KESUNGGUHAN BELAJAR TIPOGRAFI MULTIMEDIA

KESUNGGUHAN BELAJAR TIPOGRAFI BANYAK MANFAATNYA

SEBAGAI LADANG BELAJAR MULTIMEDIA

 

BAHAN DASAR BELAJAR TIPOGRAFI

Renungan kata bijak , Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.Vision without execution is a daydream. Execution without vision is a nightmare.Japanese Proverb. Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.In this life we cannot always do great things. But we can do small things with great love. Mother Teresa. Hidup ini singkat. Tidak ada waktu untuk meninggalkan kata-kata penting tak terkatakan. Life is short. There is no time to leave important words unsaid. Paulo Coelho. Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan.The way to get started is to quit talking and begin doing. Walt Disney Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka. Minds are like parachutes – they only function when open.Thomas Dewar Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhirSuccess is a journey, not a destination. Ben Sweetland Mereka yang dapat memberi tanpa mengingat, dan menerima tanpa melupakan akan diberkati. Blessed are those that can give without remembering and receive without forgetting. Author Unknown

Sumber : http://www.katakatabijakmotivasi.com/index2.html

 

 

FILOSOFI LOGO

http://www.ptphapros.co.id/article.php?aid=8&lg=&m=Logo

 

Pada tahun 2004, Phapros menguak cakrawala baru. Bertepatan dengan Ulang Tahun Emas, Phapros meluncurkan identitas baru, yang akan mengantarkan Phapros menuju masa depan cerah di paruh kedua satu abad usianya.

Logo Phapros yang lebih dinamis ini, menegaskan falsafah bisnis yang telah menjadikan Phapros berkembang dari sebuah pabrik farmasi kecil di daerah menjadi salah satu perusahaan nasional terkemuka, dengan:

 

  • Tiga lingkaran mewakili stakeholder utama perusahaan; pelanggan, pemegang saham dan karyawan. Tiga lingkaran ini melambangkan pula betapa Phapros didukung tiga stakeholder tersebut dan keberadaan Phapros adalah untuk meningkatkan nilai ketiganya, guna melaju bersama menyongsong masa depan. Selain itu, ketiga lingkaran yang melayang juga melambangkan benih ide baru, dan bayangan yang ada melambangkan landasan yang kokoh. Kedekatan jarak antar lingkaran melambangkan nilai-nilai kekeluargaan yang menunjukkan karakter kuat yang dimiliki insan Phapros, sejak awal berdirinya sampai jauh ke depan.
  • Warna biru melambangkan inovasi, pertumbuhan, kesungguhan dan kearifan. Gradasi warna merah-kuning melambangkan keberanian dan kedinamisan organisasi Phapros.
  • Penggunaan tipografi yang sederhana melambangkan kejujuran tanpa meninggalkan citra Phapros yang kokoh. Bentuk tulisan miring dan huruf kecil melambangkan organisasi yang modern dan dinamis, yang terus bergerak maju dengan pikiran terbuka, tanpa melupakan harmoni dan keseimbangan. Gabungan antara tipografi dan lingkaran pada huruf “o” melambangkan kesatuan yang erat dalam organisasi.

 

 

 

 

 

 

1980-1989: Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit

Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit: Mau Merubah Dunia

Agus Dermawan T.

Sama sekali jauh dari keliru jika beberapa waktu yang lalu menteri P dan K Daoed Joesoef berkata bahwa, segi perwajahan dunia buku kita masih lemah. Jika boleh diteruskan, sebenarnya kelemahan semacam bukan hanya ada dalam dunia buku, tapi pada setiap produk yang menuntut suatu seni display-grafis. Produksi kaset, iklan, pembuatan folder umpamanya.

Bila pada dunia buku banyak dimaklumkan mengingat di sana yang musti digarap sangat kompleks, – untuk mengejar ‘wajah bagus’ seseorang harus menekuni banyak segi: pembuatan cover, layout, ilustrasi, perhitungan tipografi, halaman dan sebagainya, – maka pada produk lain sebenarnya lebih sederhana dari itu. Tapi tokh masih terasa lemah juga.

Contoh yang paling mudah disimak adalah sampul-sampul kaset, yang umumnya cenderung norak, gampangan dan jauh dari “sophisticated”. Pengandalan bintang penyanyi dengan segala gayanya lewat penyajian yang tanpa eksploitasi tipografi dan fotografi, tak jarang menyeret kesan mentah di hadapan orang banyak. Kelemahan produk satu ini nampaknya bukan dibawa oleh ketidak mampuan perancang-perancang grafis kita, tetapi oleh sistem kerja produksi itu sendiri. Umumnya perusahaan kaset kita tak menggunakan tangan seniman perancang grafis untuk mengolah segi itu.

Banyak iklan dan ratusan folder yang justru memberikan kesempatan pada orang untuk segera melengos dan tak memberikan perhatian khusus, karena ‘wajah’ grafis itu tak punya kekuatan apa-apa. Alhasil, calon konsumen hanya melintas saja. Tidak mampir.

Hal di atas sudah lama menempel dalam dunia bisnis kita. Satu hal yang kayaknya setengah disadari atau bahkan samasekali tak disadari. Karena itulah di Jakarta lantas muncul ide yang bagus, membentuk sebuah wadah untuk para perancang grafis. IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) yang dibentuk beberapa waktu yang lalu di Jakarta, selain bermaksud membenahi segala aspek yang mengganjal dunia perwajahan produk kita, dan menggali potensi perancang grafis yang ada, juga untuk menaikkan harkat dari perancang grafis itu sendiri. Sebab biar bagaimanapun, perancang grafis samasekali bukan figur yang tidak penting dalam ‘kancah dagang’ kita sekarang ini. Memasukkan seni dalam dunia bisnis, sungguhlah sesuatu yang elok.

Jadi mentah
Berkaitan dengan kesadaran itulah lantas Didit Chris Purnomo (30 tahun), Gauri Nasution (30) dan Hanny Kardinata (27), tiga perancang grafis, muncul dalam sebuah pameran. Berlangsung di Erasmus Huis, tanggal 16-24 Juni, pameran tersebut memang merupakan pameran rancangan grafis yang pertama di Indonesia. Tahun lalu, bulan November di Bandung pernah ada pameran design grafis non komersial. Tapi bukan oleh designer-designer kita, sebab mereka datang dari Belanda.

Ketiga pemamer di atas menyadari bahwa, banyak produk-produk yang sebetulnya cukup potensial dilempar ke pasaran, akhirnya jadi mentah atau ‘setengah matang’ lantaran kesalahan dan kegagalan yang tak disadari pembuat atau produsennya. Selanjutnya mereka menunjuk bahwa, “Kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan pada pembungkusan (packaging) dan rancangan produk (product design), pemilihan lambang dan logotype yang tak sesuai dengan karakteristik dan target market produk yang bersangkutan. Juga pemilihan warna yang tak tepat, periklanan dan promosi penjualan yang semrawut, dan sebagainya.” Tidaklah meleset. Dan “contoh perbaikan dari kesalahan” itulah yang mereka pamerkan kali ini. Dan lumayan, jika tak boleh dikatakan cukup bagus.

 

Ki-ka: Didit Chris Purnomo, Hanny Kardinata dan Gauri Nasution

Bau tembakau

Hanny Kardinata nampak kuat dengan ilustrasi yang menggunakan tehnik dry brush. Sebuah tehnik yang nampaknya jarang dilakukan orang. Pengerjaannya halus dan design bentuknya perfek. Hanny, lelaki tulen dari Surabaya, banyak menyandarkan rancangan grafisnya pada kekuatan itu.

Beberapa karyanya yang dipamerkan, diantaranya design orisinal poster pagelaran “Guruh Sukarnoputra” dan sampul buku “Guidebook to Restaurants in Jakarta”, menampilkan kesadaran bagaimana ia menyandingkan design gambarnya dengan bentuk-bentuk huruf, untuk mencapai totalitas karya secara baik. Meski tokh harus disadari bahwa pusat dari kekuatan rancang grafis Hanny tetap pada form atau gaya ilustrasi yang dibentuk.

Hampir semua ilustrasi Hanny disikat dengan teknik begitu. Misalnya ilustrasi yang diperuntukkan buat kepala rubrik “Fokus”, “Start”, “Komunikasi” dan “Finish” yang selama ini dipakai untuk majalah VISI. Barangkali memang tidak terlampau orisinal karena type semacam juga dikerjakan oleh designer-designer majalah hiburan lelaki semacam Playboy atau Penthouse atau OUI. Tapi itu tak menjadi soal. Sebab pada design produk yang penting adalah sasarannya, dayatariknya terhadap orang banyak dan sugesti pada penikmatnya. Dan yang tak boleh dilupakan dalam jejeran karya Hanny adalah sebuah design iklan “Djarum Kudus”. Warna relief candi (dan di sisi lain terpahat gambar cap rokok Djarum) benar-benar merupakan bau tembakau. Sebuah iklan yang sukses d/itinjau dari aspek perwajahan.

Hanny Kardinata, Corporate Ad “Djarum”, 1978

Seperti juga Hanny, Didit Chris Purnomo adalah bekas mahasiswa STSRI “Asri”. Beberapa logotype dan rancangan sampul majalah serta buku dipajang. Bahkan tergelar juga perjalanan proses penautan separasi warna sebuah sampul majalah. Kesungguhannya memang nampak, meski yang dihasilkan tidaklah istimewa benar. Designer ini lahir di Solo.

Gauri Nasution (kakak Keenan Nasution) juga banyak memamerkan rancangan sampul majalah. Majalah SO (Sport Otak), Maskulin dan VISI. Menarik, tentu saja. Tetapi penggelaran proses pembuatan tipografi kaset Chrisye, sampai pada bentuk akhir sampul kaset itu, “Percik Pesona”, lebih merangsang. Terasa sangat teliti, perfek dan penyajiannya pun informatif. Gauri adalah pencipta logotype majalah VISI dan Maskulin (almarhum) serta pembuat beberapa sampul kaset pop. Khusus untuk yang terakhir ini, perlu dicatat: Gauri termasuk satu di antara sangat sedikit pencipta sampul kaset yang baik sementara ini.

Ia lahir di Jakarta dan pernah belajar di Art Instruction School, Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat pada bagian commercial art.

Nietzche
Beri aku sehelai kertas, pena dan tinta, dan aku akan merubah dunia, kata Nietzche. Kalimat itu memang dicanangkan untuk menggaet kepercayaan orang akan kepujanggaan Nietzche waktu itu. Tapi kali ini kalimat bertuah tersebut dipakai oleh 3 perancang grafis di atas. Tidak melenceng, sebab grafis juga hanya membutuhkan sehelai kertas, pena dan tinta pada awalnya. Meski pada tahap berikutnya ia tokh tergantung pada mekanisme kerja mesin yang kadang di luar jangkauan perkiraan designer. Merubah dunia? Ya. Dunia perwajahan, yang sampai ujung waktu ini kurang terperhatikan.

Sumber: Harian “Kompas”, Rabu, 25 Juni 1980, halaman VI.

http://hgdi.wordpress.com/2009/05/06/1980-1989-pameran-rancangan-grafis-hanny-gauri-didit/

 

 

Sebuah website tutorial desain grafis belum lengkap kiranya jika belum membahas tipografi atau typography. Pada tutorial desain ini akan saya bahas tentang sejarah tipografi, tipe anatomi tipografi, klasifikasi tipe, tipe famili, tipe measurements atau pengukuran dan penerapannya dalam pengerjaan karya desain grafis. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

DEFINISI
Tipografi adalah suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan. Seni merupakan induk dari desain grafis.

SEJARAH TIPOGRAFI
Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi Roman, Egyptian, Serif, Sans Serif, Script, Miscellaneous. Untuk artikel lengkap masalah golongan huruf silakan baca disini.

ANATOMI TIPOGRAFI
Jarang sekali saya menemui tutorial desain grafis membahas tentang anatomi tipografi atau anatomi font. Ada beberapa hal yang wajib diketahui dalam dunia typografi. Salah satunya adalah anatomy tipografi atau anatomi huruf.

– arm
– stem
– counter
– stroke
– shoulder
– apex
– galliard
– serif
– bracket
– crossbar
– tail
– spine
– bowl
– ear
– loop
– link
– eye
– leg
– ascender
– cap height
– capline
– meanline
– x height
– baseline
– descender

Istilah dari typeface dan model huruf sering synonmously, bagaimanapun, suatu typeface adalah perancangan karakter-karakter yang bersatu, dipersatukan oleh properti konsistanvisual, selagi suatu model huruf adalah suatu himpunan lengkap dari karakter di dalam setiap desain, ukuran, bentuk, atau gaya, dari tipe. ( akan dijelaskan pada artikel lain ).

KLASIFIKASI TIPE

– Old Syle atau egyptian
– Transisional atau roman
– Modern
– Slab serif
– Sans serif
– Display atau misc atau dingbat atau semacamnya
– Script
– Monospace
– Black Letter

Pada klassifikasi banyak pendapat yang berbeda untuk menentukan golongan ini. Karena punya pendapat dan tori tersendiri sehingga saya harus memberikan tulisan atau sebagai pembandingnya.

TIPE FAMILI

– Light Condensed
– Light
– Light Extended
– Regular Condensed
– Regular
– Regular Extended
– Semibold Condensed
– Semibold
– Semibold Extended
– Bold condensed
– Bold
– Bold Extended
– Black Condensed
– Black
– Black Extended

Tipe famili adalah group tipeface yang terikat menjadi satu oleh persamaan karakter visual. Pada tipe famili ini saya menulisnya dari paling kecil ukurannnya hingga paling besar. Tipe famili terdiri dari perbedaan berat dan lebar. Contoh seperti nama ITC Lubalin akan mempunyai 15 tipe famili dengan menambahkan tulisan ITC Lubalin sebelum nama tipe famili..

TIPE PENGUKURAN

– Leading
– Kerning
– Tracking
– Baseline Shift
– Left aligned
– Center aligned
– Right aligned
– Justified aligned

Ada dua tipe pengukuran, relatif dan spacing measurements. Yang saya tampilkan pada tutorial desain grafis untuk tipografi ini adalah tipe spacing measurements.

PENERAPAN TYPOGRAFI
Tipografi dapat diterapkan pada berbagai macam karya desain. Hasil karya desain menjadi menarik, komunikatif, harmonis, dan attraktif ketika menggunakan tipografi yang tepat. Contoh pada koran dan majalah seringkali menggunakan font yang ramping dan jelas seperti Times New Roman, Helvetica dan sejenisnya. Untuk huruf header dan judul artikel biasanya menggunakan Impact, Arial Black, dan Bold Times New Roman yang tegas. Itu semua berkaitan dengan legibility atau kejelasan keterbacaan.

 

Huruf untuk karya desain grafis pada undangan pernikahan kita seringkali menggunakan font dengan karakter tegak bersambung yang mempunyai garis-garis melintang yang mengesankan royal atau agung. Ini tidak lepas dari peran tipografi. Huruf ada yang mengesankan kekanak-kanakan seperti comic sans dapat dibentuk sedemikian rupa karena adanya penekanan-penekanan yang biasa dilakukan pada tulisan anak-anak.

 

Sumber : http://www.ahlidesain.com/tipografi.html

 

WARNA

http://id.wikipedia.org/wiki/Warna

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer.

Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer.

Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta.

Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.

Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain kafan (meskipun secara teoritis sebenarnya putih bukanlah warna).

Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.

PENGELOMPOKAN

  1. Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.
  2. Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning dengan ungu dan biru dengan jingga.
  3. Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol, riang, semangat, marah dsb. Warna panas mengesankan jarak yang dekat.
  4. Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman dsb. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh.

Istilah lain

  • Nilai warna, ditentukan oleh tingkat kecerahan maupun kesuraman warna. Nilai ini dipengaruhi oleh penambahan putih ataupun hitam. Di dalam sistem RGB, nilai ini ditentukan oleh penambahan komponen merah, biru, dan hijau dalam komposisi yang tepat sama walaupun tidak harus penuh seratus persen.

Nilai warna, ditentukan oleh tingkat kecerahan maupun kesuraman warna. Nilai ini dipengaruhi oleh penambahan putih ataupun hitam. Di dalam sistem RGB, nilai ini ditentukan oleh penambahan komponen merah, biru, dan hijau dalam komposisi yang tepat sama walaupun tidak harus penuh seratus persen.

WARNA DASAR

Fractal Broccoli

Amarillo

Aureolin

Cadmium yellow

Cadmium yellow light

Hanza yello

Hanza yellow light

Naples yellow

Nickeltintate

Yellow ironoxide

Yellow ochre

Sulphur crystal

Sulpherous Fumeroles

[sunting] Warna kombinasi

Solid gray

Sunset at French Riviera

Aster

Violettöne eines Fußbettes.

1940 Ford automobile.

  • Crimson

Crimson sunset

  • Maroon
  • Magenta

(de)

Warna harmonis

▓▓▓▓▓ ▓ ▓ ▓ ▓ █ ▓ ▒ ░

Galeri

Brown, orange, yellow and red

Blue, brown, red, green, blue and shades

Red, white, black, green and shades

Black and red

 

 

Green and red

Silver, yellow, brown, silver, black, ochre, orange, dark red, crimson, grey and blue

orange, white, green, blue, red

Orange, brown, red, green, yellow and shades

Buntstifte.|…

Farbige streifen.

 

Pigmen adalah zat yang terdapat di permukaan suatu benda sehingga bila disinari dengan cahaya putih sempurna akan memberikan sensasi warna tertentu yang mampu ditangkap mata. Proses secara fisik sangatlah berbeda dengan fluorescent, phosphorescence dan bentuk lain dari luminescence, yang mana materi tersebut dapat mengeluarkan cahaya dengan sendirinya.

Di dalam dunia percetakan, pigmen dibagi dalam tiga pigmen dasar yang mampu meniru pigmen-pigmen lain jika dicampurkan dengan proporsi tepat, yaitu pigmen cyan, magenta, dan kuning. Sebagai tambahan, untuk mendapatkan kedalaman warna ditambahkan pigmen hitam. Misalnya untuk mendapatkan sensasi warna merah, dicampurkan pigmen magenta dan kuning dengan proporsi 1:1.

Berkebalikan dengan teori warna cahaya, di dalam teori pigmen sensasi putih dianggap sebagai absennya seluruh pigmen.

Pigmen dipakai sebagai bahan pewarna cat, tinta, plastik, tekstil, kosmetik, makanan dan lain-lain. Kebanyakan pigmen yang digunakan dalam industri dan dalam seni rupa adalah zat warna kering, yang biasanya berupa serbuk halus. Serbuk ini ditambahkan pada bahan netral atau tak berwarna yang berfungsi sebagai pengikat (binder).

Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.

Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Hubungan antar warna

Kontras komplementer

Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

Kontras split komplemen

Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan.

Kontras triad komplementer

Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

Kontras tetrad komplementer

Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

 

Pembagian warna

Warna primer

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

Warna sekunder

Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning , hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

Warna tersier

Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

Warna netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Warna panas dan dingin

Lingkaran warna primer hingga tersier bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah. Sementara warna dingin dimulai dari ungu kemerahan hingga hijau.

Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya. Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warna-warna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang.

 

Ilmu Grafis Tutorial Desain Color Theori Atau Teori Warna ini membahas Teori Brewster yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori Warna – Teori Waarna ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Pembagian Warna

Warna primer
Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning. Warna primer menurut teori warna pigmen dari Brewster adalah warna-warna dasar. Warna-warna lain dibentuk dari kombinasi warna-warna primer. Pada awalnya, manusia mengira bahwa warna primer tersusun atas warna Merah, Kuning, dan Hijau. Namun dalam penelitian lebih lanjut, dikatakan tiga warna primer adalah:

1. Merah (seperti darah)
2. Biru (seperti langit atau laut)
3. Kuning (seperti kuning telur)

 

Ini kemudian dikenal sebagai warna pigmen primer yang dipakai dalam dunia seni rupa. Campuran dua warna primer menghasilkan warna sekunder. Campuran warna sekunder dengan warna primer menghasilkan warna tertier. Akan tetapi secara teknis, merah – kuning – biru, sebenarnya bukan warna pigmen primer. Tiga warna pigmen primer adalah magenta, kuning dan cyan. (Oleh karena itu apabila menyebut \”merah, kuning, biru\” sebagai warna pigmen primer, maka \”merah\” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan \”magenta\” sedangkan \”biru\” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan \”cyan\”). Biru dan hijau adalah warna sekunder dalam pigmen, tetapi merupakan warna primer dalam cahaya, bersama dengan merah.

Landasan biologis
Pada dasarnya warna primer adalah bukan milik cahaya, tapi lebih merupakan konsep biologis, yang didasarkan pada respon fisiologis mata manusia terhadap cahaya. Secara fundamental, cahaya adalah spektrum berkesinambungan dari panjang gelombang, yang berarti bahwa terdapat jumlah warna yang tak terhingga. Akan tetapi, mata manusia normalnya hanya memiliki tiga jenis alat penerima/reseptor yang disebut dengan sel kerucut (yang berada di retina). Ini yang merespon panjang gelombang cahaya tertentu. Manusia serta spesies lain yang memiliki tiga macam reseptor warna disebut makhluk trichromat.

Spesies yang dikenal sebagai tetrachromat, dengan empat reseptor warna menggunakan empat warna primer. Manusia hanya dapat melihat sampai dengan 400 nanometer, warna violet, sedangkan makhluk tetrachromat dapat melihat warna ultraviolet sampai dengan 300 nanometer, warna primer keempat ini kemungkinan bertempat di panjang gelombang yang lebih rendah dan kemungkinan adalah warna magenta spektral murni lebih dari sekedar magenta yang kita lihat sebagai campuran dari merah dan biru.

Banyak dari jenis burung dan binatang marsupial merupakan makhluk tetrachromat.

Warna primer additif
Alat/media yang menggabungkan pancaran cahaya untuk menciptakan sensasi warna menggunakan sistem warna additif. Televisi adalah yang paling umum. Warna primer additif adalah merah, hijau dan biru. Campuran warna cahaya merah dan hijau, menghasilkan nuansa warna kuning atau orange. Campuran hijau dan biru menghasilkan nuansa cyan, sedangkan campuran merah dan biru menhasilkan nuansa ungu dan magenta. Campuran dengan proporsi seimbang dari warna additif primer menghasilkan nuansa warna kelabu; jika ketiga warna ini disaturasikan penuh, maka hasilnya adalah warna putih. Ruang warna/model warna yang dihasilkan disebut dengan RGB (red, green, blue). RGB didapatkan dari mengurai cahaya.

Warna primer subtraktif
Media yang menggunakan pantulan cahaya untuk untuk menghasilkan warna memakai metode campuran warna subtraktif.

Tradisional
Merah, Kuning, Biru / RYB (red, yellow, blue) merupakan rangkaian sejarah dari warna primer subtraktif. Khususnya digunakan dalam seni rupa (seni lukis). Ruang warna RYB membentuk triad warna primer dalam sebuah lingkaran warna standar; juga warna sekunder: violet, orange/jingga dan hijau. Triad warna tersusun dari 3 warna yang ekuidistan (berjarak sama) dalam sebuah lingkaran warna.

Pemakaian warna merah, biru, kuning sebagai warna primer menghasilkan gamut (rentang warna) yang relatif sempit/kecil, di mana, beberapa warna tidak bisa dicapai dengan campuran tersebut. Karena alasan itu, percetakan warna modern menggunakan campuran warna magenta, kuning, cyan.

CMYK
Dalam industri percetakan, untuk menghasilkan warna bervariasi, diterapkan pemakaian warna primer subtraktif: magenta, kuning dan cyan dalam ukuran yang bermacam-macam. CMYK didapatkan dari mengurai tinta.

Campuran warna subtraktif
Campuran kuning dan cyan menghasilkan nuansa warna hijau; campuran kuning dengan magenta menghasilkan nuansa warna merah, sedangkan campuran magenta dengan cyan menghasilkan nuansa biru. Dalam teori, campuran tiga pigmen ini dalam ukuran yang seimbang akan menghasilkan nuansa warna kelabu, dan akan menjadi hitam jika ketiganya disaturasikan secara penuh, tetapi dalam praktek hasilnya cenderung menjadi warna kotor kecoklatan.

Oleh karena itu, seringkali dipakai warna keempat, yaitu hitam, sebagai tambahan dari cyan, magenta dan kuning. Ruang warna yang dihasilkan lantas disebut dengan CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black). Hitam disebut dengan \”K\” (key) dari istilah \”key plate\” dalam percetakan (plat cetak yang menciptakan detail artistik pada gambar, biasanya menggunakan warna tinta hitam).

Warna sekunder
Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

 

Warna tersier
Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

 

Warna netral
Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Warna panas dan dingin
Lingkaran warna primer hingga tersier bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah. Sementara warna dingin dimulai dari ungu
kemerahan hingga hijau.

Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya. Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warnawarna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang.

Hubungan antar warna

Kontras komplementer
Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

 

Kontras split komplemen
Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan. Kontras triad komplementer Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

 

Kontras tetrad komplementer
Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

Sumber : http://www.ahlidesain.com/teori-warna.html

 

 

Ilmu Grafis Desain Komvis Kontribusi Warna Bagi Kehidupan dan Karya Desain Komunikasi Visual mengupas penggunaan Warna sebagai intisari objek dalam berinteraksidengan dunia. Warna juga digunakan sebagi simbolisme karena mempunyai kiasan dan nilai filosofis. Memahami warna akan menguatkan makna dalam penggunaan karya desain.

Warna merupakan salah satu unsur yang tidak bisa berdiri sendiri. Penampilan suatu warna selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh warna lain yang ada di sekitarnya. Warna juga merupakan tampilan fisik pertama yang sampai ke mata kita yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik itu benda mati atau benda hidup. Warna bisa kita lihat karena ada interaksi atau karena ada saling mempengaruhi antar warna itu sendiri. Warna biru dengan kadar pencahayaan yang sama akan terlihat berbeda penampilannya bila diletakkan di atas latar yang berbeda atau didekatkan dengan warna yang berbeda pula.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Akibat dari pencampuran warna-warna tersebut akan menimbulkan reaksi ke arah gelap dan ke arah terang di mata kita. Warna-warna yang dicampurkan dengan warna biru akan menghasilkan warna yang gelap. Sedangkan warna-warna yang dicampurkan dengan warna kuning dan merah akan menghasilkan warna yang lebih terang. Seperti warna kuning yang mempunyai warna dasar kuning lemon dan kuning kadmium. Keduanya mengesankan kesan yang berbeda. Kuning lemon terkesan lembut. Sedangkan kuning kadmium terkesan keras. Begitu juga dengan warna biru. Terdapat beberapa jenis warna biru seperti biru cobalt, biru ultra, biru marine, biru prusia, biru cyan, dan lain-lain.

Bila biru dicampurkan dengan warna hijau dengan perbandingan tertentu akan memberi kesan sejuk. Kesan lebih dingin lagi didapat bila biru dicampurkan dengan sedikit warna ungu seperti pada biru prusia. Warna hijau yang terdapat campuran warna kuning akan mengesankan lebih hangat daripada biru. Ungu bila dicampurkan dengan warna merah akan terkesan hangat. Kesan panas dan menyala didapat dari pencampuran warna merah dan kuning. Bila merah dicampur dengan biru atau ungu akan menjadi dingin. Bila kuning dicampur dengan hijau atau biru akan terkesan dingin. Bila warna-warna dicampurkan dengan putih akan memperoleh warna pastel yang memberi kesan nyaman, ringan, lembut dan sejuk. Bila dicampur dengan abu-abu maka timbul kesan tertekan dan terselubung.

Warna gelap dan warna terang akan menimbulkan kesan yang berbeda. Warna gelap yang sampai ke mata kita akan dianalisa oleh otak kita dan menghasilkan kesan dingin yang kita rasakan. Begitu sebaliknya dengan warna terang akan terasa hangat dan panas. Seperti yang kita pelajari dalam pelajaran Fisika dimana panjang gelombang warna merah lebih panjang dari pada gelombang warna ungu. Itu berarti warna merah yang terang dan terasa panas akan lebih cepat ditangkap mata kita dibandingkan dengan warna ungu yang terkesan gelap dan terasa dingin. Yang dikategorikan sebagai warna-warna panas yaitu kuning kehijauan, kuning, kuning kejinggaan, jingga, jingga kemerahan dan merah. Yang dikategorikan sebagai warna-warna dingin yaitu hijau, hijau kebiruan, biru, biru keunguan dan ungu.

WARNA DAN BAHAN

Dalam menata ruang, warna dan bahan saling mempengaruhi. Walau masing-masing jenis bahan sudah mempunyai karakter sendiri namun masih juga memerlukan sentuhan akhir. Sentuhan akhir itu adalah pewarnaan. Ibaratnya warna memberi pakaian pada bahan agar terlihat mencolok dan bentuknya terlihat lebih jelas. Kadang warna juga mengaburkan karakter bahan tersebut.

Pemakaian bahan kayu bila diberi warna akan menyamarkan serat-serat kayu yang sudah arstistik. Pemakaian warna juga bisa mengawetkan bahan. Seperti pemakaian warna pada bahan besi yang bisa menghindarkan besi dari karat. Efek warna sangat menentukan penampilan suatu ruang dan perabot yang menghiasinya. Penggunaan warna yang tepat akan menonjolkan bentuknya dan menutupi kekurangan-kekurangannya.

WARNA SEBAGAI SIMBOLIK

Ada warna-warna tertentu yang bisa mewakili perasaan kita. Seperti bila kita sedang berduka atau menengok orang berduka, tidak etis rasanya bila kita memakai pakaian yang bercorak atau berwarna cerah. Karena warna cerah adalah wakil dari perasaan yang cerah atau gembira. Untuk mewakilinya kita menggunakan pakaian warna hitam, karena hitam dikiaskan sebagai kematian atau keburukan. Kematian juga tidak selalu dilambangkan dengan warna hitam. Kematian adalah jalan roh menuju ke tempat yang lebih tinggi derajatnya yaitu keabadian.

Maka kematian juga dilambangkan dengan warna putih. Karena putih adalah lambang keabadian, kedamaian, kebahagiaan dan kesucian. Menurut kepercayaan orang-orang Batak, warna hitam dan putih adalah warna yang derajatnya paling tinggi. Dari kedua warna itulah kehidupan dimulai. Kemudian berproses. Ulos ragidup memiliki tingkatan tertinggi dalam kedudukan adat. Warna putih di bagian tengah dan di kiri kanannya terdapat warna hitam. Putih berarti suci, damai, bersih dan hitam berarti kekuatan dan keteguhan.

Kebalikan dari kedukaan adalah kebahagiaan. Orang selalu diselimuti rasa bahagia adalah bila hari-harinya dipenuhi dengan perasaan cinta. Cinta kepada sesama dan yang ada di lingkungan sekitarnya. Rasa cinta dilambangkan dengan warna merah muda. Yang sering kita lihat pada waktu perayaan hari Valentine semua serba merah muda. Mulai dari etalase toko-toko, penjual kembang, dan penjual pernak-pernik Valentine terutama yang diperlukan anak-anak muda untuk menyatakan rasa cintanya pada seseorang.

Warna merah dan putih sudah ada dan dipakai sebagai simbol sejak zaman Majapahit. Kala itu dipakai sebagai warna umbul-umbul. Dan sekarang dipakai sebagai warna bendera bangsa Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Merah juga sering dijadikan simbol dari warna darah. Dan putih simbol dari warna tulang. Tulang merupakan penyangga tubuh dan darah adalah suatu yang membuat kita hidup. Karena dalam darah mengandung zat-zat makanan bagi tubuh. Maka merah dan putih diartikan sebagai lambang perjuangan yang kuat dan kokoh hingga titik darah penghabisan.

Merah juga dijadikan simbol kekesatriaan. Maka hunian kaum kesatria di Bali yang disebut puri terdapat entrance yang berupa kori yang terbuat dari tumpukan bata-bata yang berwarna merah kejinggaan. Biasanya disebut Kori Barak. Pada balai-balai adat di Bali terdapat warna kuning keemasan (prada) yang melambangkan keagungan. Pada hari raya – hari raya Hindu di Bali pelinggih-pelinggih banyak yang dikenakan wastra warna putih kuning. Ini melambangkan kesucian dan keluhuran pelinggih tersebut. Pada tugu-tugu seperti penunggu karang dikenakan wastra putih hitam (poleng). Ini berarti yang melinggih di tugu tersebut adalah suci dan kuat. Bukankah bertugas menjaga karang beserta isinya tentu harus kuat.

WARNA SEBAGAI PETUNJUK PRAKTIS

Warna juga erat kaitannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Seperti memberi petunjuk ke suatu jurusan, memberi instruksi dan memberi peringatan. Lampu lalu lintas yang memberi isyarat berhenti diinstruksikan dengan warna merah. Hati-hati dengan warna kuning dan jalan dengan warna hijau. Tanda silang merah berarti palang merah. Kendaraan truk pengangkut bahan bakar minyak selalu berwarna merah menyala. Ambulans kendaraan pengangkut orang sakit selalu berwarna putih. Warna kotak surat yang dulu sering kita temui di jalan selalu berwarna jingga. Telepon umum selalu berwarna biru.

Dari beberapa warna yang telah diterapkan tersebut dapatlah ditinjau aspek-aspek warna dengan sifat penampakannya. Warna merah, jingga dan kuning bersifat panas berpenampilan lebih menonjol dan merangsang. Makna dari peringatan warna tersebut adalah bahaya dan hati-hati. Sedangkan warna hijau, biru dan ungu bersifat dingin berpenampilan pasif yaitu teduh dan diam. Makna dari peringatan yang dimaksud adalah keadaan yang aman.

WARNA, BENTUK DAN KECEPATAN

Warna juga erat kaitannya dengan bentuk dan kecepatan. Hubungan ini telah diteliti oleh The International Safety Colour Codes yaitu suatu lembaga untuk keselamatan kerja dan lalu lintas di New York, A.S. Dalam kecepatan tinggi warna merah dan kuning akan terlihat samar.

Warna hijau dan biru terlihat jelas. Makanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya yang biasa kendaraan memacu kecepatan tinggi dibuat segi empat ditulis dengan huruf putih di atas dasar hijau atau biru. Bentuk segi empat adalah bentuk yang tampil dengan wujud yang utuh, diam dan stabil. Sedangkan segi tiga berwujud tajam-tajam, tampil dengan sifat yang terarah. Bentuk lingkaran memberi kesan berputar dan bergerak.

WARNA DAN ALAM

Warna juga dapat dipelajari dari alam yang kita temui setiap hari. Seperti halnya pada pergantian musim di Indonesia. Pada musim kemarau, alam dikuasai oleh warna-warna kecoklatan dan keabu-abuan. Tanah yang tandus, pepohonan yang yang hanya tinggal batangnya saja dan rerumputan yang kering. Walau begitu Tuhan masih memberi warna cerah pada alam. Karena justru di musim panaslah ada beberapa tanaman yang sedang berbunga. Seperti bougenville dan kamboja. Pada musim hujan seolah-olah kehidupan baru dimulai. Tanah selalu basah, pepohonan mulai mengernyitkan kuncup daunnya dan rerumputan mulai hijau.

Lain lagi dengan negara yang mempunyai empat musim. Di musim dingin alam lebih didominasi oleh warna biru, hijau-biru, warna salju yang putih bersih, abu-abu dan hitam kegelapan. Musim semi alam diwarnai oleh daun-daun muda yang hijau kekuning-kuningan dan warna tunas-tunas dan kuncup yang kuning lembut. Alam di sebelah atas didominasi oleh warna biru muda.

Pada musim panas matahari bersinar penuh, ladang-ladang berwarna kuning tua dan tanah berwarna coklat. Di akhir musim panas, buah-buahan mulai masak sehingga pepohonan dihiasi butiran-butiran berwarna merah. Warna alam mulai redup saat musim gugur. Seisi alam diselimuti kabut berwarna abu-abu. Warna kuning berubah menjadi coklat, merah menjadi merah bata kemudian menjadi lembayung.

WARNA DAN KEJIWAAN

Dari sudut pandang ilmu kejiwaan, warna dikaitkan dengan karakter-karakter manusia. Orang yang berkarakter extrovert lebih senang dengan warna-warna panas dan cerah. Karena tipe orang seperti ini biasanya terbuka, lebih memandang ke luar daripada ke dalam dirinya sendiri, tidak sulit menerima masalah-masalah baru karena cara berpikirnya lebih mengarah pada segi-segi yang umum daripada yang khusus. Sedangkan orang yang berkarakter introvert lebih senang pada warna-warna dingin dan gelap. Orang bertipe ini biasanya tertutup, lebih memandang ke dalam dirinya sendiri, sulit menerima masalah-masalah baru, lebih suka menyelesaikan pada hal-hal yang khusus daripada yang umum.

Warna juga bisa menimbulkan efek rasa bagi yang melihatnya. Warna-warna matahari seperti kuning, merah, jingga dan yang satu nada dengannya bisa menimbulkan rasa hangat. Sebaliknya rasa dingin bisa ditimbulkan oleh warna-warna dingin seperti biru, biru kehijau-hijauan, putih dan hitam.

Warna-warna muda seperti kuning muda, hijau muda, merah jambu, biru cerah dan coklat cerah memberi kesan ceria yang berjiwa muda. Warna-warna gelap seperti coklat, lembayung, abu-abu dan hijau memberi rasa tenang sehingga menimbulkan keinginan untuk menyepi.

Seperti yang telah kita amati dari alam bahwa warna bisa membuat kesan mendekat dan menjauh. Kesan ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kesan pada ruang agar lebih luas atau lebih sempit, menonjolkan atau mendesakkan dinding, langit-langit atau perabot. Dinding kamar yang berwarna biru muda yang mengarah ke abu-abu memberi kesan menjauh sehingga kamar menjadi lebih terlihat luas. Sebaliknya warna gelap seperti jingga juga bisa memberi kesan menyempitkan.

WARNA UNTUK TEMPAT TINGGAL

Untuk memperoleh warna yang harmonis harus diperhatikan perbandingan warna yang akan dipakai, yaitu dengan memasangkan warna yang hangat dengan warna dingin, warna ringan dengan warna berat sehingga terjadi warna kontras. Antara cerah dan gelap, bersih dan buram, diimbangi dengan sebuah unsur pengikat.

Sebagai contoh dalam suatu ruang terdapat sofa yang berwarna kuning-jingga dan kap lampu berwarna biru-ungu, warna dinding dan lantai berwarna putih sebagai warna penerang. Maka kesemua warna tersebut akan memperoleh tingkat terangnya msing-masing oleh warna putih.

Dalam memberikan warna pada ruang semuanya harus mendapat warna yang sesuai dengan fungsinya. Dimana dinding dan perabot sebagai pendukung warna. Dinding yang merupakan latar belakang dan juga sebagai pembatas ruang hendaknya berwarna lembut agar terkesan menjauh dan tidak mendesakkan. Warna lantai juga harus dapat mendukung perabot yang nantinya akan ditata dalam suatu ruang. Perabot yang berukuran kecil bisa dijadikan tempat titik warna yang kuat. Warna perabot dari kayu lebih mudah disesuaikan karena hampir semua jenis kayu mengandung warna abu-abu netral.

Untuk ruang tidur diperlukan warna tenang dan lembut karena sesuai dengan fungsinya sebagai ruang beristirahat dengan tingkat privacy yang tinggi. Dalam ruang tidur anak lebih diutamakan warna-warna utama yang cerah karena sesuai dengan kondisi perkembangan anak yang sedang bertumbuh dan energik.

Sedangkan dapur yang berfungsi sebagai ruang kerja yang praktis dan bersih. Kebersihan suatu rumah tangga bisa dilihat dari kerapian dan kebersihan dapurnya. Ini bisa diterapkan dengan menempatkan almari dan meja berwarna putih dengan dinding berwarna kuning hangat. Warna lantai yang coklat muda bisa menimbulkan kesan sejuk. Sedangkan kesan menggairahkan bisa didapat dari alat-alat dapur yang berwarna merah dan jingga.

Untuk ruang keluarga hendaknya memancarkan kehangatan yang nyaman. Sofa berwarna coklat tua dipadu dengan warna merah bata pada tirai, serta warna coklat lembut pada lantai. Sebagai warna kontrasnya bisa ditempatkan tanaman dalam ruang yang berwarna hijau.

WARNA PADA BANGUNAN

Warna pada bangunan sangat membantu penampilan suatu bangunan. Warna adalah alat bantu untuk menciptakan keindahan dan kenyamanan dan juga bisa sebagai alat pacu penampilan suatu bangunan. Dari warnalah akan berbicara fungsi dari bangunan tersebut dan kesan yang ingin ditampilkan. Bangunan rumah sakit identik berwarna putih bersih. Putih adalah lambang kebersihan dan kehigienisan.

Pada perkembangannya sekarang bangunan rumah sakit tidak selalu berwarna putih. Terutama rumah sakit milik swasta banyak yang memakai warna-warna pastel yang lembut. Warna ini dipakai untuk menampilkan kesan lembut dan nyaman bagi pasien yang dirawat disana. Pelayanan perawat yang ramah, fasilitas yang memadai dan tentu kebersihan yang higienis.

Pada kantor pos selalu terdapat warna jingga. Ini menyatakan kehangatan para pegawai pos melayani masyarakat dalam hal surat-menyurat. Sekolah taman kanak-kanak lebih didominasi dengan warna-warna cerah. Ini untuk menimbulkan keceriaan dan menarik minat anak-anak dalam belajar. Ada juga beberapa bangunan rumah tinggal yang berwarna mencolok dari lingkungannya. Ini untuk memberi identitas tertentu dan memudahkan orang yang mencarinya.

Masalah warna adalah masalah selera dan bersifat relatif. Begitulah warna yang selalu memberi warna bagi kehidupan manusia. Ada warna gelap, terang, cerah, buram, panas dan dingin. Semua bisa memberi rona bila dipadukan secara harmonis. Andaikan di dunia ini hanya ada satu warna, betapa membosankan hidup ini.

Kesimpulan

Warna tidak bisa dipisahkan dengan dunia desain bahkan dari kehidupan kita sehri-hari. Warna dapat membentuk ekspresi jiwa dan keragaman bahasa komunikasi. Dengan adanya prinsip dan filosofi warna, kita bisa mengimplementasikan karya desain dalam berkomunikasi secara visual.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Daftar Pustaka

  1. Hadi, Umar. 1998. ‘’Memahami Desain Grafis’’. Katalog Pameran Desain Grafis, LPK Visi Yogyakarta.
  2. Jewler, A. Jerome., dan Drewniany Bonnie, L. 2001. Creative Strategy in Advertising. USA: Wadsworth Thomson Learning, 10 Davis Drive Belmont.
  3. Pirous, AD. 1989. ‘’Desain Grafis pada Kemasan’’. Makalah Simposium Desain Grafis, FSRD ISI Yogyakarta.
  4. Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2006. Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan. Yogyakarta: Dimensi Press.
  5. Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  6. Sutanto, T. 2005. ‘’Sekitar Dunia Desain Grafis/Komunikasi Visual’’. Pura-pura Jurnal DKV ITB Bandung. 2/Juli. 15-16.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/kontribusi-warna-bagi-kehidupan-dan-karya-desain-komunikasi-visual.html

 

Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan suasana pembelian, pemerkuat image produk, serta peningkatan citra bisnis anda. Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna yang kita kenakan sehari-hari memengaruhi pandangan orang lain terhadap kita.

Coba perhatikan misal hampir semua bisnis makanan seperti KFC, MC Donald, Pizza hut, boleh dikata semuanya menggunakan warna merah. Mengapa demikian? Konon, warna merah itu menambah nafsu makan. Sehingga para pebisnis banyak menggunakan warna merah dalam bisnis makanan. Saya pun yakin, setiap orang punya warna kesukaan masing-masing. Itu menunjukkan bahwa ada hubungan antara warna dengan manusia. Seperti halnya mungkin ketika kita memilih warna busana seperti disampaikan Mbak Sari. Kekuatan warna bisa mempengaruhi sisi emosional kita.

Kuning
Respon Psikologi: Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran, Pengecut (untuk budaya Barat), pengkhianatan, pencerahan dan intelektualitas. Kuning adalah warna keramat dalam agama Hindu. Kuning adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.

Oranye
Respon Psikologi: Energy, Keseimbangan, Kehangantan. Menekankan sebuah produk yang tidak mahal.

Merah
Respon Psikologi: Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresi, bahaya, berpendirian, dinamis, dan percaya diri
Warna Merah kadang berubah arti jika dikombinasikan dengan warna lain. Merah dikombinakan dengan Hijau, maka akan menjadi simbol Natal. Merah jika dikombinasikan denga Putih, akan mempunyai arti ‘bahagia’ di budaya Oriental. Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu seperti saya katakan tadi, bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan pembeli, lihat saja warna pizza hut, McD, KFC yang juga ada merahnya.
Atau kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah.

Biru
Respon Psikologi: Kepercayaan, Konservatif, Keamanan, Tehnologi, Kebersihan, Keteraturan, Damai, menyejukkan, spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran.
Banyak digunakan sebagai warna pada logo Bank di Amerika Serikat untuk memberikan kesan tenang, terpercaya, ilmu dan wawasan. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya, demikian juga pendidikan.

Hijau
Respon Psikologi: Alami, Sehat, Keberuntungan, Pembaharuan, pertumbuhan, kesuburan, harmoni, optimisme, kebebasan, dan keseimbangan
Warna Hijau tidak terlalu ’sukses’ untuk ukuran Global. Di Cina dan Perancis, kemasan dengan warna Hijau tidak begitu mendapat sambutan. Tetapi di Timur Tengah, warna Hijau sangat disukai. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau.

Ungu atau Jingga
Respon Psikologi: Spiritual, Misteri, Kebangsawanan, Transformasi, Kekasaran, Keangkuhan, Ramah, Romantis, dan Mandiri.
Warna Ungu sangat jarang ditemui di alam. Ungu adalah capuran warna merah dan biru. Menggambarkan sikap ‘gempuran’ keras yang dilambangkan dengan warna biru. Perpaduan antara keintiman dan erotis atau menjurus ke pengertian yang dalam dan peka. Bersifat kurang teliti namun penuh harapan.

Coklat
Respon Psikologi: Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan, Stabilitas, Bobot, Kestabilan dan Keanggunan.
Kemasan makanan di Amerika sering memakai warna Coklat dan sangat sukses, tetapi di Kolumbia, warna Coklat untuk kemasan kurang begitu membawa hasil.

Hitam
Respon Psikologi: Ketakutan, Power, Kecanggihan, Kematian, Misteri, Seksualitas, Kesedihan, Keanggunan, dan Independen, Berwibawa, Penyendiri, Disiplin, dan Berkemauan keras.
Melambangkan kematian dan kesedihan di budaya Barat. Sebagai warna Kemasan, Hitam melambangakan Keanggunan (Elegance), Kemakmuran (Wealth) dan Kecanggihan (Sopiscated). Menunjukkan hal yang tegas, elegan, dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Seperti ketika saya memilih warna dominan hitam pada Rahasia Blogging.warnatersebut sangat mendukung kata “rahasia” yang ingin saya tekankan.
Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain.

Putih
Warna suci dan bersih, natural, kosong, tak berwarna, netral, awal baru, kemurnian dan kesucian
Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya.

Abu Abu
Respon Psikologi: Intelek, Masa Depan (kayak warna Milenium), Kesederhanaan, Kesedihan.
Warna Abu abu adalah warna yang paling gampang/mudah dilihat oleh mata.

Kesimpulan
Warna sebagai termasuk dalam ranah nirmana. Terkadang pemakaian warna sangat membantu dalam pemilihan font dalam typografi. Kemampuan penguasaan budaya dan warna sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah warna dalam pemakaian ke dalam produk desain, oleh karenanya penguasan warna merupakan syarat penting untuk desainer pemula. Meski demikian, arti warna bisa bergantung juga dengan bidang tertentu, budaya, agama, dan adat setempat. Warna kuning bisa berasosiasi dengan partai politik tertentu kalau dalam politik; sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari, bendera kuning yang dipasang di rumah seseorang, itu pertanda tengah terjadi peristiwa berkabung. Sementara bank syariah hampir pasti selalu dihiasi dengan warna hijau yang berasosiasi dengan agama tertentu.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/dasar-pemakaian-warna-dalam-desain-grafis.html

 

Ilmu Grafis Desain Komvis Kontribusi Warna Bagi Kehidupan dan Karya Desain Komunikasi Visual mengupas penggunaan Warna sebagai intisari objek dalam berinteraksidengan dunia. Warna juga digunakan sebagi simbolisme karena mempunyai kiasan dan nilai filosofis. Memahami warna akan menguatkan makna dalam penggunaan karya desain.

Warna merupakan salah satu unsur yang tidak bisa berdiri sendiri. Penampilan suatu warna selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh warna lain yang ada di sekitarnya. Warna juga merupakan tampilan fisik pertama yang sampai ke mata kita yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik itu benda mati atau benda hidup. Warna bisa kita lihat karena ada interaksi atau karena ada saling mempengaruhi antar warna itu sendiri. Warna biru dengan kadar pencahayaan yang sama akan terlihat berbeda penampilannya bila diletakkan di atas latar yang berbeda atau didekatkan dengan warna yang berbeda pula.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Akibat dari pencampuran warna-warna tersebut akan menimbulkan reaksi ke arah gelap dan ke arah terang di mata kita. Warna-warna yang dicampurkan dengan warna biru akan menghasilkan warna yang gelap. Sedangkan warna-warna yang dicampurkan dengan warna kuning dan merah akan menghasilkan warna yang lebih terang. Seperti warna kuning yang mempunyai warna dasar kuning lemon dan kuning kadmium. Keduanya mengesankan kesan yang berbeda. Kuning lemon terkesan lembut. Sedangkan kuning kadmium terkesan keras. Begitu juga dengan warna biru. Terdapat beberapa jenis warna biru seperti biru cobalt, biru ultra, biru marine, biru prusia, biru cyan, dan lain-lain.

Bila biru dicampurkan dengan warna hijau dengan perbandingan tertentu akan memberi kesan sejuk. Kesan lebih dingin lagi didapat bila biru dicampurkan dengan sedikit warna ungu seperti pada biru prusia. Warna hijau yang terdapat campuran warna kuning akan mengesankan lebih hangat daripada biru. Ungu bila dicampurkan dengan warna merah akan terkesan hangat. Kesan panas dan menyala didapat dari pencampuran warna merah dan kuning. Bila merah dicampur dengan biru atau ungu akan menjadi dingin. Bila kuning dicampur dengan hijau atau biru akan terkesan dingin. Bila warna-warna dicampurkan dengan putih akan memperoleh warna pastel yang memberi kesan nyaman, ringan, lembut dan sejuk. Bila dicampur dengan abu-abu maka timbul kesan tertekan dan terselubung.

Warna gelap dan warna terang akan menimbulkan kesan yang berbeda. Warna gelap yang sampai ke mata kita akan dianalisa oleh otak kita dan menghasilkan kesan dingin yang kita rasakan. Begitu sebaliknya dengan warna terang akan terasa hangat dan panas. Seperti yang kita pelajari dalam pelajaran Fisika dimana panjang gelombang warna merah lebih panjang dari pada gelombang warna ungu. Itu berarti warna merah yang terang dan terasa panas akan lebih cepat ditangkap mata kita dibandingkan dengan warna ungu yang terkesan gelap dan terasa dingin. Yang dikategorikan sebagai warna-warna panas yaitu kuning kehijauan, kuning, kuning kejinggaan, jingga, jingga kemerahan dan merah. Yang dikategorikan sebagai warna-warna dingin yaitu hijau, hijau kebiruan, biru, biru keunguan dan ungu.

WARNA DAN BAHAN

Dalam menata ruang, warna dan bahan saling mempengaruhi. Walau masing-masing jenis bahan sudah mempunyai karakter sendiri namun masih juga memerlukan sentuhan akhir. Sentuhan akhir itu adalah pewarnaan. Ibaratnya warna memberi pakaian pada bahan agar terlihat mencolok dan bentuknya terlihat lebih jelas. Kadang warna juga mengaburkan karakter bahan tersebut.

Pemakaian bahan kayu bila diberi warna akan menyamarkan serat-serat kayu yang sudah arstistik. Pemakaian warna juga bisa mengawetkan bahan. Seperti pemakaian warna pada bahan besi yang bisa menghindarkan besi dari karat. Efek warna sangat menentukan penampilan suatu ruang dan perabot yang menghiasinya. Penggunaan warna yang tepat akan menonjolkan bentuknya dan menutupi kekurangan-kekurangannya.

WARNA SEBAGAI SIMBOLIK

Ada warna-warna tertentu yang bisa mewakili perasaan kita. Seperti bila kita sedang berduka atau menengok orang berduka, tidak etis rasanya bila kita memakai pakaian yang bercorak atau berwarna cerah. Karena warna cerah adalah wakil dari perasaan yang cerah atau gembira. Untuk mewakilinya kita menggunakan pakaian warna hitam, karena hitam dikiaskan sebagai kematian atau keburukan. Kematian juga tidak selalu dilambangkan dengan warna hitam. Kematian adalah jalan roh menuju ke tempat yang lebih tinggi derajatnya yaitu keabadian.

Maka kematian juga dilambangkan dengan warna putih. Karena putih adalah lambang keabadian, kedamaian, kebahagiaan dan kesucian. Menurut kepercayaan orang-orang Batak, warna hitam dan putih adalah warna yang derajatnya paling tinggi. Dari kedua warna itulah kehidupan dimulai. Kemudian berproses. Ulos ragidup memiliki tingkatan tertinggi dalam kedudukan adat. Warna putih di bagian tengah dan di kiri kanannya terdapat warna hitam. Putih berarti suci, damai, bersih dan hitam berarti kekuatan dan keteguhan.

Kebalikan dari kedukaan adalah kebahagiaan. Orang selalu diselimuti rasa bahagia adalah bila hari-harinya dipenuhi dengan perasaan cinta. Cinta kepada sesama dan yang ada di lingkungan sekitarnya. Rasa cinta dilambangkan dengan warna merah muda. Yang sering kita lihat pada waktu perayaan hari Valentine semua serba merah muda. Mulai dari etalase toko-toko, penjual kembang, dan penjual pernak-pernik Valentine terutama yang diperlukan anak-anak muda untuk menyatakan rasa cintanya pada seseorang.

Warna merah dan putih sudah ada dan dipakai sebagai simbol sejak zaman Majapahit. Kala itu dipakai sebagai warna umbul-umbul. Dan sekarang dipakai sebagai warna bendera bangsa Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Merah juga sering dijadikan simbol dari warna darah. Dan putih simbol dari warna tulang. Tulang merupakan penyangga tubuh dan darah adalah suatu yang membuat kita hidup. Karena dalam darah mengandung zat-zat makanan bagi tubuh. Maka merah dan putih diartikan sebagai lambang perjuangan yang kuat dan kokoh hingga titik darah penghabisan.

Merah juga dijadikan simbol kekesatriaan. Maka hunian kaum kesatria di Bali yang disebut puri terdapat entrance yang berupa kori yang terbuat dari tumpukan bata-bata yang berwarna merah kejinggaan. Biasanya disebut Kori Barak. Pada balai-balai adat di Bali terdapat warna kuning keemasan (prada) yang melambangkan keagungan. Pada hari raya – hari raya Hindu di Bali pelinggih-pelinggih banyak yang dikenakan wastra warna putih kuning. Ini melambangkan kesucian dan keluhuran pelinggih tersebut. Pada tugu-tugu seperti penunggu karang dikenakan wastra putih hitam (poleng). Ini berarti yang melinggih di tugu tersebut adalah suci dan kuat. Bukankah bertugas menjaga karang beserta isinya tentu harus kuat.

WARNA SEBAGAI PETUNJUK PRAKTIS

Warna juga erat kaitannya dengan pola tingkah laku masyarakat. Seperti memberi petunjuk ke suatu jurusan, memberi instruksi dan memberi peringatan. Lampu lalu lintas yang memberi isyarat berhenti diinstruksikan dengan warna merah. Hati-hati dengan warna kuning dan jalan dengan warna hijau. Tanda silang merah berarti palang merah. Kendaraan truk pengangkut bahan bakar minyak selalu berwarna merah menyala. Ambulans kendaraan pengangkut orang sakit selalu berwarna putih. Warna kotak surat yang dulu sering kita temui di jalan selalu berwarna jingga. Telepon umum selalu berwarna biru.

Dari beberapa warna yang telah diterapkan tersebut dapatlah ditinjau aspek-aspek warna dengan sifat penampakannya. Warna merah, jingga dan kuning bersifat panas berpenampilan lebih menonjol dan merangsang. Makna dari peringatan warna tersebut adalah bahaya dan hati-hati. Sedangkan warna hijau, biru dan ungu bersifat dingin berpenampilan pasif yaitu teduh dan diam. Makna dari peringatan yang dimaksud adalah keadaan yang aman.

WARNA, BENTUK DAN KECEPATAN

Warna juga erat kaitannya dengan bentuk dan kecepatan. Hubungan ini telah diteliti oleh The International Safety Colour Codes yaitu suatu lembaga untuk keselamatan kerja dan lalu lintas di New York, A.S. Dalam kecepatan tinggi warna merah dan kuning akan terlihat samar.

Warna hijau dan biru terlihat jelas. Makanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya yang biasa kendaraan memacu kecepatan tinggi dibuat segi empat ditulis dengan huruf putih di atas dasar hijau atau biru. Bentuk segi empat adalah bentuk yang tampil dengan wujud yang utuh, diam dan stabil. Sedangkan segi tiga berwujud tajam-tajam, tampil dengan sifat yang terarah. Bentuk lingkaran memberi kesan berputar dan bergerak.

WARNA DAN ALAM

Warna juga dapat dipelajari dari alam yang kita temui setiap hari. Seperti halnya pada pergantian musim di Indonesia. Pada musim kemarau, alam dikuasai oleh warna-warna kecoklatan dan keabu-abuan. Tanah yang tandus, pepohonan yang yang hanya tinggal batangnya saja dan rerumputan yang kering. Walau begitu Tuhan masih memberi warna cerah pada alam. Karena justru di musim panaslah ada beberapa tanaman yang sedang berbunga. Seperti bougenville dan kamboja. Pada musim hujan seolah-olah kehidupan baru dimulai. Tanah selalu basah, pepohonan mulai mengernyitkan kuncup daunnya dan rerumputan mulai hijau.

Lain lagi dengan negara yang mempunyai empat musim. Di musim dingin alam lebih didominasi oleh warna biru, hijau-biru, warna salju yang putih bersih, abu-abu dan hitam kegelapan. Musim semi alam diwarnai oleh daun-daun muda yang hijau kekuning-kuningan dan warna tunas-tunas dan kuncup yang kuning lembut. Alam di sebelah atas didominasi oleh warna biru muda.

Pada musim panas matahari bersinar penuh, ladang-ladang berwarna kuning tua dan tanah berwarna coklat. Di akhir musim panas, buah-buahan mulai masak sehingga pepohonan dihiasi butiran-butiran berwarna merah. Warna alam mulai redup saat musim gugur. Seisi alam diselimuti kabut berwarna abu-abu. Warna kuning berubah menjadi coklat, merah menjadi merah bata kemudian menjadi lembayung.

WARNA DAN KEJIWAAN

Dari sudut pandang ilmu kejiwaan, warna dikaitkan dengan karakter-karakter manusia. Orang yang berkarakter extrovert lebih senang dengan warna-warna panas dan cerah. Karena tipe orang seperti ini biasanya terbuka, lebih memandang ke luar daripada ke dalam dirinya sendiri, tidak sulit menerima masalah-masalah baru karena cara berpikirnya lebih mengarah pada segi-segi yang umum daripada yang khusus. Sedangkan orang yang berkarakter introvert lebih senang pada warna-warna dingin dan gelap. Orang bertipe ini biasanya tertutup, lebih memandang ke dalam dirinya sendiri, sulit menerima masalah-masalah baru, lebih suka menyelesaikan pada hal-hal yang khusus daripada yang umum.

Warna juga bisa menimbulkan efek rasa bagi yang melihatnya. Warna-warna matahari seperti kuning, merah, jingga dan yang satu nada dengannya bisa menimbulkan rasa hangat. Sebaliknya rasa dingin bisa ditimbulkan oleh warna-warna dingin seperti biru, biru kehijau-hijauan, putih dan hitam.

Warna-warna muda seperti kuning muda, hijau muda, merah jambu, biru cerah dan coklat cerah memberi kesan ceria yang berjiwa muda. Warna-warna gelap seperti coklat, lembayung, abu-abu dan hijau memberi rasa tenang sehingga menimbulkan keinginan untuk menyepi.

Seperti yang telah kita amati dari alam bahwa warna bisa membuat kesan mendekat dan menjauh. Kesan ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kesan pada ruang agar lebih luas atau lebih sempit, menonjolkan atau mendesakkan dinding, langit-langit atau perabot. Dinding kamar yang berwarna biru muda yang mengarah ke abu-abu memberi kesan menjauh sehingga kamar menjadi lebih terlihat luas. Sebaliknya warna gelap seperti jingga juga bisa memberi kesan menyempitkan.

WARNA UNTUK TEMPAT TINGGAL

Untuk memperoleh warna yang harmonis harus diperhatikan perbandingan warna yang akan dipakai, yaitu dengan memasangkan warna yang hangat dengan warna dingin, warna ringan dengan warna berat sehingga terjadi warna kontras. Antara cerah dan gelap, bersih dan buram, diimbangi dengan sebuah unsur pengikat.

Sebagai contoh dalam suatu ruang terdapat sofa yang berwarna kuning-jingga dan kap lampu berwarna biru-ungu, warna dinding dan lantai berwarna putih sebagai warna penerang. Maka kesemua warna tersebut akan memperoleh tingkat terangnya msing-masing oleh warna putih.

Dalam memberikan warna pada ruang semuanya harus mendapat warna yang sesuai dengan fungsinya. Dimana dinding dan perabot sebagai pendukung warna. Dinding yang merupakan latar belakang dan juga sebagai pembatas ruang hendaknya berwarna lembut agar terkesan menjauh dan tidak mendesakkan. Warna lantai juga harus dapat mendukung perabot yang nantinya akan ditata dalam suatu ruang. Perabot yang berukuran kecil bisa dijadikan tempat titik warna yang kuat. Warna perabot dari kayu lebih mudah disesuaikan karena hampir semua jenis kayu mengandung warna abu-abu netral.

Untuk ruang tidur diperlukan warna tenang dan lembut karena sesuai dengan fungsinya sebagai ruang beristirahat dengan tingkat privacy yang tinggi. Dalam ruang tidur anak lebih diutamakan warna-warna utama yang cerah karena sesuai dengan kondisi perkembangan anak yang sedang bertumbuh dan energik.

Sedangkan dapur yang berfungsi sebagai ruang kerja yang praktis dan bersih. Kebersihan suatu rumah tangga bisa dilihat dari kerapian dan kebersihan dapurnya. Ini bisa diterapkan dengan menempatkan almari dan meja berwarna putih dengan dinding berwarna kuning hangat. Warna lantai yang coklat muda bisa menimbulkan kesan sejuk. Sedangkan kesan menggairahkan bisa didapat dari alat-alat dapur yang berwarna merah dan jingga.

Untuk ruang keluarga hendaknya memancarkan kehangatan yang nyaman. Sofa berwarna coklat tua dipadu dengan warna merah bata pada tirai, serta warna coklat lembut pada lantai. Sebagai warna kontrasnya bisa ditempatkan tanaman dalam ruang yang berwarna hijau.

WARNA PADA BANGUNAN

Warna pada bangunan sangat membantu penampilan suatu bangunan. Warna adalah alat bantu untuk menciptakan keindahan dan kenyamanan dan juga bisa sebagai alat pacu penampilan suatu bangunan. Dari warnalah akan berbicara fungsi dari bangunan tersebut dan kesan yang ingin ditampilkan. Bangunan rumah sakit identik berwarna putih bersih. Putih adalah lambang kebersihan dan kehigienisan.

Pada perkembangannya sekarang bangunan rumah sakit tidak selalu berwarna putih. Terutama rumah sakit milik swasta banyak yang memakai warna-warna pastel yang lembut. Warna ini dipakai untuk menampilkan kesan lembut dan nyaman bagi pasien yang dirawat disana. Pelayanan perawat yang ramah, fasilitas yang memadai dan tentu kebersihan yang higienis.

Pada kantor pos selalu terdapat warna jingga. Ini menyatakan kehangatan para pegawai pos melayani masyarakat dalam hal surat-menyurat. Sekolah taman kanak-kanak lebih didominasi dengan warna-warna cerah. Ini untuk menimbulkan keceriaan dan menarik minat anak-anak dalam belajar. Ada juga beberapa bangunan rumah tinggal yang berwarna mencolok dari lingkungannya. Ini untuk memberi identitas tertentu dan memudahkan orang yang mencarinya.

Masalah warna adalah masalah selera dan bersifat relatif. Begitulah warna yang selalu memberi warna bagi kehidupan manusia. Ada warna gelap, terang, cerah, buram, panas dan dingin. Semua bisa memberi rona bila dipadukan secara harmonis. Andaikan di dunia ini hanya ada satu warna, betapa membosankan hidup ini.

Kesimpulan

Warna tidak bisa dipisahkan dengan dunia desain bahkan dari kehidupan kita sehri-hari. Warna dapat membentuk ekspresi jiwa dan keragaman bahasa komunikasi. Dengan adanya prinsip dan filosofi warna, kita bisa mengimplementasikan karya desain dalam berkomunikasi secara visual.

Setiap warna menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Dengan memahami berbagai hal mengenai warna akan memudahkan kita untuk mendapatkan pandangan yang tepat mengenai tata warna itu sendiri. Sebab nuansa warna yang ditimbulkan oleh warna itu sendiri sangat banyak macamnya dan kesan yang ditimbulkanpun sangat beragam. Dari berbagai macam warna yang ada, sebagai warna yang paling dasar adalah merah, biru, dan kuning. Dari ketiga warna tersebut dapat dirubah menjadi beribu-ribu macam warna dengan mencampurkannya dalam perbandingan-perbandingan tertentu sesuai dengan macam warna yang diinginkan.

Daftar Pustaka

  1. Hadi, Umar. 1998. ‘’Memahami Desain Grafis’’. Katalog Pameran Desain Grafis, LPK Visi Yogyakarta.
  2. Jewler, A. Jerome., dan Drewniany Bonnie, L. 2001. Creative Strategy in Advertising. USA: Wadsworth Thomson Learning, 10 Davis Drive Belmont.
  3. Pirous, AD. 1989. ‘’Desain Grafis pada Kemasan’’. Makalah Simposium Desain Grafis, FSRD ISI Yogyakarta.
  4. Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2006. Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan. Yogyakarta: Dimensi Press.
  5. Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  6. Sutanto, T. 2005. ‘’Sekitar Dunia Desain Grafis/Komunikasi Visual’’. Pura-pura Jurnal DKV ITB Bandung. 2/Juli. 15-16.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/kontribusi-warna-bagi-kehidupan-dan-karya-desain-komunikasi-visual.html

 

Ilmu Grafis Desain Tutorial Tipografi kali ini membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi visual dengan tipografi yg dipermudah oleh readibilty & legibility. Typography adalah andalan utama pekerja grafis dalam berkomunikasi visual. Segala hal di dunia ini akan berjalan baik jika komunikasi antara semua elemennya berjalan dengan baik. Bagaimana penggunaan tipografi sebagai perangkat komunikasi visual ?

Komunikasi terbangun oleh bahasa, dan bahasa didirikan oleh struktur-struktur yang merupakan susunan dari kata-kata dan elemen terkecil dari semua itu adalah tulisan yang mudah dibaca atau dimengerti dan merupakan rangkaian-rangkaian kode atau simbol yang ditampilkan dalam bentuk huruf-huruf.

Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau ‘C’ dengan ‘Q’. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun 1900 memformulasikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada ‘pattern seeking’ dalam perilaku manusia. Salah satu hukum persepsi dari teori ini membuktikan bahwa untuk mengenal atau ‘membaca’ sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif yang disebut dengan figure dan ruang negative yang disebut dengan ground.

Seperti diatas, bahwa huruf merupakan bagian terkecil dari struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun sebuah kata atau kalimat. Rangkaian huruf dalam sebuah kata atau kalimat bukan saja dapat memberikan suatu makna yang mengacu kepada sebuah objek ataupun gagasan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyuarakan suatu citra ataupun kesan secara visual. Huruf memiliki perpaduan nilai fungsional dan nilai estetika. Pengetahuan mengenai huruf dapat dipelajari dalam sebuah disiplin seni yang di sebut tipografi ( typography ).

Berkomunikasi secara visual dengan tipografi biasanya menggunakan :

  1. Tipeface
  2. Hierarki Visual
  3. Penggabungan Legibility dan Readibility
  4. Font Family
  5. Tipografi Mikro
  6. Tipografi Makro
  7. dlsb.

Tipeface

Typeface atau sering disingkat type yang berarti jenis huruf dalam komunikasi visual digunakan untuk membuat hierarki atau prioritas pembacaan. Sebagai contoh jika kita bandingkan Arial Black dan Times New Roman dalam ukuran yang sama, maka Arial Black akan cepat dibaca / diprioritaskan karena memiliki berat yang lebih serta tegas. Penggunaan jenis huruf dalam sebuah karya desain biasanya dibatasi sekitar tiga buah. Hal ini dilakukan agar visualisasi karya tidak rumit penanda visualnya.

Hierarky Visual

Dalam suatu publikasi sering kali diperlukan hierarki dalam penyusunan type. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan tersebut karena dalam grafis modern senantiasa digali kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menantang serta dapat menarik perhatian responden atau target. Namun demikian, susunan hierarki tetap masih harus ada. Hanya saja hierarki itu perlu disusun berdasarkan alasan yang berbeda-beda hingga membentuk prioritas pembacaan. Hierarki visual disusun oleh tiga hal, yaitu : ukuran font, huruf kapital, dan jenis huruf.

Penggabungan Legibility dan Readibility

Legibility adalah tingkat kemudahan mata mengenali suatu tulisan tanpa harus bersusah payah. Hal ini bisa ditentukan oleh:

  1. Kerumitan desain huruf, seperti penggunaan serif, kontras stroke, dan sebagainya.
  2. Penggunaan warna
  3. Frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Keterbacaan / readability adalah tingkat kenyamanan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh:

  1. Jenis huruf
  2. Ukuran
  3. Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya
  4. Kontras warna terhadap latar belakang

Jika digabungkan kedua hal tersebut maka akan ada kontribusi solusi penggunaan ilmu tipografi dalam membentuk komunikasi visual secara lebih baik.

Font Family

Font Family erat kaitannya dalam membuat hierarki visual dengan penggunaan tipeface berlebih. Hal ini bisa dilakukan karena jenis font adalah mirip atau mempunyai kesamaan tertentu. Perubahan berat dari struktur bentuk dasar huruf terletak pada perbandingan antara tinggi dari huruf yang tercetak dengan lebar stroke. Bila ditinjau dari berat huruf, maka anggota dari keluarga huruf ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok pokok, yaitu: light, regular dan bold. Secara lengkap dibagi menjadi lima kelompok, yaitu: light, regular, semibold, bold dan Black. Setiap anggota keluarga huruf baik light, regular, dan bold memiliki kesamaan ciri fisik, namun dengan tampilnya perbedaan berat dapat memberikan dampak visual yang berbeda.

Seperti contoh, huruf bold karena ketebalannya memiliki potensi yang kuat dalam menarik perhatian mata. Biasanya kelompok huruf bold ini banyak sekali digunakan untuk judul (headline) sebuah naskah, baik untuk iklan, poster, maupun media terapan lainnya.

Tipografi Mikro

Adalah ilmu tipografi yang menyangkut tampilan visual rancangan huruf secara mendasar, seperti desain tata letak serta eksekusi-eksekusi visual yang terdiri dari perhitungan besar huruf, leading, dan kerning.

Tipografi Makro

Adalah ilmu tipografi yang menyangkut kepada pengintegrasian permasalahan strategi kreatif dari konsep desain, filosofi, kaitan huruf dengan sejarah, sasaran khalayak, serta penggunaan huruf sebagai sebuah solusi komunikasi.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/ber-komunikasi-visual-dengan-tipografi.html

 

Ilmu Grafis Desain Tutorial Hierarki Tipografi merupakan suatu cara dalam memilih typeface, menata huruf & menyusun font untuk menciptakan kesan visual tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Apa saja ruang lingkup dan kegunaannya? Silakan baca lengkap tutorial tipografi berikut.

Dalam suatu publikasi sering kali diperlukan hierarki dalam penyusunan type. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan tersebut karena dalam grafis modern senantiasa digali kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menantang serta dapat menarik perhatian responden atau target. Namun demikian, susunan hierarki tetap masih harus ada. Hanya saja hierarki itu perlu disusun berdasarkan alasan yang berbeda-beda.

Berikut contoh sebuah desain kemasan yang menonjolkan penggunaan tipografi sebagai penyampai informasi. Agar sasaran informasi tercapai, harus diperhatikan prioritas-prioritas penyampaian dalam penyusunan pesan. Oleh karena itu, dibuatlah hierarki sesuai urutan prioritas penyampaian informasi, terlepas dari legibility dan readibility.

 

1. Nama barang yang terbungkus dalam kemasan ini adalah MEXAKIDS
2. Apakah Mexakids? SIRUP.
3. Sirup apa? OBAT BATUK.
4. Obat batuk yang bagaimana? Memiliki RASA APEL. Isinya NETTO 100 ml… dst.

Nah pada gambar tersebut terlihat jelas bahwa penggunaan besar ukuran font, huruf kapital, dan jenis huruf akan memberikan ruang-ruang tanda baca. Ruang ini akan memudahkan alur pembacaan, biasanya dimulai dari kiri atas ke bawah atau kiri atas ke kanan sesuai dengan bentuk dan alur yang diinginkan. Perlu diingat bahwa hierarki tipografi bisa dibentuk berdasarkan 3 hal yang saya sebut di atas. Diluar tipografi, untuk membentuk hierarki bisa menggunakan garis-garis alur / panah dan juga warna.

Tidak hanya tipografi yang menggunakan hierarki ini. Dalam dunia desain dipelajari Nirmana untuk menggali lebih dalam tentang komunikasi secara visual. Meskipun tanpa ada tulisan, tetap saja sebuah gambar bisa diartikan dan dipahami sesuai dengan hierarki yang kita bahas ini.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/hierarki-tipografi.html

Tutorial Ilmu Grafis Tipografi atau Tipography Pemanfaatan Tipografi untuk Membuat Layout Majalah, Koran dan Buku. Dalam sebuah buku (juga Koran maupun majalah) terdapat pengorganisasian halaman serta susunan organisasi dalam naskah. Dengan adanya pengorganisasian ini pembaca semakin mudah melihat alur pembacaan dan memudahkan dalam membaca.

Sekilas mengenai Tipografi : Tipografi merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan.

Pada umumnya, pengorganisasiannya terdiri dari :

1. Judul Buku/Nama Majalah/Nama Koran.
2. Headline atau Judul Artikel bisa juga Judul Bab.
3. Subhead atau judul-judul bahasan dan subbahasan.

1. Main Title Judul Utama

Judul utama menjadi penentu bagi pembaca untuk mengenali jenis buku. Oleh karena itu, judul utama pada cover (buku atau majalah) harus eye catchy. Judul harus ditulis dengan kontras yang cukup kuat, bahkan bila perlu menggunakan ukuran yang besar, bentuk font yang sesuai, serta susunan tatanan huruf yang meanarik.

2. Menyusun Headlines dan Subhead

Headlines atau judul artikel berfungsi mengantarkan pandangan mata pembaca menuju teks pada artikel yang disajikan. Jika Headline tidak menarik, mungkin teks naskah tersebut tidak akan pernah dibaca orang. Itulah sebenarnya tugas dari seorang desainer, yakni mencuri perhatian pembaca agar bersedia membaca teks dalam artikel tersebut. Selain menarik perhatian, teknik lain di luar desain adalah dalam hal copy writing. Bunyi judul harus menggelitik. Ada teknik pemilihan kata yang bisa menggelitik perhatian orang untuk menyampaikan maksud Anda. Hal itu bisa Anda pelajari dalam buku-buku bertema “copy writing”.

3. Tip-Tip Memformat Headlines

a. Cara termudah untuk memformat Headline adalahd dengan memformat huruf pertama pada setiap kata menjadi huruf capital, sedangkan huruf berikutnya adalah huruf bisaa. Susunan seperti itu memudahkan orang untuk membacanya.

b. Sementara itu, penggunaan huruf capital pada seluruh headlines akan kelihatan tradisional, selain juga lebih sulit dibaca. Oleh karena itu hindarilah tersebut.

c. Apabila headline membentang di atas beberapa kolom, usahakan agar bisa penuh hingga akhir lebar kolom tersebut. Hal itu akan membantu pembaca untuk memahami dengan mudah bahwa kolom-kolom tersebut berisi satu artikel yang sama.

d. Jika Headline terdiri lebih dari satu baris, jangan memotong suatu kosakata atau ungkapan yang mungkin akan menyebabkan kesalahan persepsi yang fatal bagi pembaca yang hanya membaca sekilas.

e. Jika beberapa Headlines terletak dalam satu baris pada sebuah halaman, Anda harus melakukan pengaturan agar pembaca tidak keliru membaca suatu baris Headline dengan menyeberang ke Headline di sebelahnya. Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan agar terhindar dari hal tersebut :

  1. Membuat garis terpidah pada gutter untuk membatasi suatu artikel lain di sebelah kanannya.
  2. Membuat Header dengan ketebalan teks yang berbeda.
  3. Memasang gambar sebagai pemisah antara judul artikel pertama dan kedua.
  4. Jangan menggunakan titik di belakang Headline jika Anda menghendaki pemabaca membaca teks selanjutnya pada body teks karena titik menandakan stop.
  5. Headline bisa dibuat dengan tiga hingga empat point lebih besar dibandingkan body teks. Selain itu, gunakan style bold.

4. Tip-Tip Memformat Subhead

a. Subhead dibuat untuk menandai bagian level bahasan (yang berarti bagian yang lebih detail) dari suatu topik yang lebih rendah. Aturan yang berlaku pada Headline juga berlaku pada Subhead.

b. Ingatlah bahwa Subhead dan teks di bawahnya merupakan satu kesatuan unit. Oleh karena itu, berikan jarak cukup jauh (setidaknya dua kali lipat jarak dari paragraf di bawahnya) antara Subhead dengan teks sebelumnya yang berfungsi memisahkan unit sebelumnya.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/pemanfaatan-tipografi-untuk-membuat-layout-majalah-koran-dan-buku.html

 

Ilmu Desain Tutorial Tipografi Tipography merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf font dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yg tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Apa saja ruang lingkup dan kegunaannya? Silakan baca lengkap tutorial tipografi berikut.

Mengenal Tipe

Tipografi adalah disiplin ilmu yang dipandang tidak cool tapi misterius, yang selalu di belakang layar dan cenderung low profile. Bandingkan dengan usability misalnya-yang akhir-akhir ini naik daun. Siapa sih yang tidak kenal Jakob Nielsen? Atau bandingkan dengan tokoh new media Web dan Flash macam Jeffrey Zeldman dan Hillman Curtis. Rata-rata dari kita kenal atau minimal pernah dengar namanya. Tapi kalau disuruh menyebutkan siapa tokoh tipografi favorit, atau siapa yang menciptakan tipe Futura atau Georgia, maka kebanyakan dari kita menggeleng. Tokoh suatu bidang seringkali mencerminkan seberapa popular bidang tersebut. Kalau tokoh-tokoh tipografi jarang kita ketahui, maka barangkali begitu pulalah dengan bidang ilmu tipografi. Padahal tipografi amatlah penting bagi semua desainer, termasuk desainer Web.

Dalam seri tutorial apresiasi tipografi ini, fokus kita adalah pada tipe. Kita akan mengenal apa itu tipe. Kita juga akan menyinggung teknologi font dan tipografi di komputer. Lalu melihat profil beberapa perusahaan penerbit font—yang biasa disebut digital type foundry—yang ternama seperti Adobe dan ITC. Kita pun akan mengenal beberapa tipe popular seperti Garamond dan Bodoni. Dan terakhir kita akan membahas desain logo yang mengutamakan permainan huruf dan tipe. Meski demikian, tak ketinggalan akan disinggung pula aspek-aspek dasar tipografi yang baik.

Karena sifat tutorial ini pemula, maka bisa diikuti baik oleh desainer Web—yang rata-rata, sayangnya, memang kurang mengenal tipografi dibandingkan desainer cetak—maupun oleh umum. Alangkah baiknya jika setiap orang memahami dasar-dasar tipografi. Apalagi karena sekarang setiap hari mau tidak mau kita berurusan dengan huruf dan tipe di komputer. Mulai dari memilih font saat akan membuat surat, kartu undangan, halaman web, kartu nama, dan lain-lain.

Tujuan akhir tutorial ini adalah membangkitkan kesadaran akan tipe sehingga pembaca menyadari peran tipografi dalam desain grafis, mengenal font-font, dan dapat memilih dan memadu font sesuai karakteristik masing-masing font. Tutorial ini tidak akan membahas hingga ke pemakaian software Fontographer atau teknik perancangan tipe lainnya, melainkan hanya dari sisi apresiasi.

Pentingnya Sebuah Huruf

Huruf dan tulisan memiliki arti amat penting bagi manusia. Bahkan, yang namanya peradaban atau masa sejarah ditandai dengan peristiwa dikenalnya tulisan oleh manusia. Zaman sebelum ada tulisan sering disebut zaman prasejarah. Kalau Anda melihat ke buku atau ke layar komputer, Anda akan melihat huruf dan tulisan. Di jalanan pun Anda akan melihat tulisan. Di pakaian, di badan mobil dan pesawat terbang, bahkan di gua-gua purbakala Anda bisa menjumpai tulisan. Selain gambar, huruf adalah cara manusia berkomunikasi secara visual.

Tipe/Typeface dan Font

Satu hal pertama yang Anda bisa perhatikan dari tulisan-tulisan yang berbeda itu adalah, bahwa bukan huruf-hurufnya saja yang berbeda, melainkan jenis hurufnya juga. Huruf “A” atau “a” di sebuah tulisan bisa berbeda dari huruf “A” dan “a” yang lain. Anda tahu bahwa keduanya abjad alfabet yang sama, tapi Anda juga mengamati bahwa jenis hurufnya berbeda. Bisa jadi yang satu lebih tebal atau gemuk dari yang lain, bisa jadi kaki-kaki hurufnya ada yang memiliki tangkai, atau lebih pendek atau lebih panjang, dan sebagainya. Sebuah jenis huruf yang sama kadang diberi nama tertentu (misalnya: Times New Roman).

Jenis huruf ini disebut typeface, atau singkatnya tipe. Sekarang orang juga sering menyebut jenis huruf dengan font, karena file yang berisi informasi sebuah typeface di komputer diberi istilah font (misalnya, di Windows, informasi untuk menggambar tipe Arial disimpan dalam file ARIAL.TTF). Di dalam dunia tipografi tradisional (nondigital), yaitu saat huruf dicetak menggunakan balok-balok logam, font memiliki arti lain kumpulan balok-balok huruf logam yang memiliki satu typeface dan satu ukuran tertentu. Belakangan barulah orang-orang komputer memakai kembali istilah font untuk bidang tipografi digital. Kedua istilah typeface/tipe dan font dalam artikel ini akan dipakai bergantian.

Klasifikasi Tipe

Ada banyak sekali jenis huruf yang bisa kita amati. Mungkin di komputer Anda sendiri ada terinstal ratusan hingga ribuan file font. Sebagian font bentuknya unik dan aneh sehingga mudah kita kenali, sementara yang lain tampak sekilas mirip-mirip semua. Setiap saat pun diciptakan font-font baru. Produser film-film Hollywood misalnya, sering mengeluarkan dana untuk mendesain font baru yang unik untuk filmnya.

Berdasarkan bentuknya, para pakar tipografi umumnya membagi jenis huruf ke dalam dua kelompok besar: serif dan sans serif. Lalu ada kelompok ketiga dan keempat yang disebut script dan dekoratif. Jenis serif dan sans serif pun berbeda-beda, tapi mari sebelumnya mengetahui perbedaan serif dan sans serif.

Serif dan Sans Serif

Serif adalah kelompok jenis huruf yang memiliki “tangkai” (stem). Lihatlah font Times New Roman, Bodoni, Garamond, atau Egyptian misalnya. Persis mendekati ujung kaki-kaki hurufnya, baik di bagian atas maupun bawah, terdapat pelebaran yang menyerupai penopang atau tangkai. Menurut sejarah, asal-usul bentuk huruf ini adalah mengikuti bentuk pilar-pilar bangunan di Yunani Kuno. Seperti kita ketahui, bagian atas dan bawah tiang pilar memang lebih besar agar bisa membuat pilar lebih kokoh.

Sementara sans serif (atau “tanpa” serif) adalah jenis huruf yang sebaliknya: tidak memiliki tangkai. Ujung-ujung kakinya polos begitu saja. Contohnya Arial atau Helvetica (Catatan: meski amat mirip dan sering saling mensubstitusi satu sama lain, kedua font ini tidaklah mirip persis. Cobalah sekali-kali Anda cetak contoh huruf dalam ukuran besar dan amati perbedaan-perbedaan tipis kedua font ini.) Contoh lain jenis huruf sans adalah ITC Officina Sans, yaitu font yang digunakan di mwmag yang sedang Anda baca ini.

Kegunaan tangkai serif
Pada ukuran teks kecil, seperti seukuran tulisan teks di surat kabar atau buku, umumnya tangkai pada kaki-kaki font serif membantu agar tulisan mudah dibaca. Mengapa? Karena tangkai font serif membantu membentuk garis tak tampak yang memandu kita mengikuti sebuah baris teks. Karena itulah kita banyak menjumpai buku-buku dilayout dengan serif. Menurut penelitian, seseorang yang membaca font serif bisa lebih tahan membaca karena tidak mudah lelah—akibat adanya bantuan dari tangkai serif tadi.

Tapi pada kondisi-kondisi berikut ini:
a) huruf amat kecil (seperti tulisan bahan-bahan di label makanan); b) huruf amat besar (seperti di plang-plang merek) yang harus dilihat dari jauh; c) di layar monitor; huruf sans serif kadang lebih mudah dibaca. Mengapa? Karena justru kaki-kaki font serif memperumit bentuk huruf sehingga sedikit lebih lama dibaca. Jika huruf kecil sekali atau pada resolusi rendah seperti di layar monitor, kaki serif bisa tampak bertindihan dan menghalangi pandangan. Karenanya kita banyak melihat plang rambu lalu lintas menggunakan huruf yang sesederhana mungkin agar bisa cepat dibaca, dan di halaman web banyak dipakai font serif karena lebih mudah dibaca pada ukuran kecil/layar kasar.

Jenis-jenis serif
Serif tiap jenis huruf pun dapat berbeda-beda. Huruf-huruf masa lama (Old Style) seperti Garamond dan huruf-huruf masa transisi (Transitional) seperti Times New Roman misalnya, memiliki tangkai yang sudutnya lengkung. Sementara pada huruf-huruf masa modern seperti Bodoni, tangkainya bersudut siku. Ada lagi yang bersudut siku pula, tapi relatif tebal/tinggi. Contohnya Egyptian. Tipe serif seperti Egyptian kadang disebut slab serif. Beberapa huruf unik tertentu memiliki tangkai serif negatif, yaitu tangkai yang masuk ke sisi dalam kaki sehingga ujung kaki nampak lebih kecil dari batang kakinya.

Skrip dan Dekoratif

Selain serif dan sans serif, ada pula jenis huruf “sambung” dan huruf “gaya bebas.” Huruf sambung atau script bisa juga Anda sebut “huruf tulis tangan” (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Atau bisa juga disebut “huruf undangan” karena hampir selalu hadir di kartu-kartu undangan karena dipandang indah dan anggun. Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat “melingkar-lingkar”. Sementara huruf “gaya bebas” mencakup segala macam jenis huruf “aneh” lain yang sulit dikategorikan dalam ketiga kategori lainnya. Kadang huruf ini bisa diinspirasi dari bentuk geometris tertentu, memadukan gambar atau pola tertentu, dan sebagainya. Di komputer juga dikenal font-font “wingdings-like” yang sebenarnya adalah clipart. Tiap hurufnya murni berupa ikon atau gambar, bukan huruf.

Umumnya jenis-jenis huruf skrip dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Untuk tulisan lebih lengkap tentang klasfikasi tipe silakan baca pada tutorial klasifikasi font dalam tipografi.

Font Family

Font Family pada Tipografi digunakan untuk menyamakan karakteristik font sehingga menjadi satu kesatuan rumpun keluarga. Mungkin Anda perna melihat atau mengetahui ada font yang namanya hampir sama (hanya berbeda nama akhir saja, misalnya), nah itulah yang dinamakan font family. Kegunaan font family ini akan terasa ketika kita menggunakannya dalam sebuah layout majalah, koran atau buku. Menyinggung readability dan legibility dalam sinkronisasi kesamaan visual. Ikuti artikel ini lebih lengkap pada pembahasan Font family.

Anatomi

Huruf pada Tipografi dipakai sebagai pengidentifikasi klasifikasi font juga untuk membuat font baru. Langkah awal untuk mempelajari tipografi adalah mengenali atau memahami anatomi huruf. Gabungan seluruh komponen dari suatu huruf merupakan identifikasi visual yang dapat membedakan antar huruf yang satu dengan yang lain. Bisa Anda baca pada artikel Anatomi font/huruf dalam tipografi.

Type Measurement

Setelah Anda mengetahui bagian-bagian dari font atau sering disebut dengan anatomi font, maka Anda akan juga dikenalkan dengan type measurement. Pengukuran Huruf pada Tipografi membahas penggunaan point, pica, leading, kerning, tracking, baseline dan lain sebagainya. Type Measurement selain dipakai sebagai alat untuk mengatasi readability juga menangani legibility sebuah tulisan atau huruf sehingga nyaman dan mudah dibaca dengan susunan yang dapat diubah-ubah. Silakan baca artikel tersebut pada Type Measurement Pada Typografi.

Pemanfaatan Tipografi

Dalam sebuah buku (juga Koran maupun majalah) terdapat pengorganisasian halaman serta susunan organisasi dalam naskah. Dengan adanya pengorganisasian ini pembaca semakin mudah melihat alur pembacaan dan memudahkan dalam membaca. Bisa Anda baca lebih lengkap pada Pemanfaatan tipografi untuk layout majalah dan sejenisnya.

Readibilitas dan Legibilitas

Banyak orang bingung dan salah mengartikan kedua hal yang memang berkaitan ini. Readibilitas Legibilitas diatur pada penggunaan Nirmana sehingga sebuah huruf mudah dan nyaman dibaca dengan baik juga tersusun dengan baik pula. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya. Baca artikel lengkapnya pada legibilitas dan readibilitas dalam tipografi.

Mengidentifikasi Nama Font

Identifikasi Font untuk mengenal & mengidentifikasi font. Font apa ini, What the font, nama font ini apa ya atau semacamnya akan dijawab disini. Namun dalam hal kondisi tertentu, seperti yang kita sama-sama tahu bahwa jenis font itu ada jutaan, dan mustahil bagi seorang desainer mampu untuk mengenal kesemua font tersebut. Cek caranya pada artikel mengidentifikasi font.

Bahan Bacaan Kali Ini

Buku Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001, cukup layak dimiliki. Buku setebal 190 halaman ini dilayout cukup apik dan membahas sejarah singkat, dasar-dasar dan klasifikasi tipe, prinsip melayout secara tipografis, dan di akhirnya menampilkan katalog sekitar 13 buah tipe terkenal. Secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang buku tipografi terbaik di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kekurangan seperti tidak adanya glosari maupun indeks. Beberapa gambar dalam artikel ini diambil dari buku tersebut.

Situs. Microsoft typography, http://www.microsoft.com/typography/. Microsoft, percaya atau tidak, adalah salah satu perusahaan yang berperan dalam mengembangkan teknologi tipe digital. Bersama Apple akhir tahun 1980-an, Microsoft membawa teknologi font vektor TrueType ke PC maupun Mac. Dan karena spesifikasi TrueType dipublikasikan, maka banyak font-font baru yang murah bermunculan. Microsoft pun banyak membuat font dan membagikannya gratis—sebagian dibundel langsung bersama sistem operasi dan sisanya dapat didownload dari situs tipografinya. Khusus untuk Web, Microsoft membayar beberapa desainer beken untuk merancang antara lain tipe Verdana (sans) dan Georgia (serif). Kedua tipe ini didesain khusus agar mudah terbaca di layar komputer, antara lain dengan cara membuat bagian x-height (perut) relatif besar. Bagi yang belum mempunyai kedua font tersebut, saya anjurkan mengambilnya dari situs Microsoft.

Daftar pustaka Tutorial Tipografi

www.microsoft.com/typography/
Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001

sumber : http://www.ahlidesain.com/tutorial-tipografi.html

 

ILMU GRAFIS TIPOGRAFI

Ilmu Grafis Tutorial Tipografi Type Measurement atau Pengukuran Huruf pada Tipografi membahas penggunaan point, pica, leading, kerning, tracking, baseline dan lain sebagainya. Type Measurement selain dipakai sebagai alat untuk mengatasi readability juga menangani legibility sebuah tulisan atau huruf sehingga nyaman dan mudah dibaca dengan susunan yang dapat diubah-ubah.

Sistem pengukuran atau type measurements ini dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Relative Measurement

Tiga dasar sistem pengukuran Relative Measurement dalam tipografi adalah: point (biasa disingkat dengan pt), pica (dibaca: paika), dan unit. Point digunakan untuk mengukur tinggi huruf, sedangkan pica digunakan untuk mengukur panjang baris. Pengukuran dari lebar persatuan huruf serta jarak antar huruf dihitung dengan satuan unit.

Secara umum gambar type measurements

Perhitungan unit hanya digunakan dalam proses yang menggunakan teknologi phototypesetting dan digital composition – teknologi yang digunakan untuk pengetikan dan pencetakan huruf agar dapat mendapatkan hasil cetak yang tajam dan presisi. Pada tahun 1737, Pierre Fournier, seorang pembuat huruf (type founder) dari Paris menemukan sistem pengukuran huruf dalam satuan point.

Gambar Relative Measurements

Sistem pengukuran huruf yang lain diperkenalkan 40 tahun kemudian oleh Francois Ambroise Didot dari Perancis. Acuan yang dipakai sekarang adalah sistem Anglo-Saxon dengan perhitungan 72 pt setara dengan 1 inch atau 2,539 cm. Sistem pengukuran tipografi tersebut berawal dari teknik cetak movable type yang pada perkembangan berikutnya diciptakan standarisasi pengukuran dan satuannya

2. Spacing Measurement

Secara umum gambar spacing measurements

Didalam Spacing measurement ini digunakan satuan pengukuran, yaitu :

Kerning
Pengukuran jarak antar huruf (kerning) dalam phototypesetting dan digital composition dihitung dengan sistem unit. Sistem ini tidak memiliki acuan pengukuran yang tetap, dalam pengertian bahwa unit memiliki nilai yang berbeda-beda tergantung kepada sistem yang digunakan. Em berupa kotak seukuran besarnya huruf, kemudian bila kotak ini dibagi menjadi beberapa segmen yang sama besar, maka setiap segmen ini disebut sebagai unit. Sebuah huruf ‘U’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 6 unit.

 

Leading
Pengukuran jarak antarbaris (leading) dihitung dengan menggunakan satuan point. Teknik tradisional memakai lembaran metal yang disisipkan di antara baris. Lembaran metal ini memiliki ketebalan yang beragam.

 

Tracking
Pengukuran jarak antar huruf dalam satu kata, kalimat atau tulisan tertentu.

Baseline Shift
Sebuah baseline shift digunakan untuk mengukur jarak antara huruf dan basline (letak paling bawah dari sebuah huruf, biasanya membentuk garis) ke atas atau kebawah

 

Left Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kiri

 

Center Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata tengah

Right Align
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kanan

Justify
Pengukuran huruf yang memungkinkan sebuah tulisan dapat menjadi rata kiri dan kanan

 

Sumber : http://www.ahlidesain.com/type-measurement-atau-pengukuran-huruf-pada-tipografi.html

 

Ilmu Grafis Tutorial Tipografi Pentingnya Tipografi dalam Readibilitas Legibilitas diatur pada penggunaan Nirmana sehingga sebuah huruf mudah dan nyaman dibaca dengan baik juga tersusun dengan baik pula. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

Ketika seseorang berbicara kepada orang lain, sesungguhnya orang tersebut sedang melafalkan beberapa lambang bunyi yang arti dan maknanya telah disepakati bersama. Lambang bunyi, dalam konteks ini, divisualkan dalam bentuk simbol-simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dimengerti maksudnya. Dalam peradaban modern, lambang bunyi yang berbentuk huruf memiliki peranan penting dalam sebuah proses komunikasi antarmanusia.

Huruf dan tipografi dalam perkembangannya menjadi ujung tombak guna menyampaikan pesan verbal dan pesan visual kepada seseorang, sekumpulan orang, bahkan masyarakat luas yang dijadikan tujuan akhir proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan atau target sasaran.

Legibility adalah tingkat kemudahan mata mengenali suatu tulisan tanpa harus bersusah payah. Hal ini bisa ditentukan oleh:

  1. Kerumitan desain huruf, seperti penggunaan serif, kontras stroke, dan sebagainya.
  2. Penggunaan warna
  3. Frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Dalam buku The Graphics of Communication, Francis Meynell, seperti dikutip oleh Ruari Maclean mengatakan tentang legibility sebagai berikut:

By legibility, I mean a proper observance in all infinite detail of that principle of order and conversion which is the basis of written communication. Printing is the vehicle, legibility is the well-greased bearinng that allows the whells of sense to revolve without squelling.

Legibility adalah tampilan yang layak atau pantas dari dasar-dasar aturan dan kebiasaan dalam semua detil/rincian yang tak terbatas dan menjadi dasar komunikasi tertulis. Cetakan adalah kendaraan/sarana keterbacaan adalah peluru sendi yang dilumasi dengan baik sehingga memungkinkan roda-roda perasaan berputar tanpa berdecit.

Keterbacaan / readability adalah tingkat kenyamanan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh:

  1. Jenis huruf
  2. Ukuran
  3. Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya
  4. Kontras warna terhadap latar belakang

 

Huruf dan tipografi merupakan soko guru tunggal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Banyak orang sudah melek huruf, sudah pasti mengenal lambang bunyi tersebut. Mereka sudah pasti dapat mengeja, membaca, dan menuliskan lambang bunyi itu untuk berbagai kepentingan dan keperluannya masing-masing. Tetapi tidak sedikit yang buta tipografi. Mengapa demikian? Karena tipografi senantiasa terkait dengan tatasusun, tatakelola, dan tatapilih huruf untuk kepentingan komunikasi visual.

Sementara itu, perkawinan antara tipografi dengan nirmana merupakan sebuah perkawinan agung. Keduanya diyakini sebagai pasangan kinasih yang tidak bisa dipisahkan oleh ruang dan waktu. Dalam hubungannya dengan desain komunikasi visual, tipografi dan nirmana adalah elemen penting yang sangat diperlukan guna mendukung proses penyampaian pesan verbal maupun visual.

Meski nirmana dipahami sebagai sebuah bentuk yang tidak berbentuk. Dalam konteks desain komunikasi visual, nirmana memegang peranan penting perihal bagaimana menata dan menyusun elemen dasar desain komunikasi visual . Peranan penting lainnya, di dalam nirmana mensyaratkan tatasusun dan tatakelola unsur desain komunikasi visual dalam sebuah perencanaan komposisi yang serasi dan seimbang di dalam setiap bagiannya.

Huruf yang telah disusun secara tipografis dengan mengedepankan konsep harmonisasi nirmana merupakan elemen dasar dalam membentuk sebuah tampilan desain komunikasi visual. Keberadaannya diyakini mampu memberikan inspirasi untuk membuat suatu komposisi yang menarik, persuasif dan komunikatif.

Dengan demikian, keberadaan tipografi dalam rancangan karya desain komunikasi visual sangat penting. Sebab melalui perencanaan dan pemilihan tipografi dalam perspektif nirmana yang tepat baik untuk ukuran, warna, dan bentuk, diyakini mampu menguatkan isi pesan verbal dan pesan visual karya desain komunikasi visual tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka ketika desainer komunikasi visual mahir menguasai tipografi dan nirmana untuk dipergunakan menyampaikan informasi yang bersifat sosial ataupun komersial, maka sejatinya sang desainer tersebut mampu memposisikan dirinya menjadi kurir komunikasi (visual) yang bertanggung jawab kepada masyarakat luas yang dijadikan target sasaran.

Dengan menjadi kurir komunikasi yang baik – berkat pemilihan tipografi yang tepat dengan mengedepankan aspek readibilitas (dipengaruhi oleh ukuran huruf, jarak antarhuruf, dan jarak antarbaris yang terlalu dekat atau jauh) dan legibilitas (dipengaruhi oleh kerumitan desain huruf, penggunaan warna, tinta, dan kertas) yang akurat – maka masyarakat luas tidak akan terjebak pada perkara-perkara atau kasus-kasus mengarah pada belantara perbedaan persepsi yang akan menimbulkan bencana miscommunication!

Sumber : http://www.ahlidesain.com/pentingnya-tipografi-dalam-readibilitas-legibilitas.html

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: