatan tipografi untuk layout majalah dan sejenisnya.

Readibilitas dan Legibilitas

Banyak orang bingung dan salah mengartikan kedua hal yang memang berkaitan ini. Readibilitas Legibilitas diatur pada penggunaan Nirmana sehingga sebuah huruf mudah dan nyaman dibaca dengan baik juga tersusun dengan baik pula. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya. Baca artikel lengkapnya pada legibilitas dan readibilitas dalam tipografi.

Mengidentifikasi Nama Font

Identifikasi Font untuk mengenal & mengidentifikasi font. Font apa ini, What the font, nama font ini apa ya atau semacamnya akan dijawab disini. Namun dalam hal kondisi tertentu, seperti yang kita sama-sama tahu bahwa jenis font itu ada jutaan, dan mustahil bagi seorang desainer mampu untuk mengenal kesemua font tersebut. Cek caranya pada artikel mengidentifikasi font.

Bahan Bacaan Kali Ini

Buku Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001, cukup layak dimiliki. Buku setebal 190 halaman ini dilayout cukup apik dan membahas sejarah singkat, dasar-dasar dan klasifikasi tipe, prinsip melayout secara tipografis, dan di akhirnya menampilkan katalog sekitar 13 buah tipe terkenal. Secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang buku tipografi terbaik di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kekurangan seperti tidak adanya glosari maupun indeks. Beberapa gambar dalam artikel ini diambil dari buku tersebut.

Situs. Microsoft typography, http://www.microsoft.com/typography/. Microsoft, percaya atau tidak, adalah salah satu perusahaan yang berperan dalam mengembangkan teknologi tipe digital. Bersama Apple akhir tahun 1980-an, Microsoft membawa teknologi font vektor TrueType ke PC maupun Mac. Dan karena spesifikasi TrueType dipublikasikan, maka banyak font-font baru yang murah bermunculan. Microsoft pun banyak membuat font dan membagikannya gratis—sebagian dibundel langsung bersama sistem operasi dan sisanya dapat didownload dari situs tipografinya. Khusus untuk Web, Microsoft membayar beberapa desainer beken untuk merancang antara lain tipe Verdana (sans) dan Georgia (serif). Kedua tipe ini didesain khusus agar mudah terbaca di layar komputer, antara lain dengan cara membuat bagian x-height (perut) relatif besar. Bagi yang belum mempunyai kedua font tersebut, saya anjurkan mengambilnya dari situs Microsoft.

Daftar pustaka Tutorial Tipografi

www.microsoft.com/typography/
Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001

sumber : http://www.ahlidesain.com/tutorial-tipografi.html

ILMU GRAFIS TIPOGRAFI

Ilmu Grafis Tutorial Tipografi Type Measurement atau Pengukuran Huruf pada Tipografi membahas penggunaan point, pica, leading, kerning, tracking, baseline dan lain sebagainya. Type Measurement selain dipakai sebagai alat untuk mengatasi readability juga menangani legibility sebuah tulisan atau huruf sehingga nyaman dan mudah dibaca dengan susunan yang dapat diubah-ubah.

Sistem pengukuran atau type measurements ini dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Relative Measurement

Tiga dasar sistem pengukuran Relative Measurement dalam tipografi adalah: point (biasa disingkat dengan pt), pica (dibaca: paika), dan unit. Point digunakan untuk mengukur tinggi huruf, sedangkan pica digunakan untuk mengukur panjang baris. Pengukuran dari lebar persatuan huruf serta jarak antar huruf dihitung dengan satuan unit.

Secara umum gambar type measurements

Perhitungan unit hanya digunakan dalam proses yang menggunakan teknologi phototypesetting dan digital composition – teknologi yang digunakan untuk pengetikan dan pencetakan huruf agar dapat mendapatkan hasil cetak yang tajam dan presisi. Pada tahun 1737, Pierre Fournier, seorang pembuat huruf (type founder) dari Paris menemukan sistem pengukuran huruf dalam satuan point.

Gambar Relative Measurements

Sistem pengukuran huruf yang lain diperkenalkan 40 tahun kemudian oleh Francois Ambroise Didot dari Perancis. Acuan yang dipakai sekarang adalah sistem Anglo-Saxon dengan perhitungan 72 pt setara dengan 1 inch atau 2,539 cm. Sistem pengukuran tipografi tersebut berawal dari teknik cetak movable type yang pada perkembangan berikutnya diciptakan standarisasi pengukuran dan satuannya

2. Spacing Measurement

Secara umum gambar spacing measurements

Didalam Spacing measurement ini digunakan satuan pengukuran, yaitu :

Kerning
Pengukuran jarak antar huruf (kerning) dalam phototypesetting dan digital composition dihitung dengan sistem unit. Sistem ini tidak memiliki acuan pengukuran yang tetap, dalam pengertian bahwa unit memiliki nilai yang berbeda-beda tergantung kepada sistem yang digunakan. Em berupa kotak seukuran besarnya huruf, kemudian bila kotak ini dibagi menjadi beberapa segmen yang sama besar, maka setiap segmen ini disebut sebagai unit. Sebuah huruf ‘U’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 6 unit.

Leading
Pengukuran jarak antarbaris (leading) dihitung dengan menggunakan satuan point. Teknik tradisional memakai lembaran metal yang disisipkan di antara baris. Lembaran metal ini memiliki ketebalan yang beragam.

Tracking
Pengukuran jarak antar huruf dalam satu kata, kalimat atau tulisan tertentu.

Baseline Shift
Sebuah baseline shift digunakan untuk mengukur jarak antara huruf dan basline (letak paling bawah dari sebuah huruf, biasanya membentuk garis) ke atas atau kebawah

Left Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kiri

Center Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata tengah

Right Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kanan

Justify
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kiri dan kanan

Sumber : http://www.ahlidesain.com/type-measurement-atau-pengukuran-huruf-pada-tipografi.html

Ilmu Grafis Tutorial Tipografi Pentingnya Tipografi dalam Readibilitas Legibilitas diatur pada penggunaan Nirmana sehingga sebuah huruf mudah dan nyaman dibaca dengan baik juga tersusun dengan baik pula. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

Ketika seseorang berbicara kepada orang lain, sesungguhnya orang tersebut sedang melafalkan beberapa lambang bunyi yang arti dan maknanya telah disepakati bersama. Lambang bunyi, dalam konteks ini, divisualkan dalam bentuk simbol-simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dimengerti maksudnya. Dalam peradaban modern, lambang bunyi yang berbentuk huruf memiliki peranan penting dalam sebuah proses komunikasi antarmanusia.

Huruf dan tipografi dalam perkembangannya menjadi ujung tombak guna menyampaikan pesan verbal dan pesan visual kepada seseorang, sekumpulan orang, bahkan masyarakat luas yang dijadikan tujuan akhir proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan atau target sasaran.

Legibility adalah tingkat kemudahan mata mengenali suatu tulisan tanpa harus bersusah payah. Hal ini bisa ditentukan oleh:

  1. Kerumitan desain huruf, seperti penggunaan serif, kontras stroke, dan sebagainya.
  2. Penggunaan warna
  3. Frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Dalam buku The Graphics of Communication, Francis Meynell, seperti dikutip oleh Ruari Maclean mengatakan tentang legibility sebagai berikut:

By legibility, I mean a proper observance in all infinite detail of that principle of order and conversion which is the basis of written communication. Printing is the vehicle, legibility is the well-greased bearinng that allows the whells of sense to revolve without squelling.

Legibility adalah tampilan yang layak atau pantas dari dasar-dasar aturan dan kebiasaan dalam semua detil/rincian yang tak terbatas dan menjadi dasar komunikasi tertulis. Cetakan adalah kendaraan/sarana keterbacaan adalah peluru sendi yang dilumasi dengan baik sehingga memungkinkan roda-roda perasaan berputar tanpa berdecit.

Keterbacaan / readability adalah tingkat kenyamanan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh:

  1. Jenis huruf
  2. Ukuran
  3. Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya
  4. Kontras warna terhadap latar belakang

Huruf dan tipografi merupakan soko guru tunggal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Banyak orang sudah melek huruf, sudah pasti mengenal lambang bunyi tersebut. Mereka sudah pasti dapat mengeja, membaca, dan menuliskan lambang bunyi itu untuk berbagai kepentingan dan keperluannya masing-masing. Tetapi tidak sedikit yang buta tipografi. Mengapa demikian? Karena tipografi senantiasa terkait dengan tatasusun, tatakelola, dan tatapilih huruf untuk kepentingan komunikasi visual.

Sementara itu, perkawinan antara tipografi dengan nirmana merupakan sebuah perkawinan agung. Keduanya diyakini sebagai pasangan kinasih yang tidak bisa dipisahkan oleh ruang dan waktu. Dalam hubungannya dengan desain komunikasi visual, tipografi dan nirmana adalah elemen penting yang sangat diperlukan guna mendukung proses penyampaian pesan verbal maupun visual.

Meski nirmana dipahami sebagai sebuah bentuk yang tidak berbentuk. Dalam konteks desain komunikasi visual, nirmana memegang peranan penting perihal bagaimana menata dan menyusun elemen dasar desain komunikasi visual . Peranan penting lainnya, di dalam nirmana mensyaratkan tatasusun dan tatakelola unsur desain komunikasi visual dalam sebuah perencanaan komposisi yang serasi dan seimbang di dalam setiap bagiannya.

Huruf yang telah disusun secara tipografis dengan mengedepankan konsep harmonisasi nirmana merupakan elemen dasar dalam membentuk sebuah tampilan desain komunikasi visual. Keberadaannya diyakini mampu memberikan inspirasi untuk membuat suatu komposisi yang menarik, persuasif dan komunikatif.

Dengan demikian, keberadaan tipografi dalam rancangan karya desain komunikasi visual sangat penting. Sebab melalui perencanaan dan pemilihan tipografi dalam perspektif nirmana yang tepat baik untuk ukuran, warna, dan bentuk, diyakini mampu menguatkan isi pesan verbal dan pesan visual karya desain komunikasi visual tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka ketika desainer komunikasi visual mahir menguasai tipografi dan nirmana untuk dipergunakan menyampaikan informasi yang bersifat sosial ataupun komersial, maka sejatinya sang desainer tersebut mampu memposisikan dirinya menjadi kurir komunikasi (visual) yang bertanggung jawab kepada masyarakat luas yang dijadikan target sasaran.

Dengan menjadi kurir komunikasi yang baik – berkat pemilihan tipografi yang tepat dengan mengedepankan aspek readibilitas (dipengaruhi oleh ukuran huruf, jarak antarhuruf, dan jarak antarbaris yang terlalu dekat atau jauh) dan legibilitas (dipengaruhi oleh kerumitan desain huruf, penggunaan warna, tinta, dan kertas) yang akurat – maka masyarakat luas tidak akan terjebak pada perkara-perkara atau kasus-kasus mengarah pada belantara perbedaan persepsi yang akan menimbulkan bencana miscommunication!

Sumber : http://www.ahlidesain.com/pentingnya-tipografi-dalam-readibilitas-legibilitas.html

MAKNA WARNA
Pastilah hampir semua orang mempunyai salah satu jenis warna yang sangat disukai dari sekian banyak warna yang ada atau yang biasa disebut dengan warna favorit. Nah, dari situ kita bisa lihat watak kamu berdasarkan warna favorit kamu.

Warna Biru
Jika kamu menyukai warna biru, maka kamu termasuk dalam tipe pemurung, selalu menyenangkan dan selalu bertindak pasif dalam segala hal. Mendambakan ketenangan dan ketentraman. Kamu selalu mendapat kesulitan dalam pergaulan. Demikian pula dalam bercinta karena kamu pintar dalam menyembunyikan perasaan.

Warna Hijau
Warna kesukaan kamu hijau, maka kamu adalah tipe yang sangat romantik, menyukai keindahan, menyenangi alam dengan udara yang sejuk. Kamu adalah seseorang yang selalu memegang prinsip. Dalam hal bercinta kamu mengidam-idamkan calon teman hidup yang penuh toleransi dan dapat dipercaya.

Warna Kuning
Kesukaan kamu warna kuning menandakan bahwa kamu memiliki sifat optimis. Kamu tipe periang dan senang bergaul, tidak memiliki penampilan yang loyo. Sifat tolong-menolong selalu ada dalam diri kamu, karena menolong merupakan suatu kewajiban mutlak bagi kamu. Kamu orang yang tidak pernah meremehkan siapapun juga, walaupun seseorang itu dungu atau bloon.

Warna Ungu
Kalo warna Ungu (Violet) menjadi warna favorit kamu maka kamu adalah tipe yang benar-benar luar biasa. Dalam menghadapi masa depan kamu tidak pernah ragu-ragu, apa yang dikerjakan kamu adalah yang terbaik. Kamu pandai benar dalam mengikuti perkembangan jaman. Dalam bercinta, hanya merekalah yang kuat mental yang bisa mendekati dan menjadi kekasih kamu.

Warna Putih
Jika kamu menyukai warna putih, maka kamu adalah orang yang dilahirkan ke dunia dengan sempurna, banyak orang mengagumi kamu karena sifat angun, sifat idealis dan moral kamu yang teramat tinggi. Tak pernah angkuh, senang menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan kamu.

Warna Hitam
Kamu termasuk tipe orang yang sangat lincah dalam hal-hal tertentu saja. Kalo kamu berada dilingkungan yang tidak disukai, maka kamu akan menjadi murung. Kamu selalu tampil menarik, rapi, cukup banyak lawan jenis berusaha mengejar dan merebut cinta kamu.

Warna Merah
Kamu termasuk tipe yang sangat berwibawa dan juga senang mengayomi teman yang lemah. Walau sering kali bergaul dan bercanda tapi kamu bisa menahan diri. Banyak orang mengatakan cinta, tapi kamu selalu berpikir dan berpikir lagi. Kamu termasuk tipe yang sulit jatuh cinta.

Sumber : http://www.indospiritual.com/index.php?p=58

Arti Warna Menurut Feng Shui

Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna yang kita kenakan sehari-hari memengaruhi pandangan orang lain terhadap kita. Berikut ini sejumlah karakter warna menurut feng shui:

Merah
Sifat merah memberi stimulasi dan dominan. Erat kaitannya dengan sifat hangat serta kemakmuran, tetapi juga menggambarkan kemarahan, malu dan kebencian. Untuk ruangan, merah mengurangi ukuran, tetapi memperbesar ukuran objek. Warna ini bagus sebagai aksen.
Tak cocok: ruang makan, kamar tidur anak-anak, dapur, dan ruang kerja.

Kuning
Erat dengan pencerahan dan intelektualitas. Sifatnya menstimulasi otak dan membantu pencernaan. Sifat positifnya adalah optimisme, akal, dan ketegasan. Sifat negatifnya, berlebihan dan kekakuan.
Cocok: pintu masuk rumah dan dapur.
Tak cocok: ruang meditasi dan kamar mandi.

Hijau
Simbol pertumbuhan, kesuburan, dan harmoni. Hijau adalah warna menenangkan dan menyegarkan. Sifat positifnya, optimisme, kebebasan, dan keseimbangan. Sifat negatifnya, iri hati dan kebohongan.
Cocok: ruang terapi dan kamar mandi.
Tak cocok: ruang keluarga, ruang bermain, dan ruang belajar.

Biru
Damai dan menyejukkan. Biru juga terkait dengan spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran. Asosiasi positifnya, rasa percaya dan stabilitas. Sifat negatifnya, curiga dan melankolis. Biru memberi kesan luas pada ruangan.
Cocok: ruang meditasi, ruang tidur, dan ruang terapi.
Tak cocok: ruang keluarga, ruang makan, dan ruang kerja.

Putih
Simbol awal baru, kemurnian dan kesucian. Kualitas positifnya, bersih dan segar. Sifat negatifnya, dingin dan tanpa kehidupan.
Cocok: kamar mandi dan dapur.
Tak cocok: kamar anak-anak dan ruang makan.

Hitam
Misterius dan independen adalah sifat hitam. Positifnya, daya tarik dan kekuatan. Sifat negatinya, kematian, kegelapan, dan kuasa jahat.
Cocok: kamar remaja dan kamar tidur.
Tak cocok: kamar kerja, kamar anak-anak, dan ruang keluarga.

Cokelat
Warna cokelat menggambarkan stabilitas dan bobot. Sifat positifnya kestabilan dan keanggunan, sedangkan sifat negatifnya depresi dan penuaan.
Cocok: kamar kerja
Tak cocok: kamar tidur.
Sumber: Gaya Hidup Sehat

http://www.indospiritual.com/artikel_arti-warna-menurut-feng-shui.html

Sumber http://www.google.co.id/images?hl=id&biw=1280&bih=583&q=arti+warna&um=1&ie=UTF-8&source=univ&ei=aTD0TN7JJJDJccPcqJUK&sa=X&oi=image_result_group&ct=title&resnum=3&ved=0CDEQsAQwAg

Elemen Estetis Pembentuk Logo

Sebagai bagian dari perencanaan corporate identity design, logo ibarat bagian tubuh yang mampu mengutarakan isi hati produk atau perusahaan.

Dari sisi pemasaran, logo mempunyai fungsi identitas yang membedakan sebuah sebuah produk dengan produk lainnya. Kesemuanya itu tak lepas dari hakikat logo itu sendiri, sebagai sebuah karya seni rupa yang biasa berupa dwi matra (dua dimensi) atau tri matra (tiga dimensi). Sebagai karya seni rupa, sebuah logo tidak bisa lepas dari elemen-elemen senirupa dasar yang membentuknya seperti garis, bentuk, warna, ruang, tipografi dll. Seperti yang dikemukakan oleh John Murphy :

The successful designer of trademarks and logos needs to have basic intellectual and draftsmanship skills in addition to a sensitivity to the aesthetic elements of design.

Yang berarti, seorang perancang logo dan cap dagang yang sukses, perlu memiliki kepandaian dasar dan keterampilan dalam menggambar dalam hubungannya dengan kepekaan terhadap elemen estetika disain.

Pada bagian ini kami menyajikan secara ringkas elemen-elemen pembentuk logo, antara lain sebagai berikut :
1. GARIS
2. BENTUK
3. WARNA
4. TIPOGRAFI

1. GARIS
Pengertian garis menurut Leksikon Grafika adalah benda dua dimensi tipis memanjang. Sedangkan Lillian Gareth mendefinisikan garis sebagai sekumpulan titik yang bila dideretkan maka dimensi panjangnya akan tampak menonjol dan sosoknya disebut dengan garis.
Terbentuknya garis merupakan gerakan dari suatu titik yang membekaskan jejaknya sehingga terbentuk suatu goresan. Untuk menimbulkan bekas, biasa mempergunakan pensil, pena, kuas dan lain-lain. Bagi senirupa garis memiliki fungsi yang fundamental, sehingga diibaratkan jantungnya senirupa. Garis sering pula disebut dengan kontur, sebuah kata yang samar dan jarang dipergunakan.
Pentingnya garis sebagai elemen senirupa, sudah terlihat sejak dahulu kala. Nenek moyang manusia jaman dulu, menggunakan garis ini sebagai media ekspresi senirupa di gua-gua. Mereka menggunakan garis ini untuk membentuk obyek-obyek ritual mereka. Sebagai contoh adalah lukisan di dinding gua Lascaux di Prancis, Leang-leang di Sulawesi, Altamira di Spanyol dan masih banyak lainnya. Selain berupa lukisan, nenek moyang manusia juga menggunakan garis sebagai media komunikasi, seperti huruf paku peninggalan bangsa Phoenicia (abad 12 – 10 SM) yang berupa goresan-goresan.Disamping potensi garis sebagai pembentuk kontur, garis merupakan elemen untuk mengungkapkan gerak dan bentuk. Baik bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi.
Suasana dalam garis
Dalam hubungannya sebagai elemen senirupa, garis memiliki kemampuan untuk mengungkapkan suasana. Suasana yang tercipta dari sebuah garis terjadi karena proses stimulasi dari bentuk-bentuk sederhana yang sering kita lihat di sekitar kita, yang terwakili dari bentuk garis tersebut. Sebagai contoh adalah bila kita melihat garis berbentuk ‘S’, atau yang sering disebut ‘line of beauty’ maka kita akan merasakan sesuatu yang lembut, halus dan gemulai. Perasaan ini terjadi karena ingatan kita mengasosiasikannya dengan bentuk-bentuk yang dominan dengan bentuk lengkung seperti penari atau gerak ombak di laut.
Beberapa jenis garis beserta suasana yang ditimbulkannya seperti, garis lurus mengesankan kekuatan, arah dan perlawanan. Garis lengkung mengesankan keanggunan, gerakan, pertumbuhan. Berikut kami saijkan beberapa jenis garis beserta asosiasi yang ditimbulkannya :

  • Horizontal : Memberi sugesti ketenangan atau hal yang tak bergerak.
  • Vertikal : Stabilitas, kekuatan atau kemegahan.
  • Diagional : Tidak stabil, sesuatu yang bergerak atau dinamika.
  • Lengkung S : Grace, keanggunan.
  • Zig-zag : Bergairah, semangat, dinamika atau gerak cepat.
  • Bending up right : Sedih, lesu atau kedukaan.
  • Diminishing Perspective : Adanya jarak, kejauhan, kerinduan dan sebagainya.
  • Concentric Arcs : Perluasan, gerakan mengembang, kegembiraan dsb.
  • Pyramide : Stabil, megah, kuat atau kekuatan yang masif.
  • Conflicting Diagonal : Peperangan, konflik, kebencian dan kebingungan.
  • Spiral : Kelahiran atau generative forces.
  • Rhytmic horizontals : Malas, ketenangan yang menyenangkan.
  • Upward Swirls : Semangat menyala, berkobar-kobar, hasrat yang tumbuh.
  • Upward Spray : Pertumbuhan, spontanitas, idealisme.
  • Inverted Perspective : Keluasan tak terbatas, kebebasan mutlak, pelebaran tak terhalang.
  • Water Fall : Air terjun, penurunan yang berirama, gaya berat.
  • Rounded Archs : Lengkung bulat mengesankan kekokohan.
  • Rhytmic Curves : Lemah gemulai, keriangan.
  • Gothic Archs : Kepercayaan dan religius.
  • Radiation Lines : Pemusatan, peletupan atau letusan.

Lebih jauh lagi, garis sesuai fungsinya yang khas, yang mampu membentuk symbol yang memiliki pengertian khusus, sangat menunjang penggunaannya sebagai elemen symbol. Penggunaan garis sebegai elemen symbol, pertama kali diperkenalkan oleh Otto Neurath (1882 – 1945) seorang pengajar dan ilmuwan sosial, yang menamakan symbol tersebut sebagai Isotype. Kemudian bahasa Isotype ini berkembang dan menjadi salah satu bahasa gambar yang mampu mewakili berbagai bentuk komunikasi. Dalam perkembangan selanjutnya bentuk-bentuk simbol ini banyak dipergunakan dalam perancangan logo dalam upayanya agar mudah diingat dan mempunyai daya komunikasi yang baik.

2. BENTUK
Pengertian bentuk menurut Leksikon Grafika adalah macam rupa atau wujud sesuatu, seperti bundar elips, bulat segi empat dan lain sebagainya. Dari definisi tersebut dapat diuraikan bahwa bentuk merupakan wujud rupa sesuatu, biasa berupa segi empat, segi tiga, bundar, elip dsb. Pada proses perancangan logo, bentuk menempati posisi yang tidak kalah penting dibanding elemen-elemen lainnya, mengingat bentuk-bentuk geometris biasa merupakan simbol yang membawa nilai emosional tertentu. Hal tersebut biasa dipahami, karena pada bentuk atau rupa mempunyai muatan kesan yang kasat mata. Seperti yang diungkapkan Plato, bahwa rupa atau bentuk merupakan bahasa dunia yang tidak dirintangi oleh perbedaan-perbedaan seperti terdapat dalam bahasa kata-kata. Namun teori Plato tersebut tidaklah mesti berlaku semestinya. Ada aspek lain yang mengakibatkan bahasa bentuk tidak selalu efektif. Seperti penerapan bentuk-bentuk internasional dengan target sasaran tradisional atau sebaliknya. Dengan kata lain, bila target sasaran tidak terbiasa dengan bahasa kasat mata tradisional, pergunakan bahasa kasat mata internasional demikian pula sebaliknya.
Sebagai contoh adalah bila kita merancang logo armada angkatan bersenjata republik Tanzania misalnya, kurang lazim bila kita memilih bentuk keris atau mandau sebagai elemen penunjang dalam logo tersebut, karena bentuk keris dan mandau kurang atau bahkan tidak dikenal oleh rakyat Tanzania.
Dari contoh diatas, kemudian muncul teori tentang frame of reference (kerangka referensi) dan field of reference (lapangan pengalaman) yang menjelaskan bahwa penerimaaan suatu bentuk pesan, dipengaruhi oleh beberapa aspek yakni panca indra, pikiran serta ingatan. Jadi seperti contoh masalah diatas, bentuk logo tersebut akan lebih efektif dan komunikatif bila ditujukan pada angkatan bersenjata Republik Indonesia, dan tidak dengan Republik Dominika karena mereka tidak memiliki frame of reference dan field of reference tentang keris atau mandau dalam ingatan mereka.
Berikut kami sajikan beberapa contoh bentuk dan asosiasi yang ditimbulkannya berdasarkan buku Handbook of Design & Devices tulisan Clarence P. Hornung.
1. Segitiga, merupakan lambang dari konsep Trinitas. Sebuah konsep religius yang mendasarkan pada tiga unsur alam semesta, yaitu Tuhan, manusia dan alam. Selain itu segitiga merupakan perwujudan dari konsep keluarga yakni ayah, ibu dan anak. Dalam dunia metafisika segitiga merupakan lambing dari raga, pikran dan jiwa. Sedangkan pada kebudayaan Mesir, segitiga digunakan sebagai simbol feminitas dan dalam huruf Hieroglyps segitiga menggambarkan bulan.
2. Yin Yang, merupakan bentuk yang termasuk dalam jenis Monad, yakni bentuk yang terdiri dari figure geometris bulat yang terbagi oleh dua bentuk bersinggungan dengan masing-masing titik pusat yang berhadapan. Di China bentuk seperti ini disebut Yin Yang, di Jeapng disebut Futatsu Tomoe sedangkan orang Korea menyebutnya Tah Gook. Yin Yang merupakan gambaran dua prinsip alam, Yang melambangkan kecerahan � Yin melambangkan kegelapan, Yang melambangkan nirwana � Yin melambangkan dunia, Yang sebagai matahari � Yin sebagai bulan, Yang memiliki posisi aktif, maskulin � Yin pasif, feminin. Kesemuanya itu melambangkan prinsip dasar kehidupan, yakni keseimbangan.

3. WARNA
Pemahaman tentang warna dibagi dalam dua bagian berdasarkan sifat warna antara lain sebagai berikut :
1. Warna menurut ilmu Fisika.
Adalah sifat cahaya yang bergantung dari panjang gelombang yang dipantulkan benda tersebut. Benda yang memantulkan semua panjang gelombang terlihat putih, benda yang sama sekali tidak memantulkan terlihat hitam. Dispersi terjadi apabila sinar matahari melalui prisma kaca yang berbentuk spektrum dan kecepatan menjalarnya tergantung pada panjang gelombangnya. Warna utama dari cahaya atau spektrum adalah biru, kuning dan merah dengan kombinasi-kombinasi yang dapat membentuk segala warna.

2. Warna menurut ilmu Bahan.
Adalah sembarang zat tertentu yang memberikan warna. Pigmen memberikan warna pada tumbuh-tumbuhan, hewan, juga pada cat, plastik dan barang produksi lainnya kecuali pada tekstil yang menggunakan istilah zat celup untuk mewarnainya. Suatu pigmen berwarna khas karena menghisap beberapa panjang gelombang sinar dan memantulkan yang lain. Pigmen banyak digunakan dalam industri, misalnya plastik, tinta karet dan lenolum.
Sebagai bagian dari elemen logo, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari logo tersebut. Dalam perencanaan corporate identity, warna mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas. Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss, bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut. Sebagai contoh adalah penggunaan warna merah pada segitiga pengaman, warna-warna yang digunakan untuk traffic light merah untuk berhenti, kuning untuk bersiap-siap dan hijau untuk jalan. Dari contoh tersebut ternyata pengaruh warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat.
Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur tentang warna sbb: Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda.
Dari pemahaman diatas dapat dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda. Berikut kami sajikan potensi karakter warna yang mampu memberikan kesan pada seseorang sbb :
a. Hitam, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambang untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).
b. Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesulitan dsb.
c. Abu-abu, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.
d. Merah, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup).
e. Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan sesuatu.
f. Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu (dediepte), sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.
g. Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.
Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh Louis Prang pada 1876 meliputi :
1. Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau dsb.
2. Value, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
3. Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.
Selain Prang System terdapat beberapa sistem warna lain yakni, CMYK atau Process Color System, Munsell Color System, Ostwald Color System, Schopenhauer/Goethe Weighted Color System, Substractive Color System serta Additive Color/RGB Color System.
Diantara bermacam sistem warna diatas, kini yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Sedangkan RGB Color System dipergunakan dalam industri media visual elektronika.

4. TIPOGRAFI
Pengertian tipografi menurut buku Manuale Typographicum adalah :
Typography can defined a art of selected right type printing in accordance with specific purpose ; of so arranging the letter, distributing the space and controlling the type as to aid maximum the reader’s.
Dari pengertian diatas, memberikan penjelasan bahwa tipografi merupakan seni memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.
Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, huruf tak pernah lepas dari kehidupan keseharian. Hampir setiap bangsa di dunia menggunakannya sebagai sarana komunikasi. Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglyphe pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus. Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa. Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad ke-8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi. Perkembangan tipgrafi saat ini mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan (hand drawn) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.
Berikut kami sajikan beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :
1. Roman
Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.
2. Egyptian
Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.
3. Sans Serif
Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.
4. Script
Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.
5. Miscellaneous
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.
Dalam pemilihan jenis huruf, yang senantiasa harus diperhatikan adalah karakter produk yang akan ditonjolkan dan juga karakter segmen pasarnya. Seperti misalnya pada produk minyak wangi untuk wanita jarang yang menggunakan jenis huruf Egyptian karena berkesan kuat dan keras dan biasanya mempergunakan jenis huruf Roman yang bernuansa klasik dan lembut sehingga cocok dengan karakter minyak wangi dan wanita.

Sumber : Murphy, John and Michael Rowe. How to Design Trademarks and Logos. Ohio : North Light Book, 1998.
(Indra Darmawan)

Saduran  http://kepheta.wordpress.com/2008/10/31/arti-garis-warna-dan-bentuk-pada-sebuah-logo/

MODUL TIPOGRAFI

TOOL COREL, PHOTOSHOP DLL

DARI BERBAGAI SUMBER

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA KOTA TEGAL

JALAN Jl. Dewi Sartika No. 71 Kota Tegal Indonesia

http://www.poltektegal.ac.id

2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: